Jual Beli Kucing Versi Imam Ibnu Qudamah

 

Jual beli kucing (Al-Hirr) hukumnya boleh menurut mayoritas ulama,

Imam Ibnu Qudamah –rahimahullah – berkata:

وأما الهر فقال الخرقي : يجوز بيعها وبه قال ابن عباس و الحسن و ابن سيرين و الحكم و حماد و الثوري و مالك و الشافعي و إسحاق وأصحاب الرأي

Dan adapun kucing (Al-Hirr) maka Al-Khiraqiy berkata: “Boleh jual belinya, dan dengannya Ibnu Abbas, dan Al-Hasan, dan Ibnu Sirin, dan Al-Hakam, dan Hammad, dan Ats-Tsauriy, dan Malik, dan Asy-Syafi’i, dan Ishaq, dan Aliran Ra’yu telah berpendapat.

 وعن أحمد أنه كره ثمنها وروي ذلك عن أبي هريرة و طاوس و مجاهد و جابر بن زيد واختاره أبو بكر لما روى مسلم [ عن جابر أنه سئل عن ثمن السنور فقال : زجر النبي صلى الله عليه و سلم عن ذلك ] وفي لفظ رواه أبو داود عن جابر [ أن النبي صلى الله عليه و سلم نهى عن ثمن السنور ] قال الترمذي : هذا حديث حسن وفي إسناده اضطراب

Dan (pendapat) dari Imam Ahmad, sesungguhnya beliau Kariha (memakruhkan) harganya, dan pendapat tersebut telah diriwayatkan pula datang dari Abu Hurairah, dan Thawus, dan Mujahid, dan Jabir bin zaid, dan Abu Bakr telah memilihnya, karena hadits yang diriwayatkan Muslim dari Jabir bahwa beliau pernah ditanya tentang (hukum) harga kucing, beliau menjawab: “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam Zajara hal tersebut”, dan dalam satu lafaz hadits yang diriwayatkan Abu Dawud dari Jabir sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah melarang dari harga (jual beli) kucing, Attirmidziy berkata: “Hadits Hasan, dan pada sanadnya terjadi Idh-Thirab (redaksi haditsnya tidak tetap).

Setelah itu Imam Ibnu Qudamah Rahimahullah kemudian menerangkan alasan bolehnya menjualbelikan kucing, beliau melanjutkan:

 ولنا ما ذكرنا فيما يصاد به من السباع ويحمل الحديث على غير المملوك منها أو ما لا نفع فيه منها بدليل ما ذكرنا ولأن البيع شرع طريقا للتوصل إلى قضاء الحاجة واستيفاء المنفعة المباحة ليصل كل واحد إلى الانتفاع بما في يد صاحبه فما يباح الانتفاع به ينبغي أن يجوز بيعه

Dan dalil kami (akan bolehnya) adalah apa yang telah kami sebutkan dalam pembahasan hewan Siba’ yang diburu, dan hadits tersebut dibawa maksudnya ke hewan buruan Siba’ yang tidak dimiliki, atau hewan buruan Siba’ yang tidak bermanfaat dengan dalil yang telah kami sebutkan. Dan karena jual beli (Bai’) disyariatkan sebagai jalan untuk sampai kepada memenuhi kebutuhan dan menunaikan manfaat yang bersifat boleh (Mubah) agar setiap individu dapat memanfaatkan sesuatu yang berada di tangan temannya, maka apa saja yang diperbolehkan memanfaatkannya seyogyanya boleh memperjualbelikannya.”.[1]

Alasan yang dikemukakan Imam Ibnu Qudamah dapat dipahami dari penjelasan beliau yang lain dalam konteks yang sama dengan bahasan jual beli kucing, beliau di awal penjelasan mengatakan bahwa :

أن كل مملوك أبيح الإنتفاع به يجوز بيعه الا ما استثناه الشرع

“Sesungguhnya setiap sesuatu yang sah dimiliki dan dibolehkan memanfaatkannya, maka boleh dijualbelikan, kecuali sesuatu yang telah dikecualikan Syari’at.”

Bahkan ketika mengomentari pendapat yang tidak memperbolehkan jual beli singa, dan elang, dan yang semisal dengan keduanya, beliau juga berkata:

ولنا أنه حيوان أبيح إقتناؤه وفيه نفع مباح من غير وعيد في حبسه فأبيح بيعه كالبغل

“Dan bagi kami, itu adalah hewan yang boleh dipelihara, dan ada manfaat padanya, tanpa ada ancaman (Wa’id) dalam memeliharanya, maka boleh dijualbelikan seperti hewan Baghl.”

Di samping alasan yang telah diutarakan sebelumnya, maka ketika semua alasan tersebut ada pada kasus jual beli kucing, di mana kucing boleh dimiliki dan dipelihara tanpa ada ancaman di dalamnya, dan terdapat manfaat di dalamnya maka hukumnya menjadi boleh dijualbelikan.

Demikian, Wallahu A’lam.

Musa Abu ‘Affaf, BA.


[1] Al-Mughni (6/360) Cet. Dar ‘Alamul-Kutub.

Comments

comments