Kriteria Orang Yang Ditolak Menjadi Penguasa Dan Hukum Meminta Kekuasaan

 

Betapa tepatnya hadits ini sebagai nasehat untuk mereka yang gila kekuasaan dan jabatan yang tujuannya semata untuk kepentingan pribadinya belaka:

عن أبي موسى رضي الله عنه قال دخلت على النبي صلى الله عليه وسلم أنا ورجلان من قومي فقال أحد الرجلين أمرنا يا رسول الله وقال الآخر مثله فقال إنا لا نولي هذا من سأله ولا من حرص عليه

“Dari Abu Musa Radliyallahu ‘Anhu beliau berkata: Aku pernah menemui Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersama dua orang lelaki dari kaumku, seorang darinya berkata: “Ya Rasulallah jadikanlah kami pemimpin, dan yang lainnya pun berkata serupa dengannya, Maka Beliau bersabda: “Sesungguhnya kami tidak melimpahkan kekuasaan ini kepada orang yang memintanya dan tidak juga kepada orang sangat menginginkannya”[1]

Orang yang rakus dan tamak akan kekuasaan dan haus ingin berkuasa tidak layak dan tidak boleh kekuasaan tersebut diserahkan kepadanya, orang seperti ini tidak mendapatkan rekomendasi dalam Syari’at – seperti yang dijelaskan hadits di atas – dan tidak selaras menurut nalar sehat, sebab kepemimpinan hakikatnya adalah tanggung jawab, kalau bukan karena ada udang di balik batu, tentu dia tidak akan sedia memikul tanggung jawab dengan tanpa imbalan dan iming-iming duniawi?

Namun demikian, masalah meminta kepemimpinan tidaklah terkunci mati sampai disitu saja sehingga tidak ada jalan keluar ketika kita dihadapkan pada situasi buntu dan mendesak. Ketika tidak didapati orang yang layak dan berhak untuk memegang suatu amanah, maka seorang diperbolehkan mengajukan diri untuk memegangnya.

Allah berfirman:

  وقال الملك ائتوني به أستخلصه لنفسي فلما كلمه قال إنك اليوم لدينا مكين أمين (54) قال اجعلني على خزائن الأرض إني حفيظ عليم

“Artinya: Dan sang raja berkata: hadapkan ia (Nabi Yusuf) kepadaku aku ingin menjadikannya orang khusus untuk diriku, maka manakala ia berbicara kepadanya, ia (raja) berkata: Sesungguhnya hari ini engkau di sisi kami adalah orang yang Makiin dan terpercaya (54) Ia (Nabi Yusuf) berkata: Jadikanlah aku pengelola atas Khaza’inilardl (pundi-pundi kekayaan bumi) yang kau miliki, sesungguhnya aku seorang penjaga yang alim”. (QS: Yusuf 54-55)

Imam Al-Qurthubiy Rahimahullah berkata:

ودلت الآية أيضا على جواز أن يخطب الإنسان عملا يكون له أهلا

“Dan Ayat ini menunjukkan juga atas bolehnya meminang suatu pekerjaan yang ia memiliki kemampuan di dalamnya”.[2]

Imam Al-Syaukaniy Rahimahullah dalam tafsirnya menerangkan makna Ayat ini:

طلب يوسف عليه السلام منه ذلك ليتوصل به إلى نشر العدل ، ورفع الظلم ، ويتوسل به إلى دعاء أهل مصر إلى الإيمان بالله ، وترك عبادة الأوثان . وفيه دليل على أنه يجوز لمن وثق من نفسه إذا دخل في أمر من أمور السلطان أن يرفع منار الحق ، ويهدم ما أمكنه من الباطل ، وطلب ذلك لنفسه

Nabi Yusuf ‘Alaihissalam meminta hal itu dari raja agar beliau dapat menyebarkan keadilan dengannya, dan mengangkat kezhaliman, dan menjadikannya perantara untuk mendakwahkan penduduk negeri mesir kepada Iman kepada Allah, dan agar meninggalkan peribadatan berhala. Dan di dalamnya Ayat ini ada dalil atas bolehnya siapa saja yang percaya kepada dirinya apabila masuk ke dalam urusan penguasa menjunjung menara kebenaran, dan menghancurkan kebatilan sejauh ia mampu melakukannya, dan bolehnya meminta itu untuk dirinya sendiri“.[3]

Namun beliau menyadari bahwa makna ini bertentangan dengan hadits, dari itu beliau melanjutkan:

 ولكنه يعارض هذا الجواز ما ورد عن نبينا صلى الله عليه وسلم من النهي عن طلب الولاية والمنع من تولية من طلبها ، أو حرص عليها

“Akan tetapi hal ini bertentangan dengan hadits yang datang dari Nabi kita – Shallallahu ‘Alaihi Wasallam – tentang larangan meminta kekuasaan dan larangan memberikannya kepada yang memintanya atau yang sangat ingin mendapatkannya.”[4]

Jawaban atas pertentangan ini telah diurai oleh Imam Al-Qurthubiy rahimahullah, beliau berkata:

أن يوسف عليه السلام إنما طلب الولاية لأنه علم أنه لا أحد يقوم مقامه في العدل والإصلاح وتوصيل الفقراء إلى حقوقهم فرأى أن ذلك فرض متعين عليه فإنه لم يكن هناك غيره، وهكذا الحكم اليوم، لو علم إنسان من نفسه أنه يقوم بالحق في القضاء أو الحسبة ولم يكن هناك من يصلح ولا يقوم مقامه لتعين ذلك عليه، ووجب أن يتولاها ويسأل ذلك، ويخبر بصفاته التي يستحقها به من العلم والكفاية وغير ذلك، كما قال يوسف عليه السلام، فأما لو كان هناك من يقوم بها ويصلح لها وعلم بذلك فالأولى ألا يطلب

“Sesungguhnya (Nabi) Yusuf ‘Alaihissalam meminta mandat kekuasaan hanya karena beliau mengetahui bahwa tidak ada seorang pun yang mampu menempati posisinya dalam menegakkan keadilan dan perbaikan, menyambungkan orang-orang fakir kepada hak-hak mereka, maka beliau melihat bahwa hal itu wajib atas diri beliau di samping di luar sana tidak ada selain dari beliau. Maka demikianlah hukum yang berlaku di hari ini, jika seorang mengetahui dalam dirinya potensi mampu menegakan hak dalam peradilan dan Al-Hisbah (pengelolaan) sementara di luar sana tidak ada yang memperbaiki dan tidak ada yang menempati posisinya, niscaya menjadi wajib atas dirinya melakukan hal itu, dan wajib ia mengambilnya dan meminta kekuasaan itu, dan (boleh) ia menceritkan sifat-sifat dirinya yang membuatnya pantas dengan kekuasaan tersebut seperti keilmuan, kemampuan, dan lain sebagainya, seperti perkataan Nabi Yusuf ‘Alaihissalam. Namun jika disitu telah ada yang mengisi posisi tersebut dan ia layak dengannya, dan berilmu tentang hal itu, maka yang lebih utama tidak meminta kepemimpinan”.[5]

Penjelasan Imam Al-Qurthubiy – rahimahullah – ini, adalah  rincian hukum yang cukup adil atas pertentangan yang disebutkan Imam Al-Syaukaniy Rahimahullah – .

Terlebih dalam satu kasus di era Salaf disebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah memberikan mandat kekuasaan kepada Utsman bin Abil’ash atas permohonan beliau agar diangkat menjadi Imam di kaumnya.

  إن عثمان بن أبى العاص قال يا رسول الله اجعلنى إمام قومى. قال أنت إمامهم واقتد بأضعفهم واتخذ مؤذنا لا يأخذ على أذانه أجرا

“Sesungguhnya Utsman bin Abil-‘Ash pernah berkata: “Ya Rasulallah –Shallallahu ‘Alaihi Wasallam – jadikanlah aku Imam untuk kaumku”, (Nabi mengiyakannya), Beliau bersabda: “Kamulah Imam mereka, dan perhatikanlah yang paling lemah dari mereka, dan jadikanlah muadz-dzin yang tidak mengambil upah atas adzannya.”[6]

Al-Amir Al-Shan’aniy rahimahullah berkata:

الحديث يدل على جواز طلب الإمامة في الخير وقد ورد في أدعيت عباد الرحمن الذين وصفهم الله بتلك الأوصاف أنهم يقولون {وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَاماً} وليس من طلب الرياسة المكروهة فإن ذلك فيما يتعلق برياسة الدنيا التي لا تعان من طلبها ولا يستحق أن يعطاها

Hadits ini menunjukkan atas bolehnya meminta kepemimpinan (Al-Imamah) dalam kebaikan, dan telah terdapat dalam doa-doa hamba-hamba Arrahman (‘Ibadurrahman)[7] yang telah disifati oleh Allah dengan sifat tersebut bahwa mereka berkata: “Dan jadikanlah kami Imam untuk orang-orang yang bertaqwa”, (dan hal ini) bukanlah kepemimpinan yang dibenci, sesungguhnya yang dibenci itu adalah kepemimpinan yang terkait dengan kepemimpinan duniawi yang tidak tidak dibantu siapa saja yang memintanya dan tidak berhak diberikan kepadanya”.[8]

Demikianlah, maka kesimpulannya diperbolehkan atau tidaknya seorang meminta kekuasaan bergantung kepada Mashlahat atau dilarangnya juga bergantung pada dampak kerusakan yang akan diakibatkannya, ini sebagaimana yang disimpulkan oleh seorang Imam IbnulqayyimRahimahullah – beliau berkata:

جواز تأمير الإمام وتوليته لمن سأله ذلك إذا رآه كفئا، ولا يكون سؤاله مانعا من توليته، ولا يناقض هذا قوله فى الحديث الآخر: “إنا لن نولى على عملنا من أراده”، فإن الصدائى إنما سأله أن يؤمره على قومه خاصة، وكان مطاعا فيهم، محببا إليهم، وكان مقصوده إصلاحهم، ودعاءهم إلى الإسلام، فرأى النبى صلى الله عليه وسلم أن مصلحة قومه فى توليته، فأجابه إليها، ورأى أن ذلك السائل إنما سأله الولاية لحظ نفسه ومصلحته هو، فمنعه منها، فولى للمصلحة، ومنع للمصلحة، فكانت توليته لله، ومنعه لله.

“Boleh mengangkat imam dan memandatkan kekuasaan kepadanya bagi siapa yang meminta akan hal itu apabila ia (seorang penguasa) memandangnya layak, dan tidaklah permintaannya mencegah pemberian mandat kekuasaan, dan hal ini tidak bertentangan dengan sabda-Nya dalam hadits “Sesungguhnya kami tidak memandatkan amalan (tugas jabatan) kami kepada orang yang menginginkannya”, karena sebenarnya Al-Shuda’iyRadliyallahu ‘Anhu – meminta mandat dikuasakan atas kaumnya hanya secara khusus saja, dan sedianya beliau memang adalah sosok yang ditaati di antara mereka, mereka pun mencitainya, dan maksud beliau adalah memperbaiki mereka, dan mendakwahkan mereka kepada Islam, sehingga Nabi – Shallallahu ‘Alaihi Wasallam – memandang bahwa kemashlahatan kaumnya (Al-Shuda’iy) ada dalam memberikan kekuasaan kepadanya, maka Nabi – shallallahu ‘alaihi wasallam – mengabulkan permintaannya menjadi pemimpin, dan – dilain kasus – Nabi memandang bahwa orang yang meminta kekuasaan itu meminta kepada beliau mandat dikuasakan hanya untuk kepentingan pribadinya dan kebaikan dirinya dia sendiri saja, sehingga Nabi mencegahnya, maka – intinya- Nabi memandatkan kekuasaan demi mashlahat, dan menahannya demi mashlahat, maka pemberian kekuasaan yang dicontohkan-Nya karena Allah, dan menahannya pun juga karena Allah”.[9]

Musa Abu ‘Affaf, BA.


[1] HR: Bukhariy

[2] Al-jami’u Li Ahkamilqur’an (11/385/cet. Muassasah Al-Risalah)

[3] Fathulqadir (1/825/Cet. Maktabah Al-Rusyd)

[4] Fathulqadir (1/825/Cet. Maktabah Al-Rusyd).

[5] Al-jami’u Li Ahkamilqur’an (11/385/cet. Muassasah Al-Risalah)

[6] Hadits Shahih Riwayat : Abu Dawud

[7] Surat Al-Furqan Ayat 74…

[8] Subulussalam (1/127).

[9] Zadulma’ad (3/668)

Di antara referensi yang bagus membahas masalah ini dengan detil adalah tulisan ini : http://www.jameataleman.org/main/articles.aspx?article_no=1406

Comments

comments