Jangan Tunda Berbukamu

Teduh.Or.Id – Urusan berbuka puasa adalah urusan yang begitu menyenangkan, asyik dan bahkan seru. Seru karena kadang dimeriahkan dengan Bukber dengan keluarga dan teman-teman, sehingga tidak mengherankan apabila ada orang yang sangat begitu memprioritaskan moment berbuka ini harus bersama keluarga. Seperti ada yang kurang rasanya jika berbuka puasa di jalan atau jauh dari keluarga.

وللصائم فرحتان يفرحهما إذا أفطر فرح بفطره وإذا لقى ربه فرح بصومه

“Dan untuk orang yang berpuasa ada dua kegembiraan yang akan menggembirkannya; Apabila dia berbuka dia senang dengan berbuka puasa yang dia lakukan dan apabila kelak dia bertemu Rabbnya dia senang dengan pahala puasanya.” (HR: Muslim)

Kegembiraan yang hadir saat berbuka puasa adalah hal yang manusiawi. Betapa tidak demikian, setelah seharian lamanya menahan diri dari rasa haus dan lapar, lalu kemudian disambut dengan menu berbuka yang telah diidam-idamkan sebelumnya. Wah tentu sangat nikmat, dan tentunya hanya yang berpuasa saja yang dapat merasakan kenikmatan ini.

Namun kegembiraan pada saat berbuka semestinya juga dilandasi oleh rasa syukur atas keberhasilan menjalankan perintah Allah dengan baik dan sempurna di bulan ramadan. bukan sekedar karena hanya bertemu kembali dengan menu makanan. Dan inilah sepertinya kegembiraan yang lebih bermakna dari pada sekedar kegembiraan melampiaskan nafsu makan dan minum.

Walau pun begitu, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tetap menganjurkan ummatnya agar tidak menunda-nunda berbuka puasa, bahkan mempercepat berbuka puasa pada waktunya adalah satu kebaikan dan Sunnah Beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

لايزال الناس بخير ما عجلوا الفطر

“Orang-orang senantiasa akan berada dalam kebaikan selama mereka masih menyegerakan berbuka puasa”

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, dan sebagaimana yang disebutkan oleh al-Hafidz Ibnu Hajar bahwa hadits ini – menurut Ibnu Abdil Barr telah sampai kepada derajat Mutawatir. (Fathul Bariy 4/199. Cetakan Darul Ma’rifah Versi Maktabah asy-Syamilah)

Ajuran menyegerakan berbuka puasa dalam hadits ini membuktikan betapa Syariat Islam adalah Syari’at yang sangat teratur dan dibangun di atas dasar kemashlahatan untuk ummat manusia pada umumnya. Dan juga sebagai bukti nyata atas bebasnya Syariat Islam dari ajaran atau petunjuk yang bersifat Ghuluww (berlebih-lebihan). Sehingga jika memang sudah waktunya untuk berbuka maka segerakan saja, menunda-nundanya bukan satu kebaikan walau pun dengan alasan semakin mengundur berbuka puasa maka akan semakin terasa dia taat kepada Allah. Sungguh hal tersebut bukan kebaikan.

Dalam riwayat lainnya, tepatnya dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu diceritakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam selalu menyegerakan berbuka sehingga beliau tidak mendirikan Shalat Maghrib sebelum berbuka terlebih dulu.

كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يفطرعلى رطبات قبل أن يصلى فإن لم يكن فعلى تمرات فإن لم تكن تمرات حسا حسوات من ماء

“Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam (sering) berbuka dengan Ruthab (kurma basah) sebelum beliau mendirikan Shalat, jika tidak ada maka dengan beberapa butir kurma kering, jika tidak dengan beberapa butir kurma kering maka dengan beberapa tegukan air.”

(HR: Ahmad dan Abu dawud dan lainnya. Dan dinilai Shahih oleh Syaikh al-Albaniy dalam kitab Irwa’ul Ghalil 4/45 versi Maktabah asy-Syamilah)

Selamat Berbuka Puasa.