Kebatilan Tarian Sufi

Belum lama ini beredar video tarian seorang perempuan berjilbab di tengah sebuah majelis yang dihadiri para lelaki – yang menurut pengisi suara dalam video itu –  tarian itu adalah persembahan untuk seorang romo.

Tentu tindakan ini adalah tindakan yang sama sekali tidak pernah dicontohkan para Kyai dan Alim Ulama, terlebih oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam dan para shahabatnya.

Namun karena sebagian orang selalu berbaik sangka apabila suatu amalan itu berasal dari seorang yang ditokohkan, karena menurut mereka tidak mungkin seorang kyai atau tokoh bertindak tanpa ada petunjuk dari kitab ulama, maka dari itulah tulisan ini kami susun.

Hadits yang dijadikan sandaran hukum bolehnya menari menurut mereka adalah :

عن أبي إسحاق، عن هانئ بن هانئ، عن علي، قال: أتيت النبي صلى الله عليه وسلم أنا وجعفر، وزيد، قال: فقال لزيد: ” أنت مولاي ” فحجل، قال: وقال لجعفر: ” أنت أشبهت خلقي وخلقي “، قال: فحجل وراء زيد، قال: وقال لي: ” أنت مني، وأنا منك “، قال: فحجلت وراء جعفر

Dari Abu Ishaq, dari Hani’ bin Hani’, dari Ali, beliau berkata: “Aku dan Ja’far, dan Zaid, pernah menemui Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, Ali menceritakan ; “Nabi berkata kepada Zaid ; “Engkau adalah Maula – ku”, maka ia pun melompat (dengan satu kaki) kegirangan. Ali berkata: “dan beliau berkata kepada Ja’far; “Engkau menyerupai bentuk rupaku dan akhlakku,” Ali berkata; “Maka Ja’far melompat (dengan satu kaki) kegirangan dibelakang Zaid”. Ali berkata; “Dan Nabi berkata kepadaku : “Engkau bagian dari diriku dan aku bagian dari dirimu,” Ali berkata ; Maka aku pun melompat (dengan satu kaki) kegirangan dibelakang Ja’far”.

Hadits riwayat Ahmad, dan makna Yahjal atau Al-Hajl dalam hadits iniadalah :

 أن يرفع رجلا ويقفز على الأخرى من الفرح، وقد يكون بالرجلين إلا أنه قفز

Mengangkat satu kaki dan kaki satunya lagi dijadikan tumpuan untuk melompat karena gembira, dan kadang dengan kedua kaki, namun ini disebut dengan melompat.

Hukum Hadits

Menurut Muhaddits Syu’aib Al-Arnauth, Muhaqqiq Musnad Ahmad, hadits ini sanadnya lemah alias Dha;if , beliau berkata:

إسناده ضعيف، هانىء بن هانئ تقدم القول فيه عند الحديث رقم (769) ومثله لا يحتمل التفرد، ولفظ الحجل في الحديث منكر غريب، وقد تقدم نحو هذا الحديث برقم (770) من روايته ورواية هبيرة بن يريم معا وليس فيه هذا اللفظ. وأخرجه البزار (744) من طريق عبيد الله بن موسى، عن إسرائيل، بهذا الإسناد

“Sanadnya lemah, Hani’ bin Hani’ di sini telah berlalu penjelasan tentangnya pada hadits No. 769 – dan periwayat seperti dia ke-Tafarrud-annya tidak dapat dibawa sebagai hujjah, dan kata Al-Hajl dalam hadits ini adalah kata yang Munkar lagi Gharib, dan hadits semisal dengan ini telah berlalu pada No. 770 dari periwayatannya Hani’ bin Hani’, dan periwayatan Hubairah bin Maryam secara bersamaan, namun kata ini tidak ada di dalamnya.”

Dan hadits ini telah dikeluarkan Al-Bazzar (744) dari jalan Ubaidillah bin Musa, dari Israil, dengan Sanad (dalam hadits) ini.[1]

Dan hadits ini dinilai lemah juga oleh Ibnu Hajar Al-Haitsamiy seperti yang beliau tegaskan dalam kitabnya KaffurRa’aak ‘An Muharramatil Lahwi Wassama’.  (1/44) cet. Darulqur’an– Kaero.

Pendapat Ahmad Ibnu Hajar Al-Haitamiy ( 909 – 974 H.)[2]

Sebagian orang membolehkan tarian sufi pada era ini – yang bentuknya sudah sangat kental dengan tarian musikal hiburan yang diharamkan Islam – dengan bersandar kepada fatwa Ibnu Hajar Al-Haitamiy yang disebutkan dalam Fatawa Al-Haditsiyyah (1/511) Cet. Darulkutub Al-Ilmiyyah ; Beliau ditanya : “Apakah tarian Sufi ketika mereka mengalaminya ada dasarnya? , beliau menjawab:

نعم له أصل فقد روي في الحديث أن جعفر بن أبى طالب رضي الله عنه رقص بين يدي النبي صلى الله عليه وسلم لما قال له “أشبهت خلقي وخلقي” وذلك من لذة هذا الخطاب ولم ينكر عليه صلى الله عليه وسلم. وقد صح القيام والرقص في مجالس الذكر والسماع عن جماعة من كبار الأئمة منهم عز الدين شيخ الإسلام ابن عبد السلام

“Ia, ada asalnya, sesungguhnya telah diriwayatkan dalam hadits sesungguhnya Ja’far bin Abi Thalib radliyallahu anhu pernah menari di depan nabi shallallahu alaihi wasallam ketika Nabi bersabda kepada dirinya ; “Engkau serupa dengan parasku dan akhlakku,” tarian itu terjadi karena kelezatan kalimat yang diutarakan dan nabi tidak mengingkari atas tariannya Ja’far. Berdiri dan menari di majelis-majelis dzikir dan Sama’  telah benar adanya dilakukan dari sekelompok para Imam besar di antaranya adalah ‘Izzuddin Syaikhulislam Ibnu Abdissalam,”.

Tarian yang dimaksudkan boleh dan punya asal oleh Ibnu Hajar dalam fatwa ini adalah tarian yang tidak dibuat-buat sehingga menyerupai dansa dan tarian perempuan dan banci. Menguatkan hal ini, Ibnu Hajar Al-Haitsamiy beliau berkata:

ما تقرر في الرقص من أنه إن كان فيه تثن أو تكسر حرم على الرجال والنساء وإن انتفى كل منهما عنه كره

“Sesuatu yang telah tetap dalam masalah Raqsh (menari) adalah bahwa jika di dalamnya ada gerakan Tatsannun (gemulai seperti perempuan) atau Takassur (lentur dan loyo) , maka diharamkan atas kaum lelaki dan perempuan, dan jika kedua gerakan itu tidak ada dalam tarian itu maka Makruh.”[3]

Dengan demikian maka sangat tidak tepat dan adil kemudian apabila fatwa Ibnu Hajar dalam Fatawa Al-Haditsiyyah dijadikan sebagai tameng untuk membolehkan tarian sufi seperti yang disebutkan oleh banyak orang. gerakan tarian mereka penuh dengan gemulai dan kelenturan, dan bahkan pakaian yang mereka gunakan untuk menari serupa dengan wanita.

Dan di sini ada tinjauan ilmiyyah, bahwa Hadits yang disebutkan dalam fatwa ini ternyata diingkari sendiri oleh beliau, seperti yang beliau sebutkan dalam kitab khusus lainnya;

أن هذه كلها أحاديث منكرة وألفاظ موضوعة مزورة ولو سلمت صحتها لم يتحقق حجتها

“Sesungguhnya semua hadits ini adalah hadits yang Munkar, dan lafazh-lafazhnya dibuat-buat dan dipalsukan, walau pun seandainya hadits ini selamat maka kehujjahannya tidak betul.”[4]

hal ini semakin menguatkan bahwa Ibnu Hajar tidak pernah membolehkan tarian sufi dan tidak membenarkan tarian tersebut memiliki asal dari hadits.

Dan Syaikhulislam Izz Ibnu Abdissalam sendiri ternyata mengingkari tarian sufi yang mereka klaim sebagai gerakan tanpa sadar yang terjadi karena kelezatan dalam menjiwai kata-kata sufi dalam majelis Sama‘. Dalam kitabnya Qawa’idul Ahkam (2/257) beliau berkata:

وأما الرقص والتصفيق فخفة ورعونة مشبهة لرعونة الإناث لا يفعلها إلا راعن أو متصنع كذاب وكيف يتأتى الرقص المتزن بأوزان الغناء ممن طاش لبه وذهب قلبه، وقد قال عليه السلام: “خير القرون قرني ثم الذين يلونهم ثم الذين يلونهم”، ولم يكن أحد من هؤلاء الذين يقتدى بهم يفعل شيئا من ذلك

Dan adapun menari dan menepuk maka adalah tindakan kurang akal dan kebodohan yang serupa dengan kebodohan perempuan, tidak ada yang melakukannya kecuali orang yang bodoh, Mutshanni‘ (kepura-puraan), lagi pendusta, bagaimana bisa (dibenarkan) tarian yang berimbang dengan tangga-tangga nada nyanyian yang dilakukan oleh orang yang rancu kecerdasannya, dan hilang hatinya!?, Sementara Nabi shallallahu alaihi wasallam telah bersabda: “Sebaik-baik kurun adalah kurunku, kemudian kurun yang menyusulnya, kemudian kurun yang menyusulnya.” Dan tidak seorang pun dari mereka yang dijadikan panutan melakukan sedikit pun perbuatan itu”.

 وإنما استحوذ الشيطان على قوم يظنون أن طربهم عند السماع إنما هو متعلق بالله عز وجل ولقد مانوا فيما قالوا وكذبوا فيما ادعوا من جهة أنهم عند سماع المطربات وجدوا لذتين اثنتين: إحداهما لذة المعارف والأحوال المتعلقة بذي الجلال. والثانية: لذة الأصوات والنغمات والكلمات الموزونات الموجبات للذات النفس التي ليست من الدين ولا متعلقة بأمور الدين، فلما عظمت عندهم اللذتان غلطوا فظنوا أن مجموع اللذة إنما حصل بالمعارف والأحوال، وليس كذلك بل الأغلب عليهم حصول لذات النفوس التي ليست من الدين بشيء

“Sesungguhnya perbuatan itu hanyalah bentuk penyesatan setan atas kelompok orang yang menyangka bahwa getaran mereka ketika Assama’ (mendengar lantunan kata-kata yang disusun sufi)  adalah sesuatu yang terhubung dengan Allah ‘Azza Wajalla, dan (dengan ini) sebenarnya mereka telah berbohong dengan apa yang mereka ucapkan, dan telah berdusta pada apa yang telah mereka klaim, dari sisi bahwa mereka menyangka ketika mendengar tabuhan-tabuhan gendang mereka menemukan dua kelezatan; Salah satunya kelezatan musik dan Al-Ahwal yang berhubungan dengan Allah (Dziljalal). Dan kedua ; kelezatan suara dan dengungan, dan kalimat-kalimat yang ditimbang yang menghasilkan kelezatan untuk jiwa yang ia bukanlah bagian dari Agama dan tidak ada sangkut pautnya dengan urusan Agama, maka ketika kelezatan itu telah menjadi begitu besar dalam diri mereka, mereka salah, sehingga mereka menyangka bahwa kumpulan kelezatan itu sesungguhnya hanyalah hasil dari musik dan Al-Ahwal, namun bukan begitu, akan tetapi kebanyakan yang terjadi pada diri mereka adalah tercapainya kelezatan untuk jiwa yang bentuknya bukan bagian dari Agama sedikit pun.”[5]

Al-Ahwal adalah salah satu istilah dunia sufi, yang mereka maksud dengannya adalah datangnya suatu rasa secara tiba-tiba tanpa diusahakan dan tanpa dibuat-buat seperti sedih, rindu, atau takut dan berharap.[6]

Penegasan Syaikhulislam ‘Izzuddin Ibnu Abdissalam – rahimahullah – inilah yang benar, dan wajib dijadikan sandaran sehingga tidak ada jalan untuk mengatakan tarian sufi yang dikembangkan oleh KH Amin Maulana Budi Harjono di pesantren Al-Ishlah merupakan ajaran Ahlussunnah. Wallahu A’lam.

 


  

[1] Musnad Imam Ahmad No. 875 (2/213) versi Maktabah Asyyamilah

[2] Lihat biografinya seperti yang ditulis Syaikh Muhammad bin Abdil Aziz al-Syayi’ dalam Ara’u Ibnu Hajar Al-Haitamiy, Al-‘Iktiqodiyyah.

[3] Kaffurro’ak (1/41)

[4] Kaffuro’ak (1/44) cet. Maktabatulqur’an – Kaero

[5] Qawa’idulahkam (2/257) Darulqalam – Damaskus

[6] Risalah Al-Qusyairiyyah (1/154)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.