Kaedah “al-Dzahabiyyah” Menurut al-‘Allamah Ibnu ‘Utsaimin

Teduh.Or.Id – Kaedah ini disebut oleh para pembelanya dengan sebutan kaedah al-Dzahabiyyah, dan yang dimaksud dengannya adalah ungkapan:

نتعاون فيما اتفقنا عليه ويعذر بعضنا فيما إختلفنا عليه

“Kita saling membantu dalam urusan yang kita bersepakat di dalamnya dan kita memberikan ‘Udzur (dispensasi vonis hukum) terhadap satu dengan yang lainnya dalam perkara yang kita perselisihkan”[1]

Kaedah ini dinisbatkan kepada Syaikh Rasyid Ridla penulis kitab Tafsir al-Manar kemudian syaikh Hasan al-Banna menyebutkannya dalam beberapa karya tulisnya sehingga orang-orang mengira itu adalah gubahannya.

Ketika ditanya tentang kaedah ini, al-‘Allamah Muhammad bin Shalih ‘Utsaimin Rahimahullah menjawab:

“Pendapat kami terhadap kalimat ini bahwa di dalamnya terdapat makna yang umum: “Adapun berkumpul dalam perkara yang kita telah sepakati bersama maka ini kalimat yang benar. Sedangkan meng’udzurkan sebagian dengan yang lainnya dalam perkara yang kita berbeda di dalamnya, maka di dalamnya ada rincian:

Perkara yang di dalamnya ada keluasan untuk melakukan Ijtihad, maka kita saling memberikan udzur satu dengan yang lainnya akan tetapi hati kita tidak boleh menjadi berselisih karena perbedaan yang demikian.

Adapun jika melakukan Ijtihad di dalam perkara tersebut tidak ada keluasan padanya (tidak Saa’igh) maka kita tidak memberikan ‘udzur kepada siapa pun yang menyelisihinya, dan orang tersebut wajib tunduk kepada kebenaran.

Dari itu maka kata-kata yang bagian awal adalah benar, adapun kata-kata bagian akhirnya membutuhkan kepada perincian.”[2]

lebih jelas menanggapi bagian pertama dari kaedah ini, dalam kesempatan lainnya beliau juga menjelaskan:

يعين بعضنا بعضاً فيما اتفقنا فيه فهذا غير صحيح أيضاً؛ لأننا لو اتفقنا على باطل لم يحلّ أن يعين بعضنا بعضاً بل وجب أن ينهى بعضنا بعضاً عن هذا الباطل، فهو أيضاً على إطلاقه لا يصح، ولعلَّ الذي قاله يقصد ما ليس بباطل ولا يخالف الشريعة، لكن الجملة الأولى دخل فيها أناس عندهم انحراف في العقيدة وفي المنهج والإسلام, يسعهم وقالوا: نحن يجب أن نستظل بظل الإسلام وإن اختلفنا، ولذلك تجدهم يُدخلون في حزبهم الفاسق حالق اللحية، شارب الدخان، المتهاون بالصلاة وما أشبه ذلك، وهذا خطأ، وفي المقابل الذي يريد من الناس أن يكونوا صلاّحاً في كل دقيق وجليل وإلا فليسواإخواناً لنا، وهذا أيضاً خطأ

“Sebagian kita membantu yang lainnya dalam masalah yang telah kita sepakati, maka ini tidak benar juga, karena kalau kita bersepakat di atas kebatilan (maka hukumnya) tidak halal sebagian kita menolong sebagian yang lainnya, akan tetapi (sikap yang benar adalah) sebagian dari kita wajib melarang sebagian lainnya atas kebatilan tersebut. Ungkapan tersebut juga tidak benar secara mutlak, dan kemungkinan orang yang mengucapkannya bermaksud kalau itu berlaku pada perkara yang tidak batil dan tidak melanggar syariat. Akan tetapi ucapan yang bagian pertama ini, orang-orang yang masuk ke dalamnya adalah mereka yang memiliki penyelewengan dalam aqidah dan Manhaj dan Islam, (ucapan ini) memperluas mereka dan mereka berkata: “Kita wajib bernaung dengan naungan Islam walau pun kita berbeda”, dan oleh karena sebab itu engkau mendapatkan mereka memasukkan orang yang fasiq, membotaki jenggot, merokok, menyepelekan shalat, dan hal-hal yang semisal dengan itu, dan ini kesalahan. Dan di sisi berlawanan adalah orang yang menginginkan dari orang-orang agar mereka semua menjadi orang-orang yang saleh dalam setiap perkara yang detil atau pun yang jelas, jika tidak maka mereka bukan saudara kami, dan (cara) ini juga adalah kesalahan”.[3]


 

[1] islamweb

[2] (al-Shahwatulislamiyyah 144-145)

[3] Alukah