Kita Akan Terus Butuh Orangtua Sekalipun Telah Berkeluarga

Teduh.Or.Id – Bahwasanya hal yang paling indah dari pernikahan ialah hari pernikahan itu sendiri, semua memberi ucapan, menyampaikan doa, memaklumatkan harap, dan membagi senyum. Seluruhnya bahagia, bahwa soal resepsi itu masih ada perhitungan di belakangnya, adalah hal yang bisa dibicarakan bersama. Pokoknya, hari itu adalah hari bahagia, bagi yang menjalani pernikahan saat itu, yang menikahkan, yang pernah menikah, hingga yang belum menikah menjadi semangat, jangan tanya bagi yang sudah menikah, tentu lebih bersemangat lagi. Pernikahan adalah kompilasi harap dari seseorang, bahwa cinta yang selama ini dipelihara untuk terjaga, menemukan muara pembebasannya.

Resmi sudah, sepasang suami istri bertemu dengan hak dan kewajibannya, saling memenuhi nafkahnya, dan menerima dengan segala permakluman yang ada pada kurang dan lebihnya pasangan yang sudah ia akadkan bersama, menuntaskan hajatnya dan memberikan apa yang ia dapatkan, sebagaimana hadits Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, “Seorang istri harus mendapatkan makan sebagaimana yang kalian makan, mendapatkan pakaian sebagaimana yang kalian kenakan. Jangan sekali-kali memukul wajahnya, jangan menjelek-jelekkan, serta jangan memisahkan dirinya dengan kalian kecuali hanya di dalam rumah saja.” (HR. Abu Daud)

Dari sini kita belajar, bahwa rumah tangga selalu bisa diisi dengan bahagia terus-menerus, sebab tidak ada yang lebih mengerti seseorang selain keluarganya sendiri, seorang suami menjadi mampu, sebab doa dari anggota keluarga, istri menjadi terampil karena adanya tempat untuk beraktualisasi dan belajar hal yang menjadi fitrahnya, dan anak menjadi kaya akan pengetahuan dan pengalaman dalam hidupnya. Bukankah setiap belajar adalah hal-hal yang menjadikan seseorang bahagia? Sebab disana akan ada proses untuk mengangkat diri menjadi lebih banyak tahu, dari hal-hal yang sebelumnya tidak dikenali.

Namun, sebagai pasangan suami-istri, ada pembagian tugas-tugas yang disepakati, ada kerja bersama yang tetap membutuhkan pengawas satu sama lain, dan layaknya manusia pada umumnya, menjadi lalai adalah sesuatu yang harus dimaklumi. Jika terjadi pertentangan, sesungguhnya kedua belah pihak harus mampu menyediakan hati untuk berlapang dada, jika ada kesamaan, hal itulah yang memang seharusnya ada.

Dalam rumahtangga, jangan pernah pula mengabaikan nasihat dari orangtua, sebab mereka memiliki pengalaman yang lebih kaya, walaupun pengetahuan dan zaman berbeda. Orangtua dari jauh masih akan terus mengawasi anak-anaknya, memberikan nasihat sebagaimana saat si anak berumahtangga untuk kali pertamanya. Bagi pria, ia mendapat pesan dari mertuanya untuk menjaga anak perempuannya dengan baik. Dan bagi orangtua pria, ia menitipkan anak lelakinya kepada sang menantu agar bersabar dari hal-hal yang mungkin akan ditemui dikemudian hari yang belum didapati hari ini.

Maka, sungguh berarti teladan dari para salaf, nasihat yang diberikan orangtua, khususnya kepada anak wanitanya, saat akan meninggalkan rumah demi membersamai penanggungjawab dunia dan akhiratnya yang baru. Sebagaimana Umamah bintu Al Harits, ibunda dari Ummu Ayyas bintu ‘Auf asy-Syaibani yang menikah dengan Raja Kindah, ‘Amr bin Hajar. Ia mewasiatkan kepada putrinya saat sudah sampai waktu sang suami membawanya pergi dari rumah:

“Wahai putriku, sesungguhnya jika wasiat diserahkan demi keutamaan akhlak, niscaya ia kuserahkan seutuhnya padamu. Akan tetapi ia adalah peringatan bagi yang lalai dan pertolongan bagi yang berakal. Seandainya seorang wanita merasa tidak butuh dengan suaminya karena kekayaan kedua orangtuanya dan kebutuhan keuda orangtuanya terhadapnya, niscaya aku adalah orang yang paling tidak butuh terhadap suami. Akan tetapi wanita memang tercipta untuk pria dan laki-laki diciptakan untuk perempuan.

Wahai putriku, sesungguhnya engkau akan meninggalkan tempat yang disitu kau terlahir. Kau akan meninggalkan sarang dimana kau tumbuh disana untuk menuju sarang lain yang tak kau kenal. Pada rumah yang tak kau ketahui. Di sana, suamimulah yang akan menjadi pengawas dan penguasa. Jadilah budaknya, niscaya ia akan menjadi sahaya yang selalu mematuhimu.” (Fiqhus Sunnah II/200)

Mungkin, sudah tidak banyak orangtua yang terus menasehati anak-anaknya kala si anak dianggap telah berumah tangga. Padahal hal tersebut terus dibutukan oleh si anak. Diminta atau tidak, nasihat orangtua yang terkesan lebih berupa bimbingan, sangat perlu dibandingkan dengan perintah-perintah untuk begini dan begitu yang sejatinya mereka telah berusaha sekuat tenaga. Terlebih lagi bagi seorang wanita, yang jiwanya sekalipun telah bersama dengan suami, tetap terpaut pada rumah masa kecilnya. Tetap butuh akan penolong sekalipun itu adalah wasiat yang berulang. Karena disetiap nasihat yang berulang, akan memiliki pelajaran baru dalam setiap pergantian waktu.

Orangtua kita, memberi nasihat tentu ada alasannya, bisa jadi berharap agar pernikahan kita harus lebih baik dari apa yang telah dijalani oleh mereka sebelumnya. Pengalamanlah yang menjadikan mereka bisa menyampaikan berbagai hal. soal ujian dan kesabaran, orangtua adalah ahli, tentang syukur dan nikmat, tentu mereka sudah mendapatkan berulang-ulang kali. Adapun kita, selamanya dihadapan mereka akan terus dianggap sebagai anak-anak. Dan mereka akan terus menyampaikan petuahnya, maka dibutuhkan hati luas dari diri kita dan pikiran terbuka untuk menerima manfaatnya. Jangan acuhkan orangtua, sekalipun mungkin apa yang mereka sampaikan adalah hal-hal yang sudah tak sesuai lagi dengan zamannya. Karena itulah yang memang mereka tahu, dan inilah barangkali yang dapat meghentikan kesoktahuan kita, dan mengajarkan menjadi lebih dewasa.

Sekali waktu, jangan pernah menutup telinga dengan nasihat orangtua kita. Karena kelak saat mereka tiada, kita akan merindukan tentang apa yang mereka selalu wasiatkan pada saat yang kala itu bisa jadi bagi kita sungguh membosankan. Karena setiap pelajaran bisa jadi berulang, namun buah dari pelajaran, belum tentu akan sama dari sebelumnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.