Kini Pacaran Tak Tabu Lagi

Teduh.Or.Id – Pacar dalam kamus besar bahasa indonesia berarti teman lawan jenis yang tetap dan mempunyai hubungan berdasarkan cinta kasih. Dengan demikian pacaran berarti berkasih-kasihan atau bercinta-cintaan.

Pada praktiknya pola pacaran berubah-ubah dari satu waktu ke waktu, sesuai dengan geliat sosial masyarakat dalam menata nilai moral.

Pada era penulis, Tahun 90-an pacaran tidak lebih dari sekedar berkirim surat atau datang ke rumah pacar dengan duduk ditempat yang terbuka dibagian rumahnya semisal teras atau halaman rumah, itu pun masih dibawah pengawasan penghuni rumah dalam hal ini adalah orangtua atau pihak yang memiliki hubungan saudara atau kekerabatan.

Generasi setelah itu pacaran adalah jalan berdua, pelukan diatas motor bahkan mungkin lebih dari itu semua. Dalam hal yang sama masyarakat juga telah mengalami pergeseran ketika menilai satu norma yang terjadi di tengah masyarakat, hingga akhirnya jalan bareng atau dua-duaan telah menjadi hal yang tak tabu lagi.

Hubungan emosional antara lelaki dan wanita adalah satu hal yang dahsyat, kedahsyatannya dapat berbuntut pada satu hal yang mengerikan (itu jika tanpa ikatan yang sah dan terhormat) seperti hubungan badan, kehamilan, bahkan pembunuhan.

Dari semua akibat tersebut, pihak yang menanggung kerugian terbesar adalah wanita dan keluarganya, terlebih jika si pacar tidak mau bertanggung jawab, lalu akhirnya menyuruh pacarnya untuk melakukan aborsi. Kenyataan seperti ini tentunya sudah tidak sejalan lagi dengan makna pacaran yang ditetapkan dalam kamus Bahasa Indonesia.

Semua Agama yang telah diturunkan Allah terlebih Islam, menghendaki kebaikan dan bertujuan mewujudkan keselamatan jiwa serta martabat manusia, sehingga segala bentuk perkara yang dapat mengakibatkan kerugian atau berpotensi ke arah itu, dihukumi Haram seperti pacaran contohnya.

Berlangsungnya satu kemungkaran ditengah masyarakat pada dasarnya disebabkan tidak hanya karena adanya pelaku, namun juga didukung oleh diamnya orang-orang yang tahu dan berwenang.

Tipisnya Iman dan berubahnya patokan norma kebaikan juga ikut mengambil andil sebagai tetap terpeliharanya satu kemaksiatan. Maka tidak kagetlah kita jika saat ini ada orangtua yang memfasilitasi anaknya untuk memadu asmara dengan pacarnya, atau dengan diam seribu bahasanya orang-orang saat melihat didepan matanya ada sepasang kekasih diluar nikah berdekapan erat diatas motor, atau bergandeng mesra di tempat terbuka.

Tidak hanya sampai disana, Media elektronik yang sejatinya diharapkan sebagai alat berguna untuk membangun generasi yang baik dan beradab, malah menjadi bagian paling berpengaruh negative ditengah masyarakat dengan tayangan-tayangan khayalan dan mengarah kepada doktrin tersembunyi ke alam bawah sadar masyarakat, bahwa percintaan antara muda-mudi bukanlah tabu.

Maka kewajiban semua orang yang mencintai Islam dan keluarganya untuk peduli dengan melakukan nahi munkar dan berupaya mengembalikan patokan norma masyarakat dalam menilai satu gejala sosial, yaitu kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah.

Di satu ketika, Zaenab binti Jahsy dengan sedikit terheran bertanya kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam: “Akankah kami binasa, sementara di antara kami terdapat orang-orang yang Saleh?” Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam menjawab: “Ya, apabila kemaksiatan itu telah banyak”.

Maka tidaklah jauh perkataan yang berbunyi: “Keburukan itu terjadi bukan karena banyaknya orang jahat, namun karena banyaknya orang baik namun tidak banyak berbuat”.