Keutamaan Iktikaf Hanya Ada dalam Hadits yang Dla’if

Teduh.Or.Id – Keutamaan secara khusus atas iktikaf tidak disebutkan dalam hadits yang shahih, Abu Dawud dalam Masa’il-nya menjelaskan:

“Aku pernah bertanya kepada Ahmad, apakah ada suatu hadits tentang keutamaan-keutamaan dalam iktikaf? Imam Ahmad menjawab: “Tidak, kecuali sesuatu yang Dla’if.” (Masa’il Abu Dawud /96)

Ada riwayat dari Ibnu Abbas Radliyallahu ‘Anhuma bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda:

هو يعكف الذنوب ويجري له من الحسنات كعامل الحسنات كلها

“Dia (yakni orang yang iktikaf itu atau iktikaf itu sendiri) adalah yang menahan dosa-dosa dan kebaikan-kebaikan dialirkan untuknya, ia seperti orang yang membawa semua kebaikan seluruhnya.”

(Hadits riwayat Ibnu Majah, Al-Baihaqiy dalam Syu’abuliman (7/523) namun di dalam Sanadnya terdapat periwayat bernama Farqad Assabkhiy, Imam Al-Buhariy menilainya “Hadituhu Manakir”. (Tarikhul Kabir 7/131). Selain Assabkhiy, juga terdapat ‘Ubaidah Al-‘Ammiy. Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Attaqrib menjelaskan keadaannya sebagai “Majhululhal“. Imam Al-Baihaqiy telah mengisyaratkan akan lemahnya hadits ini dan juga oleh Al-Bushairy dalam Azzawa’id, begitu juga oleh Al-Albaniy)

Ada juga riwayat Abu Addarda’ secara Marfu’ yang berbunyi:

من اعتكف ليلة كان له كأجر عمرة ومن اعتكف ليلتين كان له كأجر عمرتين

“Siapa saja yang melakukan Iktikaf pada suatu malam pahala baginya seperti pahala umrah, dan siapa saja yang iktikaf dua malam maka pahala untukya seperti pahala dua kali Umrah.”

(Hadits ini disebutkan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Syarhul ‘Umdah dan beliau sandarkan ke Ishaq bin Rahawaih.)

Inilah beberapa riwayat hadits yang menjelaskan keutamaan iktikaf, namun seperti yang dikatakan Imam Ahmad, bahwa hadits-hadits tersebut lemah (dla’if).

Penting diketahui, walau pun keutamaannya tidak disebutkan dalam hadits yang shahih akan tetapi anjuran untuk melakukan iktikaf adalah anjuran yang jelas dan disepakati kesunnahannya, tulisan ini kami ketengahkan hanya sebagai peringatan agar kita waspada terhadap hadits-hadits lemah yang kerap disebutkan oleh para penceramah yang gegabah.

Tulisan ini berasal dari kitab Fiqhul Iktikaf Hal. 33 Karya Syaikh Dr. Khalid bin Ali Al-Musyaiqih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.