Kualat Karena Doa Orang Yang Teraniaya

Adalah seorang wanita bernama Arwa binti Uwais konon pernah menuntut Sa’id bin Zaid dalam urusan tanah. Arwa menuduh Sa’id bin Zaid telah mengambil beberapa bagian dari luas tanahnya. Sehingga urusan ini pun akhirnya sampai kepada Khalifah Abu Abdil Malik Marwan bin Al-Hakam.

Sa’id bin Zaid yang merupakan salah seorang dari sepuluh Shahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam – yang telah mendapatkan kabar gembira jaminan Surga (Al-Mubasy-syiruna Bil Jannah) – ini pun kemudian berkata didepan pengadilan Marwan bin Al-Hakam;

“Apakah layak aku mengambil sebagian tanahnya setelah sabda yang pernah aku dengarkan dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam?”

“Apakah sabda yang telah engkau dengar dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam itu?” tanya Marwan bin Al-Hakam.

Sa’id bin Zaid pun berkata: “Aku pernah mendengar Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Siapa saja yang mengambil sejengkal saja dari tanah orang lain secara lalim, kelak ditimpakan atasnya sampai tujuh lapis bumi.”

Mendengar ketegasan Sa’id bin Zaid ini,  tentu akan menggetarkan siapa pun, sebab ketegasan itu lahir dari seorang yang tidak diragukan lagi kasalehannya kepada Allah dalam menjaga hak-hak Allah dan RasulNya, terlebih beliau adalah salah satu dari shahabat Nabi yang telah mendapatkan Jaminan Surga.

Maka Marwan bin Al-Hakam lalu berkata kepadanya: “kalau begitu aku tidak akan menuntut Bayyinah (bukti) darimu.”

Menyadari dirinya dituduh dengan tuduhan berat, dan itu adalah satu bentuk kelaliman terhadap kehormatan dirinya, maka Sa’id bin Zaid pun lalu berdoa: “Ya Allah apabila perempuan ini telah berdusta dalam dakwaannya maka butakanlah matanya dan binasakanlah dia di atas tanahnya.”

Karena memang Sa’id tidak pernah mengambil apa pun dari tanah wanita tersebut, Doa Sa’id bin Zaid pun kemudian dikabulkan Allah. Wanita tersebut tidak mati sampai  sebelum matanya buta. Dan berselang lama dalam kebutaannya, pada satu saat ia berjalan di atas tanahnya sendiri, tiba-tiba ia terjatuh ke dalam sebuah galian dan mati. (Diceritakan ulang dari Hadits riwayat Muslim)

Kisah ini bukan dongeng, namun kisah nyata yang diceritakan dalam Hadits Shahih. ini telah membuktikan bahwa betapa doa orang yang terzalimi mendapatkan jaminan ijabah dari Allah ‘Azza Wajalla.

Lihatlah bagaimana hal ini juga telah ditegaskan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dalam sabdanya. Sebagaimana di akhir sebuah hadits disebutkan bahwa beliau pernah bersabda:

وَاتَّقِ دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ فَإِنَّهُ لَيْسَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ اللهِ حِجَابٌ.

 “Dan takutlah terhadap doa orang yang dizalimi sebab sesungguhnya tiada hijab yang menghalangi antara doa itu dengan Allah”. (HR: Bukhari dan Muslim)

Status orang yang dizalimi dalam bab ini, tidak terbatas hanya untuk orang yang muslim saja. Namun bahkan orang kafir pun apabila berdoa karena dizalimi niscaya Allah akan mengabulkannya, Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu menyebutkan sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam;

Artinya: “Doa orang yang dizalimi walau pun dia kafir, tiada hijab yang menghalanginya” (HR: Ahmad)

Di akhir kata, ingatlah ! kezaliman itu tercela walau bahkan engkau lakukan itu kepada orang kafir, atau terhadap binatang sekalipun , terlebih jika engkau perbuat kepada sesama Muslim. dan Allah telah meniadakan dalam dirinya sifat zalim dan menjadikan kezaliman itu sebagai satu tindakan yang diharamkanNya atas ummat manusia.

Musa Abu ‘Affaf