Lalu Apa Tujuan Hidup Itu?

Kalau hidup itu hanya untuk makan, maka kera di hutan pun makan.

Kalau hidup itu hanya untuk kerja, maka kerbau di sawah pun kerja.

Buya Hamka

 

Teduh.Or.Id – Ketika seorang anak manusia mulai memasuki usia untuk berpikir dan merenung tentang untuk apa dia ada di pentas kehidupan ini? Apa gerangan tujuan dia hidup? Untuk apa dia terlahir di bumi ini? pertanyaan semacam itu kerap terbesit dan menggelayuti pikiran seseorang. Beragam jawaban atas pertanyaan ini perlahan akan mulai mendapatkan jawaban saat dia menemui dan menjalani hal-hal baru dalam kehidupannya.

Cobalah renungkan orang-orang yang telah tiada kini, dan pandangilah orang-orang yang saat ini telah berusia senja. Setidaknya dari mereka akan kita temukan rahasia dari pertanyaan di atas.

Hidup tak lepas dari makan, minum, tempat tinggal, cinta, menikah, sehat, sukses dan sejahtera di hari tua. Dan tak lupa pula hidup adalah mengumpulkan harta, berlibur dan perlombaan menjadi juara, mencari kekuasaan dan pengaruh.

Namun sayang pentasnya tak lama, kapan saja cahayanya bisa terhenti dan padam lalu tamat.

Lalu jika hidup seandainya di artikan hanya untuk itu, maka betapa naif dan tak berharganya hidup, sebab semua hal tersebut bisa diraih dan digapai walau pun dengan berbagai cara termasuk dengan cara yang tidak baik.

Jika hidup seandainya dimaknakan hanya begitu saja, maka betapa naif dan tak berharganya hidup. sebab binatang pun sejatinya hidup dalam cerita dan alur yang tak jauh beda dengan yang tersebut di atas. Bahkan binatang terkadang lebih dapat menjalaninya dengan lebih baik tanpa harus membuat kerusakan di muka bumi.

Ternyata keberadaan kita sangatlah berarti dan mulia, Allah Yang Maha Pencipta menjadikan kita ada bukan dengan kesia-siaan, namun dengan tujuan seutuhnya yang menjadi alasan kita ada sebagai manusia, yakni menyembah atau untuk beribadah kepada Allah.

Oleh karenanya Allah mengutus Nabi yang menunjuki kita agar tak salah jalan, juga Allah turunkan bersama Nabi tersebut kitab petunjuk sehingga setelah sang Nabi wafat dan selesai dari tugasnya, kelak kitab tersebut adalah sebagai pedoman untuk generasi manusia yang akan datang.

Lebih jauh, akhirnya kita menjadi mengerti, kenapa orang-orang itu menua dan mengapa orang-orang sebelum kita mati, bagai mata rantai yang masih terus berkait, beberapa kelahiran dan beberapa kematian. Bahwa ternyata hidup ini bukan tujuan sesungguhnya. Bagaimana bisa kita sebut ia sebagai tujuan, sementara ujungnya adalah menjadi tua dan kemudian mati? Sungguh tidak masuk di akal jika sesuatu yang tidak kekal menjadi tujuan.

Lalu hidup ini apa kawan? Saya, kamu dan mereka yang kini ada di planet bumi ini diberi kewajiban oleh Dzat yang menciptakan segala yang ada untuk melaksanakan ibadah kepadaNya. Semua kehidupan yang kita nikmati sekarang ini telah disediakan olehNya adalah sebagai pendukung agar saya, kamu dan mereka dapat melaksanakan kewajiban tersebut.

Bagai seorang musafir yang singgah sejenak dibawah teduhnya sebuah pohon dan selanjutnya mau tidak mau dia harus kembali berjalan menuju tujuan sesungguhnya. Perumpamaan itu adalah satu gambaran yang telah disabdakan oleh Nabi Utusan Allah. Sangat dalam dan akan menyadarkan hati siapa saja yang mau merenung dan berpikir.

Karena kita sebenarnya adalah keturunan penghuni surga, bapak kita Adam dan Ibunda kita Hawa, bukan hewan purbakala seperti yang diisukan oleh sebagian orang bodoh atas nama ilmu pengetahuan. Kini kita tengah dalam perjalanan pulang ke rumah yang telah dihuni oleh kedua orang tua kita. Allah tak ingin kita tersesat jalan sehingga tak menemukan rumah itu, Allah menyukai agar kita berjalan dalam tuntunan yang dapat mengantarkan kita ke rumah itu kembali.

Allah mencintai kita, ternyata Allah sangat mengasihi kita, tanpa meminta Allah menciptakan kita, tanpa sering memohon pun, Allah tetap memberi kita, dan kelak dengan banyak dosa dan salah pun Allah akan mengampuni kita kecuali yang tak bertaubat dari mempersekutukannya.

Itulah tujuanmu…