Kisah Maryam, Ibunda Nabi Isa

Teduh.Or.Id – Kisah Maryam binti Imran secara garis besar bisa dibaca dalam Surat Ali-Imran, Al-Anbiya’ dan Attahrim. Dari Hadits Shahih Riwayat Muslim Nabi bersabda, yang artinya, “Tak seorang anak pun yang dilahirkan kecuali setan akan mencekiknya, sehingga ia menangis karena cekikan setan itu, kecuali Anaknya Maryam dan Ibunya.”

Kisah Maryam dimulai dalam Al-Qur’an dengan menceritakan keadaan Maryam yang menjauhkan diri dari keluarganya (mengurung diri) di tempat yang jauh, seolah Allah hendak mempersiapkan sesuatu yang tak biasa akan terjadi pada diri Maryam. Inilah Maksud Firman Allah, yang artinya, “dan ceritakanlah (kisah) Maryam di dalam Al-Qur’an, yaitu ketika ia menjauhkan diri dari keluarganya ke suatu tempat di sebelah timur (Baitul Maqdis).” (QS: Maryam; 16)

Kemudian kisah berikutnya, Allah mengutus Jibril kepada Maryam dengan menjelma sebagai seorang lelaki dalam usia yang matang, Allah berfirman, yang artinya, “lalu kami mengutus roh Kami kepadanya, Maka ia menjelma di hadapannya (dalam bentuk) manusia yang sempurna.”  (QS: Maryam; 17)

Maka tentunya, sikap seorang wanita terjaga dan baik dalam keadaan seperti ini, ialah berlindung kepada Allah, Maka Maryam berucap kepada lelaki tersebut, -sebagaimana firman Allah, “Maryam berkata, “Sesungguhnya Aku berlindung dari padamu kepada Tuhan yang Maha pemurah, jika kamu seorang yang bertakwa.”” (QS: Maryam: 18)

Lelaki tersebut menjawabnya dengan penuh ketenangan dan kesopanan, “sesungguhnya aku adalah utusan Rabb-mu, agar aku memberikan (kabar) kepadamu seorang anak yang cerdas.” (QS: Maryam; 19)

Maryam menjawab dengan jawaban yang sangat manusiawi yang selalu berpatokan pada sebab dan musabbab, Allah berfirman, yang artinya, “bagaimana bisa aku dapat memiliki seorang anak sedangkan aku tak pernah tersentuh oleh lelaki dan aku bukan juga seorang wanita pelacur.” (QS: Maryam; 20)

Namun, malaikat dalam jelmaan lelaki itu berkata, berusaha meyakinkan Maryam, bahwa pencipta sebab dan musabbab sangat kuasa dan mampu menciptakan dan menjadikan sesuatu tanpa harus melalui fase sebab kejadian, bahwa tak ada yang tidak mungkin terjadi jika Allah mengendakinya.

Malaikat itu berkata, yang artinya, “Jibril berkata, “demikianlah.” Tuhanmu berfirman, “hal itu adalah mudah bagi-Ku; dan agar dapat kami menjadikannya suatu tanda bagi manusia dan sebagai rahmat dari Kami; dan hal itu adalah suatu perkara yang sudah diputuskan.”” (QS: Maryam ; 21)

Kehamilan Maryam

Kemudian secara umum, tanpa terperinci, Allah menceritakan keadaan maryam pasca datangnya malaikat dalam jelmaan lelaki. Akhirnya Maryam pun hamil, Allah berfirman, yang artinya, “maka hamillah Maryam, kemudian dia mengasingkan diri dengan kandungannya itu ke tempat yang jauh.” (QS: Maryam; 22)

Imam Ibnu Katsir dan Ulama lainnya, menerangkan, bahwa lelaki yang datang kepada Maryam itu, ialah benar malaikat Jibril, yang kemudian meniup ke dalam kantong pakaian besinya (Maryam) sehingga tiupan tersebut merasuk ke dalam kemaluannya, dengan sebab itulah kemudian Maryam hamil.

Setelah dirinya sadar akan kehamilan ini, betapa gundah gulana jiwanya, resah dan gelisah menyelimuti hati dan perasaannya, apa gerangan kata orang jika mereka sampai tahu tentang kehamilannya. Maryam menyadari, bahwa orang-orang tidak akan percaya begitu saja dengan keadaan dirinya yang hamil tanpa pernah disentuh oleh lelaki manapun. Akhirnya Maryam menceritakan keadaan dirinya kepada saudara perempuannya, yaitu istri Nabi Zakariyya, yang saat itu tengah berharap kepada Allah agar dikaruniakan seorang anak.

Saat Allah mengabulkan doa Nabi Zakariyya, hamillah istrinya, lalu Maryam tinggal bersamanya.

Di sinilah nampak kemuliaan Maryam, Allah mengirimkan untuknya makanan, hal ini diketahui oleh Nabi Zakariyya ketika sesekali beliau menjenguk maryam di mihrob-nya.

Menghadapi Persalinan

Kisah berikutnya dalam Al-Qur’an, waktu berjalan, dan semua terasa begitu cepat, tibalah waktunya Maryam akan melakukan persalinan. Dia menjauh seorang diri, menyembunyikan dirinya bersama kesucian yang dibawa, tanpa bekal ilmu persalinan sebelumnya karena tak ada yang membimbingnya.

Tak ada yang membantunya menjalani masa masa tersulit bagi diri seorang wanita, saat-saat yang mempertaruhkan hidup dan mati, keadaan ini membuat maryam akhirnya berkata, Allah berfirman, yang artinya, “Maka rasa sakit akan melahirkan anak memaksa ia (bersandar) pada pangkal pohon kurma, dia berkata, “aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi barang yang tidak berarti, lagi dilupakan.”” (QS: Maryam; 23)

Dalam sakit yang menderanya, dan beratnya kenyataan yang Maryam hadapi, Allah menghiburnya, Allah berfirman kepadanya, yang artinya, “maka Jibril menyerunya dari tempat yang rendah, “janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu.”” (QS: Maryam; 24)

Atas kuasa Allah, lahirlah seorang bayi, seolah panggilan itu membuatnya terpacu dan membakar semangat juangnya, lalu Allah menunjukkan maryam makanan dan minuman untuknya, Allah berfirman, yang artinya, “dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang matang kepadamu.” (QS; Maryam; 25)

Allah Tidak Melupakan Maryam

Allah tidak melupakan Maryam, tidak meninggalkannya, namun Allah berikan untuknya jalan kemudahan dengan dialirkannya air dibawah kakinya, buah kurma yang berguguran ke sisinya. Tidak hanya itu, Allah juga menunjukkan Maryam cara menghadapi orang-orang yang pasti akan bertanya tentang diri dan anaknya, Allah berfirman, yang artinya, “jika kamu melihat seorang manusia, maka katakanlah, “sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusiapun pada hari ini.”” (QS: Maryam; 26)

Imam Ibn Katsir menjelaskan, ketika kehamilan Maryam mulai nampak, ada seorang lelaki salih dari kalangan kerabatnya yang berkhidmat untuk Baitul Maqdis. Konon nama lelaki itu adalah Yusuf Annajjar. Manakala dia melihat perut Maryam semakin besar, dia mengingkarinya, dia tidak kuasa menahan rasa penasaran, akhirnya dia berkata kepada Maryam, “Hai Maryam, jangan tersinggung, aku bertanya kepadamu, “apakah bisa tumbuhan tumbuh tanpa benih? Bisakah umbian tumbuh tanpa biji? Apakah mungkin seorang anak lahir tanpa bapak?””

Maryam menjawab, “iya, saya paham yang kamu maksud, sesungguhnya Allah menciptakan tumbuhan pada awal mulanya tanpa benih dan biji, dan demikian juga, Allah menciptakan Adam tanpa ibu dan bapak.” Akhirnya lelaki itu pun percaya dengan kesucian Maryam.

Mukjizat Nabi Isa

Kemudian Al-Qur’an menceritakan kepada kita, episode baru dari cerita Maryam, pasca persalinannya, dan setelah Maryam berhasil menenangkan kegelisahan jiwanya, kini maryam berada ditengah masyarakatnya, menggendong buah hatinya. Akan tetapi, apakah yang akan dikatakan orang-orang terhadapnya kembali, sementara mereka mengetahui bahwa Maryam tidak memiliki suami, dan dirinya adalah wanita mulia dari keluarga terhormat.

Allah berfirman, yang artinya, “maka Maryam membawa anak itu kepada kaumnya dengan menggendongnya. Kaumnya berkata, “hai Maryam, Sesungguhnya kamu Telah melakukan sesuatu yang amat mungkar.””

“Hai saudara perempuan Harun ayahmu sekali-kali bukanlah seorang yang jahat dan ibumu sekali-kali bukanlah seorang pezina.” (QS: Maryam , 27-28)

Maryam hanya diam, tidak banyak berbicara, menjawab segala tuduhan dan sangkaan masyarakatnya. Maryam hanya memberikan isyarat dengan tangan, menunjuk ke anak yang dia gendong. Allah berfirman, yang artinya, “maka Maryam menunjuk kepada anaknya. Mereka berkata, “bagaimana kami akan berbicara dengan anak kecil yang masih di dalam ayunan?”” (QS: Maryam ; 29)

Al-Qur’an menceritakan kepada kita, keajaiban yang sangat luar biasa, bayi mungil yang dilahirkan Maryam itu mengungkap kebenaran yang terjadi. Dan ucapan tersebutlah yang mnejadi ucapan paling pertama yang diucapkan bayi ini. Allah berfirman, yang artinya, “berkata Isa, “sesungguhnya aku Ini hamba Allah, dia memberiku Al-Kitab (Injil) dan dia menjadikan aku seorang nabi. Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup, dan berbakti kepada ibuku, dan dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka. Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali.”” (QS: Maryam ; 30-33)

Dan bukan ucapan, “Akulah Anak Allah!

Wallahu ‘alam bi shawwab.


Gambar dari: http://indonesian.iloveallaah.com/wp-content/uploads/2011/02/daffodils_by_harrykrizz-d397pb2.jpg

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.