Khuthbah Shalat Gerhana, Haruskah ?

Gerhana tergolong sebagai salah satu bentuk Ahkamul Wadh’iyyah, yakni digantungkannya satu hukum ibadah tertentu dengan satu  sebab tertentu, yang apabila sebab itu tidak ada, atau belum terjadi maka hukum tersebut tidak akan mungkin dilaksanakan.

Karena gerhana jarang terjadi, apalagi yang sampai total, maka shalat yang dianjurkan saat gerhana terjadi, pun menjadi jarang dilakukan.

Ibadah yang jarang dilaksanakan, tidak menutup kemungkinan akan membuat kita menjadi terasa kurang sempurna dalam melakukannya, atau bahkan mungkin di antara kaum muslimin sendiri ada yang belum mengilmui dengan benar seputar Shalat gerhana (kusuf) dan rangkaiannya.

Ketahuilah, gerhana pernah terjadi pada zaman Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tepatnya pada tahun 10 Hijriyyah, bertepatan dengan tahun wafatnya Ibrahim putra Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Setelah selesai dari Shalat, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menyampaikan beberapa patah khuthbah, sebagaimana ini telah disebutkan dalam Hadits :

  فَخَطَبَ النَّاسَ فَحَمِدَ اللَّهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ ثُمَّ قَالَ إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللهِ لاَ يَنْخَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ ، وَلاَ لِحَيَاتِهِ فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ فَادْعُوا اللَّهَ وَكَبِّرُوا وَصَلُّوا وَتَصَدَّقُوا ثُمَّ قَالَ يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ وَاللَّهِ مَا مِنْ أَحَدٍ أَغْيَرُ مِنَ اللهِ أَنْ يَزْنِيَ عَبْدُهُ ، أَوْ تَزْنِيَ أَمَتُهُ يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ وَاللَّهِ لَوْ تَعْلَمُونَ مَا أَعْلَمُ لَضَحِكْتُمْ قَلِيلاً وَلَبَكَيْتُمْ كَثِيرًا.

 “Lalu Nabi berkhuthbah kepada orang-orang, bertahmid kepada Allah dan memujiNya, kemudian beliau berkata: “Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua Ayat dari Ayat Ayat Allah, keduanya bukanlah gerhana karena kematian seseorang, dan bukan karena kehidupannya seseorang. Apabila kalian melihat itu maka berdoalah kepada Allah dan bertakbirlah, Shalatlah, dan bersedekahlah.” Kemudian beliau bersabda: “Wahai Ummat Muhammad, demi Allah tidak seorang pun yang lebih cemburu daripada Allah atas perzinaan yang dilakukan hambanya, atau perzinahan yang dilakukan oleh wanita. Wahai ummat Muhammad demi Allah apabila kalian mengetahui apa apa yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan niscaya kalian akan banyak menangis”. [HR: Bukhari Muslim]

Khuthbah singkat yang disampaikan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam – setelah shalat gerhana – ini kemudian oleh sebagian Ulama dijadikan sebagai dalil atas disyaratkannya khuthbah dan mesti dilakukan dalam rangkaian Shalat gerhana.

Imam Ibnu Rusyd Al-Qurthuby telah menjelaskan perbedaan pendapat Ulama dalam perkara ini, apakah Khuthbah setelah Shalat gerhana termasuk dari Syaratnya ataukah tidak?

Imam Asy-Syafi’i Rahimahullah memandang bahwa Khuthbah merupakan Syarat dari Shalat gerhana. Sementara Imam Malik dan Imam Abu Hanifah Rahimahumallah memandang bahwa tidak ada Khuthbah setelah Shalat gerhana.

Sebab perbedaan pendapat ini terjadi karena perbedaan pandangan mereka terhadap ‘Illah (sebab utama) dalam Khuthbah yang Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sampaikan setelah Shalat kepada para Shahabat seperti yang dijelaskan dalam Hadits di atas.

Imam Syafi’i Rahimahullah memandang bahwa Khuthbah tersebut dilakukan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam karena termasuk ke dalam Sunnah dalam Shalat gerhana, sama seperti Khuthbah dalam Shalat Ied, dan Shalat Istisqa’.

Sedangkan mereka yang berpendapat seperti dengan pendapat Imam Malik dan Imam Abu Hanifah memandang, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berkhuthbah ketika itu disebabkan karena orang-orang menyangka bahwa gerhana matahari itu terjadi karena wafatnya putra beliau, yaitu Ibrahim. [lihat kitab Bidayah Wannihayah/ 1/ 271-272/ Cet. Dar Ibnul Jauzy.]

Pendapat Imam Asy-Syaf’i adalah pendapat Mayoritas Ulama (Jumhur) , dan salah satu pendapat dari Imam Ahmad, sebagaimana juga Imam Annawawy menyebutnya sebagai pendapat mayoritas Salaf. Pendapat ini juga adalah pendapat Syaikh Ibnu Baz dan Syaikh Ibnu ‘Utsaimin. Rahimahumullah Jami’an.

Namun yang paling penting diingat adalah, bahwa sifat khuthbah shalat gerhana tidak berbeda dari khuthbah lainnya yang disunnahkan agar tidak panjang. Demikian dan semoga bermanfaat.

Abu Affaf