Jangan Sampai Syiah Lebih Lembut Dari Kita

Teduh.or.id – Saudaraku, siapakah yang mau melihat Indonesia seperti Suriah? adakah pihak yang tengah berupaya ke arah itu? seandainya ada, kira-kira siapakah pihak yang akan bertindak paling awal? Yang paling segera bertindak adalah pemerintah kita. Iya betul, pemerintah kita. Sebab kesatuan dan kerukunan ummat masih menjadi hal yang penting di negeri ini dan bahkan ada semboyan “NKRI harga mati”.

Lalu mengapa keberadaan Syiah di negeri ini tidak kita sikapi dengan sikap yang lebih lembut seperti kita menyikapi sekte sesat lainnya? Sudah lupakah kita dengan tiga standar sikap dalam berdakwah, petunjuk besar dalam Syariat Islam? Saya harap tidak demikian.

Jikalaupun kita lupa, maka izinkanlah penulis menyampaikan satu Tadzkir (Pengingat), tidak lebih, dan semoga bermanfaat, sebab Tadzkir yang tidak bermanfaat memang sebaiknya tidak disampaikan. Allah berfirman: “Maka ingatkanlah (wahai Nabi) jika memang Tadzkirah itu bermanfaat”. (QS: Al-A’la)

Berdakwah kepada jalan Allah memiliki metode. Metode bakunya telah ada dalam Al-Qur’an, yakni dengan cara yang Hikmah, Mau’idzhoh Hasanah, dan Jidal yang baik. Allah berfirman mengenai hal tersebut dalam Al-Qur’an Surat An-Nahl – 125.

Hikmah maksudnya adalah apa-apa yang telah diturunkan Allah kepada NabiNya berupa Kitab dan Sunnah.

Mau’idzah Hasanah yaitu mendakwahkan mereka dengan hala-hal yang terkandung di dalamnya ancaman dan akibat yang akan menimpa manusia, maka ingatkanlah mereka agar mereka waspada terhadap azab Allah Ta’laa.

Demikian nukilan yang disebutkan oleh Imam Ibn Katsir dari Jabir – Radhiyallahu ‘Anhuma – dalam Tafsir Ayat tersebut.

Adapun makna Jidal dengan cara yang terbaik, beliau berkata: “siapa saja di antara mereka (orang yang akan didakwahi) membutuhkan perbandingan pendapat dan debat, maka haruslah dalam bentuk yang baik, halus , lembut dan dengan komunikasi yang bagus. Seperti firman Allah : “dan janganlah kalian berdebat dengan Ahli Kitab kecuali dengan cara yang paling baik, kecuali orang-orang yang dzalim di antara mereka” (QS: Al-Ankabut- 46). Imam Ibnu katsir melanjutkan tafsirnya, “maka Allah memerintahkan mengayomi dengan lembut, hal ini sebagaimana Allah memerintahkan Musa dan Harun –Alaihimassalam – ketika mereka berdua diutus berdakwah kepada fir’aun, Allah berfirman: “Maka utarakanlah kepadanya ucapan yang lembut semoga dia menjadi ingat atau takut”. (QS: Thoha – 44).

Keterangan di atas berlaku kepada semua orang kafir dan sekte sesat termasuk kaum Liberal dan Syiah Rofidhoh.

Jika kita bandingkan dengan apa yang terjadi baru-baru ini, maka himbauan agar memperbanyak spanduk (dan sejenisnya) yang berisi kata-kata yang bersifat keras ,menyulut kegaduhan, dan bahkan ada yang berisikan cacian sebenarnya kurang sejalan dengan Ayat dan Tafsir di atas.– meskipun ini tetap dalam lingkup menyampaikan dakwah.Renungkanlah ! (Saya berharap pembaca tidak salah sangka menilai bahwa penulis ini agak condong kepada Syiah karena terkesan membela padahal penulis hanya menyampaikan tadzkir atas metode da’wah ahlussunnah)

Lalu apakah akibatnya? Akibatnya adalah banyak orang awam akan menjadi bertambah tidak simpati dengan kaum Muslimin (Ahlussunnah). Hal ini disebabkan fitrah manusia pada dasarnya tidak menyukai caci maki, terlebih jika makian tersebut dibungkus dengan nama dakwah.

Lebih jauh lagi adalah ada kemugkinan khalayak ramai yang membaca tulisan-tulisan menohok dan kurang lembut tersebut pada spanduk (dan sejenisnya) , justru malah sebaliknya menjadi penasaran dan menaruh simpati terhadap pihak yang dicaci atau disesatkan oleh pesan tersebut. Dengan begitu, Syiah yang tengah kita hujat tersebut jadi memiliki celah untuk menyebarkan “cinta Ahli Bait dan Taqiyyah” mereka dengan cara lebih lembut lagi. Hal ini dapat menarikorang-orang yang tadi menaruh simpati kepada mereka, Hasilnya ialah pertumbuhan syiah semakin membaik.

Jika benar-benar hal itu terjadi, lalu siapakah sebenarnya yang telah membuat celah tersebut secara tidak langsung ?

Mari renungkan Firman Allah dalam surat Al-An’Am – 108. Allah berfirman yang artinya: “Dan janganlah kalian mencaci maki orang-orang yang mendoa kepada selain Allah , maka mereka akan mencaci maki Allah sebagai perlawanan dengan tanpa Ilmu.” Imam Ibnu katsir menjelaskan makna Ayat ini dengan berkata: “Allah Ta’alaa berfirman melarang RasulNya dan orang-orang beriman dari mencela sesembahan kaum Musyrikin walau pun dalam hal tersebut ada kemaslahatannya, akan tetapi cara tersebut dapat mengakibatkan mafsadah (kerusakan) yang lebih besar darinya (dari mencela), yaitu balasan kaum Musyrikin dengan mencaci maki sesembahan kaum Mukminin, yaitu Allah yang tiada sesembahan (yang berhak) disembah selain dia.”

Hal ini juga tidaklah keliru jika kemudian kita kaitkan dengan yang disebut oleh Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam dengan Munaffir (membuat orang lain lari dari Ibadah dan agama). Beliau bersabda: “Sesungguhnya diantara kalian terdapat orang-orang yang Munaffir maka siapa saja di antara kalian yang mengimami orang-orang Shalat, hendaklah dia meringankannya, sebab sesungguhnya di antara mereka ada yang lemah dan langsia dan terdesak kebutuhan”. (HR: Ahmad dan Bukhari)

Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam juga bersabda. Dari Anas bin Malik –Radhiyallahu Anhu – dari Nabi beliau bersabda: “Mudahkanlah dan jangan mempersulit, dan gembirakanlah dan jangan membuat lari” (HR: Bukhari)

Camkanlah hal ini!. Akan ada banyak umat yang lari dari Sunnah dan kebenaran jika kita tidak mempedulikan rambu-rambu yang telah ditegaskan Allah dan rasulNya dalam berdakwah.

Seandainya energi, pikiran dan harta untuk membuat spanduk (dan sejenisnya) tersebut dialihkan kepada mendakwahkan khalayak dengan sebaik-baik cara. Tentu besar kemungkinan mereka terhindar dari Syiah dan liberal dan hal inisungguh sangat bijaksana. Tidaklah berat tentunya mengganti isi spanduk dan sejenisnya dengan pesan yang lebih lembut atau berisi penegasan kebenaran Ahlussunnah dalam Aqidah mencintai Ahlul bait beserta para Shahabat. Dengan begini, Ahlussunnah (dan sebaliknya kesesatan syi’ah)dapat diterima dengan baik oleh umat (objek da’wah kita dan juga sasaran Syi’ah)

“Aku tidaklah menginginkan apa-apa kecuali hanya kemashlahatan dan tiadalah taufikku kecuali dengan Allah, kepadaNya aku bertawakkal dan kepadanya aku dikembalikan”

Gambar dari: http://www.hidayatullah.com/engine/files/2014/03/5295-Kaos-Syiah-sesat-IBF2014-by-Syakur.jpg

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.