Larangan Shalat Sunnah Setelah Dua Rakaat Qabliyah Subuh

Teduh.Or.Id – Dua rakaat sebelum subuh adalah salah satu amalan yang memiliki keutamaan yang besar, Nabi ﷺ  bersabda:

ركعتا الفجر خير من الدنيا وما فيها

“Dua rakaat Fajar lebih baik dari pada dunia dan apa-apa yang ada di dalamnya”[1]

Nabi ﷺ senantiasa melakukan shalat sunnah ini, dan bahkan beliau sangat memperhatikannya, beliau bersabda:

لهما أحب إلى من الدنيا جميعا

“Benar-benar keduanya (yakni dua rakaat sebelum subuh) lebih aku sukai daripada dunia seluruhnya”[2]

Namun jika seorang ingin mendirikan shalat sunnah lagi setelah dua rakaat Qabliyah subuh, apakah ada anjurannya?.

Yang disebutkan dalam hadits bahwa Nabi ﷺ tidak melakukan shalat sunnah setelah waktu subuh tiba kecuali shalat sunnah dua rakaat qabliyah subuh saja;

 عن حفصة قالت كان رسول الله -صلى الله عليه وسلم- إذا طلع الفجر لا يصلى إلا ركعتين خفيفتين

Dari Ummulmukinin Hafshahradliyallahu ‘anha – beliau berkata; “Rasulullah ﷺ senantiasa apabila fajar telah terbit tidak shalat kecuali dua rakaat yang ringan”[3]

Nabi ﷺ juga bersabda:

لا صلاة بعد الفجر إلا سجدتين

“Tidak ada shalat setelah terbitnya fajar kecuali dua rakaat”

(Hadits ini dikeluarkan Ahmad, Abu Dawud, al-Tirmidzi, al-Daruquthniy, dari riwayat  Abu Alqamah, dari Yasar Maula ibnu Umar, dan Ibnu Umar.)

Al-Hafizh Ibnu Hajar Rahimahullah berkata:

ورواه البيهقي من حديث سعيد بن المسيب مرسلا وقال: روي موصولا عن أبي هريرة ولا يصح، ورواه موصولا الطبراني وابن عدي وسنده ضعيف، والمرسل أصح

“Dan hadits ini telah diriwayatkan al-Baihaqiy melalui riwayat Sa’id bin al-Musayyib secara Mursal dan beliau berkata: “Telah diriwayatkan secara Maushul dari Abu Hurairah namun tidak shahih, dan al-Thabraniy dan Ibnu Adiy telah meriwayatkannya secara Maushul namun sanadnya lemah, dan riwayat Mursal dalam hadits ini lebih shahih[4]

Al-AlBaniy Rahimahullah juga menilai hadits ini shahih dengan segenap Thuruqnya (jalan periwayatannya).[5]

Dan makna hadits ini menurut Imam Abu ‘Isa al-Tirmidziy ialah :

لا صلاة بعد طلوع الفجر إلا ركعتي الفجر

“Tidak ada (anjuran) shalat setelah fajar terbit kecuali dua rakaat (qabliyah fajar)”[6]

Dari itu, yang sesuai dengan cara Nabi ﷺ dalam perkara ini adalah tidak menambah shalat apa pun setelah seorang mendirikan shalat sunnah qabliyah subuh. Dan ini merupakan pendapat Mayoritas para ulama, mereka menyatakan Makruh hukumnya menambah shalat sunnah setelah qabliyah subuh.

Bahkan Imam al-Tirmidzi menukil Ijma’ atas hukum Makruh tersebut[7] , walau pun penukilan ini sendiri dinilai tidak benar oleh al-Hafizh Ibnu Hajar[8] Rahimahullah karena Ibnulmundzir telah menyebutkan adanya khilaf dalam masalah ini[9] dan menyebutkan adanya sekelompok ulama yang membolehkannya di antaranya al-Hasan al-Bashri, dan inilah yang dikuatkan Annawawi dari tiga Aujuh yang ada[10],

Namun meskipun bukan suatu al-Ijma’ akan tetapi pendapat mayoritas ulama lebih terdukung dengan kedua riwayat hadits di atas, bahwa Nabi ﷺ tidak pernah melakukan shalat sunnah sebelum subuh kecuali dua rakaat saja dan inilah cara yang mesti diikuti. Wallahu A’lam.

Al-Albaniy Rahimahullah berkata:

روى البيهقى بسند صحيح عن سعيد بن المسيب: أنه راى رجلاً يصلى بعد طلوع الفجر أكثر من ركعتين , يكثر فيها الركوع والسجود , فنهاه , فقال: يا أبا محمد! يعذبنى الله على الصلاة؟ ! قال: لا , ولكن يعذبك على خلاف السنة

“Al-Baihaqiy telah meriwayatkan dengan Sanad yang shahih dari Sa’id bin al-Musayyib: “Sesungguhnya beliau melihat seorang lelaki sedang shalat setelah fajar terbit lebih dari dua rakaat, orang ini memperbanyak di dalamnya (yakni setelah fajar terbit) rukuk dan sujud, maka beliau pun melarangnya, lelaki itu berkata; “Wahai Aba Muhammad apakah Allah akan menyiksa saya atas (perbuatan) Shalat ! , Beliau berkata: “tidak”, akan tetapi Allah akan menyiksamu atas penyelisihanmu terhadap Sunnah.”, beliau melanjutkan;

وهذا من بدائع أجوبة سعيد بن المسيب رحمه الله تعالى , وهو سلاح قوى على المبتدعة الذين يستحسنون كثيراً من البدع باسم أنها ذكر وصلاة , ثم ينكرون على أهل السنة إنكار ذلك عليهم , ويتهمونهم بأنهم ينكرون الذكر والصلاة! ! وهم فى الحقيقة إنما ينكرون خلافهم للسنة فى الذكر والصلاة ونحو ذلك

“Dan ini merupakan jawaban cerdas Sa’id bin al-Musayyib Rahimahullahu Ta’ala, jawaban ini senjata yang kuat melawan ahli bid’ah yang telah menganggap baik banyak bid’ah dengan nama bahwa itu adalah dzikir dan shalat, kemudian mereka mengingkari ahlussunnah dari pengingkaran mereka terhadap diri mereka, dan menuduh mereka bahwa mereka mengingkari dzikir dan shalat, mereka (ahlussunnah) sebenarnya hanya mengingkari penyelisihan mereka terhadap sunnah dalam dzikir dan shalat dan urusan yang semisal dengannya.”[11]

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وأصحابه وسلم


[1] Hadits Riwayat Muslim dari Ummulmukminin ‘Aisyah Radliyallahu ‘Anha (2/160)

[2] Hadits Riwayat Muslim (2/160)

[3] Hadits Riwayat Muslim (2/159)

[4] Al-Talkhishulhabir (1/342-343)

[5] Irwa’ulghalil (2/236) Takhrij Hadits No 478

[6] Sunan al-Tirmidzi (2/278)

[7] Sunan al-Tirmidzi (2/278)

[8] Al-Talkhishulhabir (1/343)

[9] Al-Ausath Karya Ibnulmundzir (2/399) al-Maktabah al-Syamilah

[10] Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Hajjaj (6/246) Cet. Darulmakrifah Bairut.

[11] Irwa’ulghalil (2/236) al-Maktabah al-Syamilah