Lebih Afdhal Mana, Dzikir Dengan Tasbih Atau Jari?

Dzikir adalah perintah dan anjuran yang ada dalam Al-Qur’an dan Hadits , Allah berfirman;

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اذْكُرُوا اللّٰهَ ذِكْرًا كَثِيْرًاۙ

Wahai orang-orang yang beriman! Ingatlah kepada Allah, dengan mengingat (nama-Nya) sebanyak-banyaknya, (QS: Al-Ahzab 41)

Diriwayatkan dari Abdullah bin Busr – Radliyallahu ‘Anhu – Nabi ﷺ pernah bersabda:

عن عبد الله بن بسر رضي الله عنه : أن رجلا قال يا رسول الله إن شرائع الإسلام قد كثرت علي فأخبرني بشيء أتشبث به قال لا يزال لسانك رطبا من ذكر الله

Sesungguhnya ada lelaki bertanya; “Ya Rasulallah – ﷺ – sesungguhnya syariat-syariat Islam sudah banyak atas diriku, maka ajarkanlah aku sesuatu yang bisa aku amalkan dengannya,” Rasulullah ﷺ bersabda; hendaknya tidak henti lisanmu basah dari berdzikir kepada Allah”. (HR: Attirmidzi, dan Ibnu Majah, Al-Albani menilainya Shahih)

Dzikir itu sendiri kalau dilihat dari jumlah kali dibaca, maka kita akan dapati bermacam-macam dan berbeda-beda, seperti misalnya disunnahkan membaca sebanyak 33 kali, dalam hadits disebutkan:

أفلا أعلمكم شيئا تدركون به من سبقكم وتسبقون به من بعدكم ولا يكون أحد أفضل منكم إلا من صنع مثل ما صنعتم ». قالوا بلى يا رسول الله. قال « تسبحون وتكبرون وتحمدون دبر كل صلاة ثلاثا وثلاثين مرة

Tidakkah aku ajarkan kalian sesuatu yang kalian dapat menyusul orang-orang yang telah mendahului kalian dan kalian mendahului orang-orang setelah kalian ? dan tidak akan ada seorang pun yang lebih utama dari kalian kecuali orang yang melakukan seperti yang kalian lakukan!?.” Mereka berkata; “Tentu kami ingin ya Rasulallah ﷺ “, Nabi bersabda; Kalian membaca Tasbih, dan membaca Takbir, dan membaca Tahmid pasca ujung setiap shalat sebanyak tiga pulh tiga (33) kali.” (HR: Muslim 1375 Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu.)

Untuk dapat mengetahui dengan tepat jumlah bacaan tiga puluh tiga kali tentu membutuhkan alat atau wasilah untuk menghitungnya, dan sudah kita ketahui yang paling populer adalah tasbih. Dan ada juga yang menghitung dengan ruas jari tangannya. Nah di antara kedua wasilah ini, manakah yang lebih utama untuk diamalkan?

Jawabannya adalah menghitung dengan rusa jari tangan, inilah yang lebih afdhal, karena cara inilah yang disebutkan dalam hadits, Nabi ﷺ bersabda;

 عليكن بالتسبيح والتهليل والتقديس واعقدن بالأنامل فإنهن مسئولات مستنطقات

“Hendaklah kalian (wahai kaum perempuan) ber-Tasbih, Tahlil, dan Taqdis, dan hitunglah dengan rusa jari maka sesungguhnya jari-jari itu akan ditanya dan akan bicara (bersaksi)” (HR: Attirmdzi).

Dan Nabi ﷺ sendiri menghitung bacaan Tasbih dengan jari kanan, dalam hadist disebutkan;

عن عبد الله بن عمرو قال رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم يعقد التسبيح – قال ابن قدامة – بيمينه.

Dari Abdullah bin ‘Amr beliau berkata; “Aku pernah melihat Rasulallah ﷺ mengakadkan bacaan tasbih – Ibnu Qudamah (ulama yang meriwayatkan hadits ini) beliau berkata: dengan tangan kanannya.” (HR: Attirmidzi, dan Abu Dawud, Al-Albani menilainya Shahih).

Syaikh Abdulaziz bin Baz – rahimahullah – menjelaskan ;

فالتسبيح بالأصابع أفضل وكان النبي ﷺ يعد في التسبيح والتحميد والتكبير بأصابعه -عليه الصلاة والسلام- وكان يأمر أن تعد هذه الأذكار بالأنامل -عليه الصلاة والسلام- وهذا هو الأفضل للمؤمن والمؤمنة أن يعد الأذكار بالأصابع وإن عدها بالنوى ………. أو بالحجر أو بغير ذلك أو بالسبحة فلا بأس

“Menghitung bacaan Tasbih dengan jari –jemari lebih Afdhal, dan Nabi ﷺ menghitung bacaan Tasbih, Tahmid, dan Takbir dengan jari-jemarinya, – ﷺ – dan Beliau ﷺ  memerintahkan agar dzikir-dzikir tersebut dihitung dengan ruas jari, dan inilah yang lebih Afdhal bagi seorang lelaki dan perempuan yang beriman, agar menghitung dzikir-dzikir dengan jari, dan jika ia menghitungnya dengan biji, atau batu, atau yang lain dari itu, atau dengan tasbih maka tidak mengapa.” [1] 

Demikian semoga bermanfaat.

—–

[1] Fatwa Syaik Ibnu Baz

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.