Lapak Senjata Saat Perang Melanda

“Memancing di air keruh” atau “Menari di atas penderitaan orang lain” sebuah peribahasa yang barangkali sudah tak asing lagi ditelinga masyarakat kita, secara umum peribahasa ini memiliki makna bahwa maksud yang disampaikan adalah soalan perilaku serta perbuatan tercela dan memalukan.

Ada banyak cara dan usaha yang bisa ditempuh untuk meraih sesuatu, namun tidak dengan cara yang dapat merugikan hak orang lain. Islam tidak membenarkan secara mutlak kaedah (baca) “Al-Gooyah Tubarrirul Wasiilah” , artinya “Satu tujuan dapat menjadi pembenaran atas semua perantara” sebagaimana tidak benarnya secara utuh pepatah yang sudah sangat populer, “Banyak jalan menuju Roma”.

Satu tujuan yang haram tetaplah haram, maka perantara (wasilah) ke arah tujuan itu pun menjadi haram. Satu tujuan yang mulia (sunnah) adalah ajakan nan menganjurkan, sehingga usaha yang mengantarkan kepadanya pun menjadi serupa.

Mencoba memancing keuntungan dan menghimpun laba ditengah kecamuk perang antara kedua belah pihak kaum muslimin adalah terlarang, seperti menjual senjata atau pun menjual berita atau juga isu yang dapat merugikan salah satu dari kedua belah pihak kaum muslimin. Ini tidaklah jauh dari seperti yang disebutkan di atas, “memancing di air keruh” dan sewarna dengan tolong menolong dalam kemaksiatan.

“Tidak boleh menjual senjata di waktu terjadi fitnah antara kaum Muslimin, dan jika terjadi fitnah dan perang antara kaum muslimin lalu datanglah kepadamu seorang hendak membeli senjata, sementara dugaanmu lebih kuat bahwa orang tersebut menjualnya untuk memerangi kaum muslimin, maka haram atasmu menjual kepadanya”. Demikian yang kami petik dari Syarhul Mumti’ karya Al-Faqih Ibnu Utsaimin rahimahullah.

Berbeda halnya dengan menjual senjata kepada pihak kaum muslimin ditengah kecamuk perang antara mereka dan kaum musyrikin, meskipun keadaannya keruh namun memancing dalam situasi seperti itu tetap dibenarkan, yang menunjukkan kebolehannya adalah Hadits Riwayat Bukhari dari Abi Qatadah –radhiyallahu anhu– beliau berkata: “Kami pernah keluar (perang) bersama Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam- pada tahun Hunain, lalu Nabi memberikannya sebuah pakaian perang”. Lalu aku (Abu Qatadah) menjual pakaian perang tersebut, dan aku membeli sebuah kebun dari hasil penjualannya di Bani Salamah”.

Tidak ada sikap pengingkaran dari Nabi -shallallahu alaihi wasallam- atas apa yang dilakukan oleh Abu Qatadah -radhiyallahu anhu- yang menjual pakaian perangnya, hal tersebut menunjukkan adanya iqrar (ketetapan hukum) akan bolehnya hal itu, walhal ketika itu dalam situasi perang.

Oleh karena itulah Al-Hafidz Ibnu Hajar menjelaskan “bahwa Imam Bukhari mendatangkan hadits ini kemungkinan sebagai penjelas akan bolehnya menjual senjata disaat fitnah kepada orang yang tidak dikhawatirkan darinya kemudaratan, sebab Abu Qatadah menjual pakaian perangnya pada saat perang berkecamuk antara kaum muslimin dan musyrikin, sehingga Nabi shallallahu alaihi wasallam membenarkan hal tersebut. Dan dugaan yang kuat terhadap beliau (Abu Qatadah) adalah beliau tidak menjualnya kepada pihak yang akan membantu memerangi kaum muslimin, sehingga dapat disimpulkan faidah atas bolehnya menjual senjata pada saat perang kepada orang yang tidak ditakutkan darinya kerusakan”. (diterjemahkan dengan sedikit penyesuaian- pent).

Perang yang berkecamuk di Yaman adalah perang antara hak dan batil, dan tidaklah sulit melihat pihak yang batil dalam perang ini, Saudi Arabia dan negara lainnya yang mengirimkan pasukannya ke Yaman adalah pihak yang haq, sehingga tidaklah keliru menjual senjata kepada mereka dan menjadi terlarang menjual kepada musuhnya. Semoga Allah memenangkan mereka (Arab Saudi beserta koalisinya) atas musuh-musuhnya.

Oleh: Musa Mulyadi