Julaibib Dan Cinta ٍSeorang Gadis Madinah

Setelah peperangan itu usai, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bertanya kepada para pasukannya; “Apakah kalian kehilangan seseorang?” pertanyaan ini beliau ulangi sampai tiga kali.

Para Shahabat Radhiyallahu ‘Anhum ketika itu hanya menyebut nama nama yang mereka kenal dan gugur dalam perang itu, namun mereka terdiam tidak menyebut siapa pun ketika untuk yang ketiga kalinya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengulangi pertanyaannya, Pertanda semua yang telah wafat dalam perang itu telah disebutkan namanya satu persatu.

Mengejutkan, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menyebut nama seorang yang luput namanya disebut oleh para Shahabatnya, pertanda bahwa orang tersebut tidak begitu populer dikalangan para Shahabat kala itu namun Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam merasa kehilangan dirinya, siapakah dia?

Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Tapi aku kehilangan Julaibib, carilah dia”.

Julaibib, beliaulah Shahabat Nabi yang luput namanya disebut oleh pasukan itu, bukan karena apa apa, namun semata karena memang Julaibib bukanlah seorang yang populer di kalangan para Shahabat kala itu, Andai saja Nabi tidak menyebut namanya, mungkin tidak akan ada yang akan menyebut namanya apalagi akan mengenangnya.

Pencarian pun dilakukan, Julaibib Radhiyallahu ‘Anhu ditemukan oleh para Shahabat di samping tujuh mayat musuh, ketujuh mayat tersebut telah dibunuh oleh Julaibib sebelum kemudian musuh berhasil membunuh Julaibib.

Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, sang panglima terhebat yang pernah ada di jagat ini, datang menemui jenazah Julaibib, lalu bersabda: “Ia telah membunuh tujuh orang kemudian mereka membunuhnya, (Dia) ini dariku dan aku bagian darinya, (dia) ini dariku dan aku bagian darinya”.

Luar biasa, sabda itu memiliki makna yang sangat dalam, betapa Julaibib adalah sosok yang begitu disayangi oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, itu menunjukkan Manzilahnya di sisi Nabi, walau pun di sisi orang lain nampak seperti biasa.

Lalu Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam meletakkan jenazah Julaibib di atas kedua tangannya yang mulia, tidak ada benda apa pun yang menopang jenazah Julaibib kecuali hanya kedua tangan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam saja, sampai jenazahnya diletakkan di kubur tanpa dimandikan sebelumnya.

Julaibib mati sebagai Syuhada’ atas kesaksian Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, andai saja tidak, maka tidaklah jenazah Julaibib akan dikubur tanpa dimandikan sebelumnya oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Sebelum perang ini terjadi dan Julaibib gugur di dalamnya, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah melamar seorang gadis di Madinah, namun bukan untuk dirinya sendiri, beliau melamar gadis itu agar dinikahkan dengan Julaibib. besar kemungkinan, seadainya Julaibib yang melamar secara langsung, maka lamarannya akan ditolak.

Dan benar saja, mendengar anak gadisnya dilamar Nabi untuk Julaibib, sang Ibu menolaknya, ibu gadis tersebut tidak setuju anak gadisnya dinikahkan dengan Julaibib.

Gambaran apakah yang terbayang dalam benak kita, mendengar lamaran seorang lelaki ditolak walau pun yang melamarkannya adalah seorang Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam?, Seorang lelaki yang biasa biasa saja, seorang lelaki yang tidak populer dan tidak menjanjikan apa apa secara keduniaan.

Bagai cinta yang tak pernah mengenal takut dan gentar, dan seumpama hembusan yakin yang tak mengenal rona dan kosa kata, begitu mengetahui yang datang melamarkan Julaibib adalah Nabi, gadis itu malah dengan mantap menerima dan menyetujui lamaran itu. Ia berkata dengan penuh keimanan; “Apakah kalian akan menolak perintah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam? mohon antarkan aku kepadanya, sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tidak akan membuatku tersia siakan”.

Ternyata dunia tidak tahu itu, dunia hanya mengabadikan kisah picisan cinta romeo dan juliet, dan manusia banyak yang tidak pernah mendengar kisah nyata sebuah cinta yang sulit untuk dinalar oleh perasaan dan tak terwakili oleh gubahan puisi dan syair syair yang kadang hanya dusta dan angan-angan. Ia, kisah nyata itu adalah kisah seorang gadis kota Madinah yang dilamarkan Nabi untuk Julaibib.

(Diceritakan ulang dari Hadits Riwayat Muslim, Ahmad, dan Ibnu Hibban)

Abu ‘Affaf