Sepuluh Hari Dzulhijjah dan Hari Arafah

Teduh.Or.Id – Dzulhijjah menempati urutan ke-12 dalam kalender Hijriyyah dan merupakan salah satu bulan yang dilarang keras di dalamnya berbuat dosa atau yang biasa disebut dengan Asyhurul Hurum (Bulan-bulan yang diharamkan)

Ada beberapa keutamaan yang lekat menghias Dzulhijjah yang menjadikannya sebagai bulan yang agung, dan Allah Maha Kuasa memilih waktu yang mana saja untuk diagungkannya, Allah berfirman :

وليال عشر

“Demi malam-malam (yang berjumlah) sepuluh.” [QS: al-Fajr : 2]

Ketahuilah, apabila Allah bersumpah dengan sesuatu maka di antara hikmah yang bisa dipetik dari persumpahan tersebut adalah agar manusia meletakkan perhatian mereka terhadap sesuatu yang Allah bersumpah dengannya. Hal ini adalah salah satu hikmah yang diungkapkan oleh al-’Allamah Ibnu Utsaimin Rahimahullah [1]

Sepuluh malam dalam Ayat di atas tentunya tidak lepas dari hikmah tersebut, sehingga pun Ibnu Abbas Radliyallahu ‘Anhuma dan yang lainnya memberikan tafsir terhadapnya yang menunjukkan akan pentingnya hal tersebut. Imam Ibnu Katsir berkata:

والليالي العشر المراد بها عشر ذي الحجة كما قاله ابن عباس وابن الزبير ومجاهد وغير واحد من السلف والخلف

“Dan yang dimaksud dengan sepuluh malam di Ayat ini adalah Sepuluh Dzulhijjah seperti yang telah diucapkan oleh Ibnu ‘Abbas dan Ibnuz Zubair, Mujahid, dan tokoh lainnya dari kalangan Salaf dan Khalaf. (generasi Ulama yang muncul setelah Salaf).” [2]

Imam Ibnu katsir Rahimahullah memilih makna ini sebagai tafsir atas sepuluh malam dan beliau juga memberikan penguat atas tafsiran ini dengan menyebutkan sebuah hadits yang berasal dari Ibnu Abbas Radliyallahu ‘Anhuma:

عن ابن عباس رضي الله عنهما قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ما من أيام العمل الصالح فيهن أحب الى الله من هذه الأيام العشر فقالوا يا رسول الله وﻻ الجهاد في سبيل الله فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم وﻻ الجهاد في سبيل الله إﻻ رجل خرج بنفسه وماله فلم يرجع من ذلك بشيئ

“Dari Ibnu Abbas Radliyallahu ‘Anhuma beliau berkata : Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah bersabda: “Tidak ada hari-hari (yang di situ) amal saleh di dalamnya menjadi lebih disukai Allah selain dari hari-hari (berjumlah) sepuluh ini (sepuluh dzulhijjah), Maka mereka (para Shahabat) berkata: “Ya Rasulallah tidakkah (juga berbanding dengan) jihad dijalan Allah,” Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Tidak dengan jihad di jalan Allah kecuali seorang yang keluar dengan dirinya dan hartanya lalu kemudian ia tidak kembali sedikit pun bersama hal itu.” [HR: Tirmidzi]

Berarti sepuluh hari pada awal bulan Dzulhijjah adalah satu moment yang sangat istimewa untuk kita bersama kembali kepada Allah dan mengisinya dengan banyak amal saleh, akan sangat sayang sekali jika kesempatan istimewa berlalu begitu saja tanpa meninggalkan hal yang berguna dan bermanfaat untuk kebutuhan Akhirat kita kelak.

Andai kata tidak dapat beramal saleh yang banyak padanya, seperti Tahajjud, Sedekah, Tilawah, dan berhaji atau yang lainnya, maka tidak perlu putus asa, sebab ada satu amal saleh yang dianjurkan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan beliau sebutkan keutamaannya secara khusus pada moment sepuluh hari Dzulhijjah, amal saleh ini adalah berpuasa pada tanggal sembilan Dzulhijjah, Nabi bersabda:

صيام يوم عرفة أحتسب على الله أن يكفر السنة التي قبله والسنة التي بعده

“Puasa pada hari Arafah pahalanya aku hitung di sisi Allah menghapus dosa-dosa setahun sebelumnya dan setahun setelahnya.” [HR: Muslim]

maka jangan sampai puasa ini terlewat begitu saja, sebab hanya sehari saja namun pahalanya sangat luar biasa. Semoga bermanfaat.


[1]  Majmu’ fatawa Warosaa’il ibnu ‘Utsaimin 10/ 612-613 (keterangan referensi dari sebuah web fatwa)

[2]  Tafsir Ibnu katsir /4/651/ Cet. Muassasah ar-Rayyan.