Liburan Akhir Pekan di Pusat Perbelanjaan

Akhir pekan di kota besar seperti Jakarta itu identik dengan kemacetan. Belakangan efek yang sama juga dirasakan kota satelit di sekitarnya, seperti Tangerang dan Bekasi. Banyak orang yang sudah lelah letih bekerja melewati jalanan macet, masih bersemangat pula menjalaninya di akhir pekan. Pertanyaan pun muncul, sebenarnya ingin kemana sih orang-orang yang memenuhi jalanan kota ini pergi?

Mal. Ya, mal atau pusat perbelanjaan sejenis merupakan salah satu jawaban paling mudah dan masuk akal yang bisa dilemparkan. Ratusan ribu hingga jutaan orang menjadi pengujung rutin mal pada akhir pekan. Apalagi jika sedang ada momen tertentu bertepatan dengan hari raya atau kalendar libur nasional. Salah satu mal di daerah Kelapa Gading pernah mencatat kunjungan hingga 200.000 orang saat Lebaran dan 195.000 orang ketika momen Natal. Bila dikalkulasi dalam hitungan bulan mal tersebut bisa dikunjungi hingga lebih dari 2 juta orang. Hal yang sama terjadi pada beberapa mal besar di kawasan lain Jakarta. Jutaan orang berkunjung rutin ke mal. Luar biasa!

Minimnya lahan terbuka hijau seperti taman atau tempat wisata alam yang memadai di Jakarta dan sekitarnya, menjadi salah satu alasan orang akhirnya menghabiskan waktu libur akhir pekan di mal. Nyatanya hal itu disiasati pihak developer dengan menawarkan mal berkonsep go green bagi yang ingin sekedar menipu mata menikmati dunia. Meski sebagian orang yang berkantong tebal bisa memilih liburan ke luar kota menikmati suasana asri alami seperti di daerah Bogor atau bahkan Bandung.

Lalu kegiatan apa yang umumnya dilakukan di mal? Selain aktivitas konsumtif mengeluarkan uang untuk berbelanja, mal masa kini memiliki sudah dilengkapi area rekreasi keluarga, tempat bermain bagi anak-anak, serta tempat hang out mumpuni bagi para sosialita. Pengelola akan berusaha membuat pengunjungnya menghabiskan sebanyak mungkin waktu di mal, yang artinya semakin besar pula kemungkinan pengunjung itu menghabiskan uangnya di sana.

Padahal sudah lazim diketahui bahwa mal adalah bentuk modern dari sebuah pasar, dimana di dalamnya banyak terjadi kegiatan jual beli yang juga ditemui pada sebuah pasar tradisional. Dan sebagai muslim semestinya kita tahu bahwa berlama-lama di pasar bukanlah perbuatan yang baik. Apalagi bila itu dilakukan untuk sekedar hang out yang tidak jelas tujuannya.

Dalam sebuah riwayat sahih Ibnu Hibban, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memberikan jawaban yang didapat dari Malaikat Jibril ketika ditanya mengenai tempat paling baik dan tempat paling buruk. Dimana beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memberitahukan bahwa sebaik-baik tempat adalah masjid dan seburuk-buruk tempat adalah pasar.

Dengan mengetahui tentang riwayat hadis di atas, rasanya sudah cukup menjelaskan bahwa alangkah baiknya bila waktu yang dihabiskan ketika berkunjung ke mal itu seperlunya saja. Bila keperluan telah selesai maka segera pergi dari tempat tersebut.

Lalu bagaimana bila kita terpaksa harus menghabiskan banyak waktu di mal? Sudah jelas bahwa Islam tidak melarang orang-orang untuk bepergian ke mal atau pasar. Bisa dilihat dari banyaknya kaum muslimin yang menjadi pedagang dan berjualan di mal, juga banyak pembeli yang mencari barang beliannya di mal. Namun alangkah baiknya jika hal itu dilakukan dengan tetap melihat kepada adab yang datang dari syariat Islam. Salah satunya dengan mengucap zikir ketika hendak masuk ke mal atau pasar.

Dari ‘Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Barangsiapa yang masuk pasar kemudian membaca (zikir), Laa ilaha illallah wahdahu laa syarika lah, lahul mulku wa lahul hamdu, yuhyii wa yumiit, wa huwa hayyun laa ya yamuut, bi yadihil khoir, wa huwa ‘ala kulli sya-in qodiir (- Yang artinya- Tiada sembahan yang benar kecuali Allah semata dan tiada sekutu bagi-Nya, milik-Nyalah segala kerajaan/ kekuasaan dan bagi-Nya segala pujian, Dialah yang menghidupkan dan mematikan, Dialah yang maha hidup dan tidak pernah mati, ditangan-Nyalah segala kebaikan, dan Dia maha mampu atas segala sesuatu]”, maka Allah akan menuliskan baginya satu juta kebaikan, menghapuskan darinya satu juta kesalahan, dan meninggikannya satu juta derajat (-dalam riwayat lain berbunyi- dan membangunkan untuknya sebuah rumah di surga, -red.)). [HR at-Tirmidzi [No. 3428 dan 3429], Ibnu Majah (No. 2235), Ad-Daarimi (No. 2692) dan Al-Hakim (No. 1974) dari dua jalur yang saling menguatkan. Dinyatakan hasan oleh Imam Al-Mundziri [Dinukil oleh Al-Mubarakfuri dalam kitab Aunul Ma’bud: 9/273] dan syaikh al-Albani dalam kitab Shahihul Jaami [No. 6231]]

Salah satu ulama Ahlu Sunnah, Imam ath-Thiibi mengatakan bahwa barangsiapa yang berzikir kepada Allah (ketika berada) di pasar maka dia termasuk ke dalam golongan orang-orang yang Allah Ta’ala berfirman tentang keutamaan mereka (yang artinya),”Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingat Allah, mendirikan shalat, dan membayarkan zakat. Mereka takut pada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang. (Mereka mengerjakan yang demikian itu) supaya Allah memberi balasan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan, dan supaya Allah menambah karunia-Nya kepada mereka. Dan Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa batas.” [QS an-Nuur: 37-38]

Ubah Destinasi Liburan Kita

Hal lain yang menjadi ironi adalah bila melihat pada jumlah pengunjung mal di atas. Sebuah ironi ketika membandingkannya jumlah kaum muslim yang hadir di masjid, di waktu yang sama, di wilayah yang sama, belum tentu mencapai angka jutaan tiap bulannya. Seolah menunjukkan bahwa kaum muslim di Indonesia sudah kehabisan tempat untuk mencari tempat melepaskan penat yang lebih hakiki dari kesibukan di dunia. Akhirnya menjadikan mal sebagai persinggahan mereka dalam menghabiskan waktunya.

Di era teknologi seperti ini, bila sedikit saja kita berusaha mencari tempat singgah yang lebih baik dari mal untuk mengisi liburan di akhir pekan, tentu akan mudah menemukannya. Berbekal bantuan mesin pencari internet, akan ditemukan yang namanya kajian Islam. Kajian yang tersebar di masjid-masjid di seluruh pelosok kota. Dan bila kita mengetahui keutamaan yang ada di dalamnya boleh jadi akan bertambah-tambah hasrat ingin mendatanginya.

Menghadiri kajian Islam akan membawa kita pada usaha untuk selalu berzikir mengingat Allah, Tuhan semesta alam. Karena hanya dengan mengingat Allah, kita akan menjadi tenang, jauh dari rasa galau maupun keresahan menghadapi permasalahan hidup di dunia. Jauh berbeda bila yang didatangi adalah mal, hiruk pikuk suara musik memenuhi telinga, pria dan wanita berbusana minim dapat melalaikan mata dan hati kita. Hingga bagi sebagian orang, bepergian ke mal menjadi sebuah usaha temporer untuk melupakan beban hidupnya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah ada suatu kaum yang duduk untuk berzikir kepada Allah Ta’ala melainkan malaikat akan meliputi mereka dan rahmat akan menyelimuti mereka, dan akan turun kepada mereka ketenangan, dan Allah akan menyebut-nyebut mereka di hadapan para malaikat yang ada di sisi-Nya.” [HR. Muslim]

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “Apabila kalian melewati taman-taman surga maka singgahlah.” Maka para sahabat bertanya, “Apa yang dimaksud taman-taman surga itu wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Halaqahhalaqah zikir, karena sesungguhnya Allah Ta’ala memiliki malaikat yang berkeliling untuk mencari halaqahhalaqah zikir. Apabila mereka datang kepada orang-orang itu, maka mereka pun meliputinya.” [HR. Abu Nu’aim dalam Al Hilyah dan dihasankan oleh Syekh Salim dalam Shahih Al Adzkar, Hal. 16]

Bayangkan apa yang bisa kita dapatkan dengan menghadiri kajian-kajian Islam yang di sana kita akan bertemu dengan para perindu surga. Belum lagi rahmat dari Allah yang dengannya kita mendapatkan ketenangan dalam menjalani hidup. Hal tersebut tidak akan sebanding dengan ‘pelarian sementara’ ke mal atau tempat wisata alam lainnya. Selain itu, kajian-kajian Islam yang ilmiah dapat mengajak kita untuk selalu merenungi tujuan hidup kita di dunia dan mempersiapkan bekal perjalanan kehidupan yang kedua.

Pada akhirnya, memang tidak ada larangan untuk bepergian atau mengisi liburan di mal. Tidak ada salahnya juga bila ada dana berlebih dan memilih destinasi wisata alam di puncak atau semisalnya. Namun janganlah menjadikan hal tersebut sebagai sebuah rutinitas akhir pekan yang turut berperan menambah kemacetan di jalanan. Selagi masih ada waktu dan kesempatan di dunia, alangkah baiknya bila kita tentukan destinasi terbaik dari banyak pilihan yang ada. Sebuah tujuan sementara untuk bekal destinasi akhirat yang selamanya. Semoga bermanfaat.

Wallahu ‘alam bi shawwab

Oleh: Dimas Ronggo

Sumber rujukan:

http://muslim.or.id/doa-dan-wirid/dzikir-ibadah-yang-sangat-agung.html

http://muslim.or.id/hadits/keutamaan-berdzikir-ketika-masuk-pasar.html

http://properti.kompas.com/read/2013/12/31/1137574/Mal.Terpopuler.di.Jakarta.Dikunjungi.200.000.Orang.

Sumber gambar: http://static.panoramio.com/photos/large/74513747.jpg

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.