Kebatilan Kisah Nabi Dawud Jatuh Hati Pada Istri Prajuritnya Sendiri

 

Alkisah , Nabi Dawud – ‘Alaihissalam – pernah berbisik dalam dirinya apabila suatu saat nanti dia diuji, maka ia akan mengisosali diri dari orang-orang, lalu kemudian ada yang berkata kepadanya; “kamu sungguh akan diuji dan kamu akan mengetahui hari ujian itu datang maka waspadalah”.

Lau beliau pun mengambil kitab Azzabur dan masuk ke dalam mihrabnya dan melarang siapa pun masuk menemuinya.

Ketika beliau sedang membaca Azzabur, tetiba hinggaplah seekor burung yang sangat indah, burung itu bergerak sampai ke depannya, sehingga terbersiklah dalam hati beliau untuk menangkap burung itu dengan tangannya, namun burung itu bergerak sampai akhirnya hinggap di jendela kecil mihrab, beliau pun mendekati burung itu untuk menangkapnya namun tidak berhasil dan burung itu pun terbang dan pergi.

Beliau kemudian naik ke atas mihrab untuk melihat kemana burung itu terbang, akan tetapi yang beliau lihat kemudian adalah seorang perempuan yang sedang mandi, ketika perempuan itu melihat nabi dawuwd, seketika ia menutup tubuhnya dengan rambutnya.-  Assuddiy menjelaskan; – setelah melihat perempuan itu ia (nabi dawud) jatuh hati padanya.

Perempuan ini adalah seorang perempuan yang telah memiliki suami, dan suaminya sedang pergi berperang di jalan Allah, ia bernama Uriya bin Hayyan (baca; Aria).

Maka kemudian Dawud – ‘Alaihissalam – memerintahkan kepada pemimpin pasukan yang sedang bertugas saat itu untuk menempatkan suami perempuan itu sebagai penjaga pasukan Tabut.

Pasukan Tabut sendiri ketika itu adalah pasukan berani mati, pilihannya hanya dua saja, mereka menang atau mati. Dan akhirnya setelah ia ditempatkan sebagai penjaga Tabut, Uriya bin Hanyyan gugur.

Jadilah perempuan itu seorang janda, dan setelah iddahnya selesai, Dawud –‘alaihissalam– melamarnya, sebagai syaratnya perempuan itu meminta apabila kelak ia melahirkan anak lelaki maka anak tersebut harus menjadi khalifah pengganti Dawud, dan anak tersebut kelak adalah Nabi Sulaiman ‘Alaihissalam.[1]

Seperti inilah salah satu isi kisahnya, di situ ada beberapa versi lainnya namun isi dan intinya tidak berbeda dengan yang kami nukilkan di sini.

Pendapat Imam Al-Qurthubi

Setelah menceritakan kisah ini, Imam Al-Qurthubi menjelaskan bahwa kisah ini diriwayatkan juga oleh Al-Mawardi, dan oleh yang lainnya namun cerita ini tidak benar (tidak shahih). [2]

Pendapat Al-Hafizh Ibnu Katsir

Menurut Al-Hafizh Ibnu Katsir – rahimahullah – bahwa kisah ini berasal dari cerita Israiliyyat dan tidak ada kisah yang berasal dari Nabi Muhammad – shallallahu ‘alaihi wasallam – secara Marfu’ yang mesti dikuti dan diyakini sebagai suatu kisah yang benar dan fakta, beliau berkata:

قد ذكر المفسرون هاهنا قصة أكثرها مأخوذ من الإسرائيليات ولم يثبت فيها عن المعصوم حديث يجب اتباعه ولكن روى ابن أبي حاتم هنا حديثا لا يصح سنده؛ لأنه من رواية يزيد الرقاشي عن أنس -ويزيد وإن كان من الصالحين-لكنه ضعيف الحديث عند الأئمة فالأولى أن يقتصر على مجرد تلاوة هذه القصة وأن يرد علمها إلى الله عز وجل فإن القرآن حق وما تضمن فهو حق أيضا

“Para ahli tafsir di sini telah menyebutkan suatu kisah yang kebanyakan kisah itu diambil dari Al-Israiliyyat dan tidak ada hadits yang valid dalam kisah ini yang berasal dari Al-Makshumshallallahu ‘alaihi wasallam – yang menjadi wajib untuk kita mengikutinya, tetapi Ibnu Abi Hatim di sini telah meriwayatkan satu hadits yang tidak shahih sanadnya, karena hadits itu berasal dari riwayat Yazid Al-Qarrasyi dari Anas – dan yazid meskipun beliau termasuk dari kelompok orang-orang shalih – namun beliau Dla’if (lemah) dalam hadits di sisi para Imam.

Maka yang lebih utama adalah sebatas mencukupkan diri membaca kisah dengan yang ada dalam Ayat ini saja, dan pengetahuan tentangnya secara detil agar dikembalikan kepada Allah ‘Azza Wajalla, maka sesungguhnya Al-Qur’an adalah kebenaran dan apa pun yang dikandungnya maka pasti kebenaran juga.”[3]

Penegasan Al-‘Allamah Muhammad Al-Amin Al-Syinqithiy

Al-‘Allamah Muhammad Al-Syinqithi ,Beliau juga menegaskan bahwa kisah tersebut adalah kisah yang tidak layak dipertimbangkan dan tidak baik disandarkan kepada Nabi Dawud – ‘Alaihisslam – beliau berkata;

واعلم أن ما يذكره كثير من المفسرين في تفسير هذه الآية الكريمة ، مما لا يليق بمنصب داود عليه وعلى نبينا الصلاة والسلام ، كله راجع إلى الإسرائيليات ، فلا ثقة به ، ولا معول عليه ، وما جاء منه مرفوعا إلى النبي صلى الله عليه وسلم لا يصح منه شيء

“Ketahuilah, sesungguhnya apa yang telah banyak disebutkan oleh para mufassir dalam tafsir Ayat Yang Mulia ini (QS; Shad 21-26) adalah bagian dari kisah yang tidak pantas dengan kedudukan Nabi Dawud –alaihissalam – dan kedudukan nabi kita – ‘Alihisshalatu Wassalam -, semuanya itu adalah kisah yang referensinya kembali ke Al-Israiliyyat – maka tidak ada yang dapat dipercaya, dan tidak bisa dijadikan dasar dalil, dan apa yang datang secara Marfu’ kepada nabi – shallallahu ‘alaihi wasallam – tidak ada yang shahih dariya sedikit pun.”[4]

Penjelasan Al-‘Allamah Al-Amin Al-Syinqithi ini dibenarkan dan telah dijadikan sebagai rujukan fatwa oleh Komite Tetap Riset Ilmiah dan Kefatwaan Saudi Arabia sebagaimana yang tertuang dalam fatwa dengan no. Pertanyaan (8257) bahwa kisah tersebut memang kisah yang tidak layak dan tidak pantas disandarkan kepada nabi Dawud –‘Alahissalam

Maka siapa pun yang menyampaikan kisah ini kepada masyarakat dalam ceramah dan taushiahnya, hendaknyalah mereka menjelaskan bahwa kisah tersebut tidak benar adanya, bukan sebaliknya, yaitu diceritakan dalam rangka pembenaran terhadapnya sehingga masyarakat menjadi beropini negatif kepada nabi Dawud Alaihissalam.

Demikian Wallahu A’lam.

 

[1] Imam Al-Qurthubi / Tafsir Aljami’ Li Ahkamil Qur’an / 18/155

[2] Imam Al-Qurthubi / Tafsir Aljami’ Li Ahkamil Qur’an / 18/156.

[3] Tafsir Ibnu Katsir 7/60.

[4] Tafsir al-Adlwaulbayan 6/339

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.