Maharku Mukenah Dan Surat Dari Al-Qur’an

Teduh.Or.Id – Babak baru dalam hidup akan berawal di waktu memasuki jenjang pernikahan, semua nampak begitu indah dan terbayang masa-masa yang datang menjelang, masa yang dipenuh hari-hari indah penuh tawa dan kehangatan.

Akan tetapi, hal tersebut bisa jadi tak dimiliki oleh para pemuda sekarang. Pernikahan kini seakan menjadi momok dalam naungan kemapanan. Dalam benaknya, menikah adalah soal kemapanan. Untuk berani meminang bukan sekedar nyali, namun butuh akan mapan. Maka, jadilah pemuda masa kini, merintis karir, menaklukkan jenjang kerja, menyingkirkan tantangan, dan menghancurkan penghalang demi menjadi mapan hingga akhirnya usia terus lari berkurang. Dan, itu semua terjadi tanpa sadar, sebab yang dilihat bukan sekedar waktu melainkan label mapan yang diinginkan.

Waktu tidak akan berhenti menunggu siapa pun untuk tetap menjadi muda dan kuat, untuk menjadi terus belia dan tetap jelita, semua akan tergerus seiring jalannya waktu hingga akhirnya ketika benteng mapan itu telah berdiri, maka pada saat yang sama, cinta suci gadis itu telah dipinang oleh orang lain dengan mahar hanya sebuah mukenah dan satu surat Al-Qur’an.

Taka ada yang salah, kesederhanaan mahar seorang wanita adalah penanda keberkahan yang ada pada dirinya, ini mengingatkan kita dengan sabda Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam dari Aisyah Ummul Mukminin Radhiyallahu Anha , Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: “wanita yang paling agung keberkahannya adalah yang paling mudah biayanya (mahar)”. (HR: Al-Baihaqi dan Annasa’i dalam Sunan Al-Kubra, Sanadnya Dha’if namun ada riwayat lain dalam Musnad Ahmad yang semakna dengannya dan di Hasankan oleh Syaikh Al-Albani di Irwa’ul Ghalil.)

Maka bukanlah satu cela dan layak dipandang sebelah mata atas sikap dan ketegasan seorang wanita yang telah rela dipinang dengan mukenah dan surat dari Al-Qur’an, bahkan sebaliknya hal ini sangat perlu mendapatkan dukungan sehingga pernikahan muda-mudi kaum muslimin dapat terselenggara dengan cepat dan mudah sehingga angka perzinahan yang terhasil dari pacaran dapat ditekan.

Kesederhanaan seorang wanita adalah benih kebaikan suatu rumah tangga, karena kemampuan seorang lelaki sebagai pencari dan penyedia kebutuhan dan tuntutan hidup juga terbatas, tidak selamanya seorang suami selalu dalam keadaan sehat dan ini adalah indikasi termudah untuk memahami bahwa sifat sederhana sangat penting dalam rumah tangga. Lihatlah kesederhanaan Isteri Nabi Ibrahim Alaihissalam yang rela ditinggalkan oleh suaminya disatu tempat yang tak subur ketika itu ia bersama anaknya saat masih dalam usia susuan. Sungguh di dalam kisahnya terdapat berjuta hikmah bagi siapa saja yang mau memikirkannya.

Gaya “asal mau harus ada” bukanlah perilaku yang dianjurkan dalam Islam, walau sekalipun ada kemampuan untuk melakoninya, terlebih lagi jika tidak mampu untuk mewujudkannya, maka bisa runyam akibatnya. Betapa banyak kasus dan realita membuktikan bahwa terkadang kejahatan mulai dari begal sampai korupsi ternyata didalangi oleh gaya tersebut. Sementara kemampuan nol besar. Dan betapa banyak kasus dan realita membuktikan bahwa terkadang kejahatan mulai dari teror menghalalkan segala cara sampai kesombongan ternyata didalangi oleh gaya “asal mau harus ada”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.