Khusyu’ Yang Munafik

Tunduk dan ikut pasrahnya hati saat menjalankan proses Ibadah sehingga membuat anggota tubuh lainnya terlihat tenang tanpa adanya gerakan yang berarti, inilah gambaran Khusyu’ jika ada yang bertanya tentangnya.

Khuysu’ merupakan bagian terpenting dalam Ibadah, Khususnya Shalat, dan pahala seorang dari shalat yang ia dirikan sesuai dengan kadar khusyu’ yang ia fokuskan ketika shalat, sebagaimana hal ini disebutkan dalam sebuah Hadits:

عَنْ عَمَّارِ بْنِ يَاسِرٍ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ إِنَّ الرَّجُلَ لَيَنْصَرِفُ وَمَا كُتِبَ لَهُ إِلاَّ عُشْرُ صَلاَتِهِ تُسْعُهَا ثُمُنُهَا سُبُعُهَا سُدُسُهَا خُمُسُهَا رُبُعُهَا ثُلُثُهَا نِصْفُهَا

Artinya: “dari ‘Ammar bin Yasir beliau berkata: ‘aku pernah mendengar Rasulullah – Shallallahu ‘Alaihi Wasallam – bersabda: ‘Sesungguhnya seorang lelaki benar-benar selesai (dari Shalatnya, Pen.) dan tiadalah dicatatkan pahala baginya kecuali hanya sepersepuluh dari Shalatnya, sepersembilannya, sepertujuhnya, seperenamnya, seperlimanya, seperempatnya, sepertiganya, atau setengahnya'”. HR: Imam Abu Dawud .

Berkurangnya pendapatan pahala seorang ketika shalat bergantung kepada sempurna atau tidaknya shalat tersebut ia dirikan sesuai dengan anjuran dan tatacara yang ditetapkan secara menyeluruh, termasuk ke dalamnya adalah kekhusyu’an. dari itu penulis ‘Awnul Ma’bud yang merupakan kitab uraian dari Sunan Abu Dawud menyebutkan; “yaitu sepersepuluh dari pahalanya karena apa apa yang telah ia teledorkan pada rukun-rukun, syarat-syarat, dan kekhusyu’an, ketundukan, dan lain sebagainya”.

Dari sini kita semakin mengetahui betapa ternyata kekhusyu’an memiliki andil yang sangat besar dalam penentuan pahala yang akan dicatat untuk seorang yang shalat, bahkan semua yang disebutkan tadi di atas seperti Rukun dan Syarat pada dasarnya bergantung kepada kekhusyu’an, karena hati yang khusyu’ tentunya tidak akan lengah, teledor dalam menjaganya.

Namun di lain hal, bisa saja gerak tubuh orang yang shalat terlihat khusyu’ dan bahkan tidak kurang dalam menyelesaikan Syarat dan Rukunnya – seperti layaknya keadaan seorang yang shalat menjadi Makmum – akan tetapi urusan hati siapa yang mengetahuinya? sehingga tidak bisa dijamin bahwa ia sedang syahdu dengan kekhusyu’an hati mendirikan shalat ataukah sebaliknya sedang berhayal dan memikirkan keduniaan.

Khusyu’ yang hanya menampilkan ketenangan anggota tubuh sehingga tubuh seolah tanpa gerakan dan garukan dan bentuk gerak gerik lainnya, namun disaat yang sama hatinya kosong menerawang, maka ini adalah khusyu’ yang munafik yang terlarang, dalam Madarijus Salikin Imam Ibnul Qayyim menukil perkataan Hudzaifah Radiyallahu ‘Anhu:

إياكم وخشوع النفاق فقيل له : وما خشوع النفاق قال : أن ترى الجسد خاشعا والقلب ليس بخاشع

Artinya: “Jauhilah Khusyu’ munafik. Lalu ada yang bertanya kepadanya: ‘apakah Khusyu’ Munafik itu?’ beliau menjawab : ‘kamu melihat tubuhnya khusyu’ namun hatinya tidak khusyu'”.

Maka tidak heran jika ada Ulama yang menetapkan bahwa khusyu’ di dalam shalat hukumnya wajib, seperti yang dinukilkan oleh Amir Ash-Shan’any dalam Subulussalam bahwa Imam Al-Ghazaly dalam Al-Ihya’ menyebutkan beberapa dalil atas wajibnya Khusyu’ di dalam shalat, walau pun sebenarnya mayoritas ulama menghukuminya tidak wajib, dan bahkan Imam An-Nawawi menegaskan adanya Ijma’ ulama atas tidak wajibnya.

Sebelum usai, mari mencoba merenungkan pesan Hudzaifah Radhiyallahu ‘Anhu terkait Khusyu’ , beliau berkata:

وقال حذيفة رضي الله عنه أول ما تفقدون من دينكم الخشوع وآخر ما تفقدون من دينكم الصلاة ورب مصل لا خير فيه ويوشك  أن تدخل مسجد الجماعة فلا ترى فيهم خاشعا

Artinya: “Hudazifah Radhiyallahu ‘Anhu berkata: ‘ Yang pertama akan hilang dari Agama kalian adalah Khusyu’, dan yang terakhir hilang dari Agama kalian adalah Shalat, dan betapa banyak orang yang Shalat tidak ada kebaikan padanya, sehingga hampir-hampir saja ia masuk masjid berjamaah kemudian kamu tidak mendapatkan pada mereka orang yang Khusyu'”.

Abu Affaf Musa.