Ketika “Teroris” Belajar Membaca

Di balik Isu terorisme dalam buku ‘Anak Islam Suka Membaca’ ini, ada pertanyaan besar mengemuka: Apakah ketakutan kita terhadap isu terorisme berkedok agama sudah sedemikian besarnya, sehingga kita gelap mata. Mudah membubuhkan stempel ‘radikal’ dan ‘teroris’ kepada sesama saudara, padahal mereka berlepas diri darinya?

Jangan sampai pula ketakutan terhadap isu terorisme membuat kita turut andil menyebabkan masyarakat umum menjadi phobia terhadap istilah-istilah penting dan prinsip-prinsip dasar dalam Ajaran Islam.

Siang itu, di sebuah laman berita daring, muncul kabar yang mengejutkan. Ada buku untuk anak TK yang memuat ajaran teroris. Lantas, sebuah ormas yang menemukan buku tersebut meminta agar pemerintah menariknya dari peredaran.

Lebih mengejutkan lagi, ternyata buku yang menghebohkan itu tak asing lagi dihadapan para orang tua, khususnya pendidik anak usia dini. Buku berjudul “Anak Islam Suka Membaca” itu kini telah menjadi buku panduan belajar membaca di banyak TK dan PAUD Islam.

Bila ditilik lebih jauh, buku tersebut sebenarnya telah mendapat sambutan positif dari masyarakat luas. Jika dilihat dari cetakan pertamanya yang terbit tahun 1999 (sudah 16 tahun beredar!), dan sudah ratusan kali cetak ulang. Per-tahun 2012 saja sudah memasuki cetakan ke seratus empat puluh tujuh. Sebuah prestasi yang sangat langka bagi dunia perbukuan di Indonesia.

Kelebihan buku ini adalah mengajarkan anak membaca dengan mudah dan sistematis, tanpa mengeja. Pilihan katanya juga mengenalkan anak pada ajaran dan nilai-nilai Islam yang mulia. Berbeda dengan kebanyakan buku sejenis, buku ini menggunakan pilihan kata yang memuat istilah-istilah penting dalam ajaran Islam, misalnya : hi jab, ji had, ta ha jud, atau kalimat “le la ki be la a ga ma”, “syahid di medan jihad”.

Namun, tampaknya, pilihan kata inilah yang membuat beberapa pihak curiga. Mungkin saja, ada beberapa pilihan kata yang kurang tepat, dan bisa jadi ditafsirkan berbeda oleh pembacanya. Misal, rangkaian kata “selesai”, “raih”, “bantai”, “kiai” sekedar contoh untuk menjelaskan monoftong ‘ai’. Itu pun sebenarnya kata yang terpisah, bukan satu kalimat utuh. Untuk hal ini penyunting buku sudah menyampaikan klarifikasinya, bahwa hal tersebut di luar kesengajaan, dan sekedar kata-kata yang dikenal oleh penulisnya. Penulis pun terbuka dan berterimakasih atas masukan terhadap buku itu, dan bersedia melakukan revisi.

Tetapi untuk menuduh bahwa buku ini mengajarkan benih radikalisme, apalagi bertujuan membentuk jaringan (teroris?), rasanya jauh panggang dari api!

Untuk menilai apakah buku itu benar-benar mengajarkan radikalisme atau bahkan terorisme, sebenarnya mudah saja. Silakan diteiliti para siswa yang belajar membaca dengan buku tersebut, jumlahnya sudah ribuan, dan sudah banyak yang menjelang dewasa. Apakah mereka lantas menjadi radikal, atau bahkan teroris?

Ada pertanyaan besar mengemuka, apakah ketakutan kita terhadap isu terorisme berkedok agama sudah sedemikian besar, sehingga gelap mata. Mudah membubuhkan stempel ‘radikal’ dan ‘teroris’ kepada sesama saudara, padahal mereka berlepas diri darinya.

Jangan sampai ketakutan terhadap isu terorisme membuat kita turut andil menyebabkan phobia, atau ketakutan terhadap istilah-istilah penting dan prinsip-prinsip dasar dalam Islam.

Tentu, kita sama-sama benci dan berlepas diri dari aksi teror atasa nama agama. Namun kebencian itu tidak boleh membuat kita kalap dan bertidak tergesa-gesa atas apa saja yang kita temui di depan mata. Bukankah Rasulullah pernah bersabda:

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada Asyaj ‘Abdul Qais,

إنَّ فيكَ خَصْلَتَيْنِ يُحِبُّهُمَا اللهُ : الْحِلْمُ وَالأنَاةُ

“Sesungguhnya pada dirimu ada dua perangai yang dicintai Allah yaitu al hilm (penyabar, bisa menahan amarah) dan al anah (berhati-hati, tidak tergesa-gesa”). (HR. Muslim)

Semoga Allah menganugerahkan kepada kita sikap penyabar dan tidak tergesa-gesa.

Wallahu A’lam.

Berikut klarifikasi dari penulis buku “Anak Islam Suka Membaca”:

Penjelasan Seputar Pemberitaan Buku Anak Islam Suka Membaca (AISM)
Sehubungan pemberitaan di beberapa media perihal buku “Anak Islam Suka Membaca (AISM)”, maka kami sampaikan penjelasan sebagai berikut:
Kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan saran/masukan terhadap buku kami. Saran/masukan tersebut akan kami jadikan sebagai bahan revisi.
Berkenaan jenis pilihan suku kata atau kalimat yang terdapat dalam buku AISM, tak ada maksud kami sedikitpun untuk mengarahkan anak didik terhadap pemahaman radikalisme dan atau terorisme. Bila jenis pilihan suku kata atau kalimat dimaksud diinterpretasikan (ditafsirkan) secara liar ke arah radikalisme dan atau terorisme, maka kami berlepas diri dari hal itu.
Kami mengabarkan dan menegaskan bahwa aqidah yang kami yakini, dan selalu kami ajarkan kepada putra putri kami dan anak didik kami, bahwa terorisme adalah perkara mungkar yang tidak dibenarkan oleh agama.
Kepada para guru, ustadz atau ustadzah yang menggunakan buku AISM, kami mohon bantuannya untuk menjelaskan secara baik dan benar kepada anak didik terkait kata atau kalimat yang bisa diinterpretasikan ke arah radikalisme dan atau terorisme.
Demikian penjelasan kami.
Sukoharjo, 11 Rabiul Akhir 1437 H/20 Januari 2016 M.
Penulis
Nurani Musta’in
Penyunting
Ayip Syafruddin

Oleh: Abu Hazimah