LGBT Lebih Keji Dari Zina

Sebagai sumber yang dijadikan sebagai tempat kembali dan merupakan wujud sistem bernegara yang dijunjung, demokrasi kembali melahirkan satu keputusan yang menyelisihi kodrat dari pencetus demokrasi itu sendiri. Keputusan legalnya nikah sejenis di beberapa negara  yang akhirnya diikuti pula oleh negara produser film porno, Amerika Serikat, cukup membuat kaget mereka yang masih normal dan sehat akalnya secara umum, terlebih kaum muslimin.

Alasan Hak Asasi Manusia yang semestinya tak pantas dijadikan alasan disinyalir telah mampu memaksa palu hakim Negara tempat bercokolnya Hollywood tersebut menetapkan secara legal nikah sejenis.

Sampai sejauh itulah manusia-manusia pembelot membuat kerusakan dan semua itu bersumber dari ketiadaan Iman mereka atas keesaan Allah dan kenabian Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam. Sehingga dengan sombong dan congkaknya mereka merasa mampu hidup dengan baik dan tenang walau tanpa Agama. Akhirnya mereka membenarkan semua jalan dan cara walau harus dengan mengorbankan jiwa manusia dan bahkan kodrat kemanusiaan itu sendiri.

Namun sangka itu keliru, sangka bahwa manusia dapat hidup dengan baik tanpa Agama adalah kekeliruan besar kaum liberalis dan lainnya,  pembunuhan keji yang terjadi di berbagai tempat di Amerika masih menjadi masalah serius yang tak dapat mereka pecahkan, sebelumnya penembakan di bioskop yang sangat tak masuk akal lalu di susul dengan penembakan di gereja baru-baru ini adalah sebagai bukti nyata kegagalan Tuhan baru yang mereka sembah yang mereka beri nama Demokrasi.

Nikah sesama jenis mengancam keberlangsunagan manusia di bumi, andai kata 70 % penduduk bumi ini Gay dan Lesbi lalu dari manakah generasi manusia akan terlahir ? tentunya wanita tidak akan hamil hanya dengan tidur sesama jenisnya, juga demikian halnya dengan pria.

Sewa rahim mereka anggap sebagai jalan keluar untuk memiliki anak padahal ibu yang telah melahirkan orang-orang sakit tersebut pun belum tentu akan rela dan mau rahimnya disewa disamping juga kaum wanita memiliki hak asasi manusia untuk menolaknya.

Syariat Islam yang mulia sungguh sangat Maha Bijaksana telah mengharamkan perbuatan nikah sesama jenis ini sehingga martabat dan kemuliaan manusia menjadi terjaga dan lestari. Dan bahkan semua Syariat para Nabi sebelumnya melarang keras terhadap prilaku Gay dan Lesbi. Allah berfirman dalam Al-Qur’an menceritakan bagaimana Nabi Luth Alaihis Salam menasehati kaumnya :

وَلُوطًا إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ أَتَأْتُونَ الْفَاحِشَةَ مَا سَبَقَكُم بِهَا مِنْ أَحَدٍ مِّن الْعَالَمِينَ (80) إِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ الرِّجَالَ شَهْوَةً مِّن دُونِ النِّسَاء بَلْ أَنتُمْ قَوْمٌ مُّسْرِفُونَ (81

Artinya: “Dan Luth ketika dia menyeru kaumnya, ‘bagaimana bisa kalian melakukan Fahisyah (zina dan tidak senonoh) yang tiada seorang pun dari alam ini yang mendahului kalian melakukannya”.

Nabi kita Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam juga bersabda:

إن أخوف ما أخاف على أمتي عمل قوم لوط

 Artinya: “Sesungguhnya yang paling aku takutkan dari apa apa yang aku takutkan atas ummatku adalah perbuatan kaum Luth”. HR: Tirmidzi dan Ibnu Majah dan dinilai Hasan oleh Al-Albani)

Ungkapan kekhawatiran Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam dalam Hadits tersebut bermakna sebagai peringatan dan warning keras kepada ummat ini – sebagaimana halnya beliau takut terhadap ummatnya berbuat Riya’ – yang artinya juga adalah akan ada di antara ummat ini secara personil tertentu yang akan jatuh ke dalam kubangan noda LGBT .

Dan bahkan perbuatan kaum Luth (homosexual) lebih buruk dan nista dari Zina oleh sebab itulah para Shahabat bersepakat memberikan hukuman mati atas pelaku dan objeknya (sama-sama suka) tanpa membedakan antara sudah menikah ataukah belum seperti halnya pada hukuman Zina, hal ini sebagaimana yang telah disebutkan oleh Syaikhul Islam Ibn Taimiyyah.

Homosexual menurut Ibnul Hajj Al-Maliky (Wafat. 529 H.) memiliki tiga tingkatan, dan berikut kami ringkaskan simpulan ketiga tingkatan tersebut

  1. Memandang dengan Syahwat kepada sesama jenis wabil Khusus kepada anak yang belum tumbuh bulu bulu di wajah dan sebagian badannya (Amrodul Hasan) hukumnya adalah Haram
  2. Menikmati lawan jenis dengan memeluk, mendekap, merangkul atau juga dengan bergesekan
  3. Melakukan hal intim (memasukkan kemaluan ke daerah intim)

Dua point di atas walau pun belum sampai kepada berbuat yang inti, namun hukumnya tetap Haram disisi para Ulama. Maka tidak kata yang pantas untuk pelaku dan para pembela GLBT selain kata “Tidak”.

Dikutip dan diterjemahkan sebagiannya dari

http://fatwa.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&lang=A&Id=28167

By : Abu Affaf Musamulyadi Lukman