Jangan Lupa Untuk Bahagia

Teduh.Or.Id – Metropolitan, kota dengan sejuta gemerlap canda dan kata. Bungkusan-bungkusan ide, cerita, wacana, dan rona menghiasi hari serta hati penduduknya. Dalamnya ada seru-seru keluarga, menjalin kisah-kisah persahabatan, pendidikan, atau larut dalam kerja-kerja yang membebankan. Memang demikian Metropolitan, jutaan tinta mungkin dibutuhkan untuk menulis betapa kompleks kroniknya keseharian.

Bagi mereka yang telah berkeluarga ala modern dan global persepsi, tentu bahagia tinggal di kota besar semisal Jakarta, di tengah padat sesaknya jadwal kesibukan, masih terselip dua hari di akhir pekan sebagai liburan. Hal yang membahagiakan untuk dihabiskan bersama para kesayangan. Adalah para pekerja dengan usia muda masih merambat manja, jiwa energik berkelindan dalam dada, serta anak-anak yang masih kecil serta imut rupa.

Namun, biasanya hari-hari tersisa dihabiskan oleh bapak-bapak muda dan ibu-ibu ceria untuk menghabiskan bersama di rumah saja, berbagi tugas terlaksana untuk berbenah rumah yang mungkin berserak kotor dimana saja, atau sekedar menata ruang agar tak dirayapi jenuh berganda saat kembali ke rumah usai bekerja. Maka berbagi tugas adalah pilihan baik nan mendidik. Diantara keluarga terjalin harmoni. Ayah membersihkan hal-hal yang luput dari jangkaun bunda, sedangkan bunda memanjakan keluarga dengan kudapan-kudapan yang beda dari biasanya. Begitulah menjalin asmara dan menghangatkan cinta di dalam rumah secara sederhana.

Jangan gengsi untuk bekerja diakhir pecan, kerja-kerja yang bisa dilakukan di rumah tak terhitung banyaknya, dan tentu kerja-kerja tersebut akan menghadirkan kebahagiaan di hati para istri. Urwah bertanya kepada Aisyah, “Wahai Ummul Mukminin, apa yang diperbuat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam jika ia bersamamu di rumah?”, Aisyah menjawab, “Ia melakukan seperti yang dilakukan salah seorang dari kalian jika sedang membantu istrinya, ia memperbaiki sandalnya, menjahit bajunya, dan mengangkat air di ember.” (HR. Bukhari)

Waktu! Sisihkan waktu agar anak-anak terlibat dalam kerja-kerja kecil yang kelak bisa jadi membiasakan mereka nantinya saat besar menjelang, menjadi anak-anak yang tahu kerja bukan anak-anak yang tahu meminta. Menyiapkan anak-anak yang memiliki inisiatif dikarenakan terbiasanya mereka bekerja bersama keluarga khususnya orangtua mereka. Mendidik cara agar mampu bersama hidup dalam kehidupan sosialnya kelak saat mereka dewasa. Agar mandiri dan mampu bergerak serta memahami hal-hal dari yang remeh-temeh hingga ramah-tamah disekitarnya.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “semua perkara yang seorang muslim lalai didalamnya adalah batil, kecuali melempar panah, melatih kuda, dan sendagurau kepada istrinya.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah).

Jika bahagia dapat diwujudkan dengan sebegitu mudahnya, dapat terpatri perlahan di dalam rumahtangga, lantas buat apa berlibur dengan biaya yang mahalnya tak terkira hanya sekedar untuk membangun komunikasi dengan anggota keluarga. Maka, duhai orangtua tentu bekerja adalah kesibukan bahkan kebutuhan yang didalamnya pasti menyita waktu. Namun, apakah demikian caranya komunikasi dengan anak menjadi terhambat, bercengkerama bahkan bersendagurau dengan istri sebegitu sulitnya mengatur waktu ketimbang mungkin saat berpacaran dahulu. Tentu ini tersebabkan sebegitu sibuknya hingga lupa untuk bahagia.

Padahal awal bekerja niatnya ialah bahagia, awal mencari nafkah dengan berharap hasil melimpah adalah untuk bahagia, namun mengapa akhirnya setelah semua tercapai, bahagia sedari lama didamba terlupa begitu saja. Maka, jangan lupa bahagia, dan sesederhana bahagia itu saat membersamai keluarga dengan apa-apa yang kita dapatkan untuk memenuhi hati mereka dengan berbagai partikel kebaikan.

Bahagiakan diri kita dengan cara yang sederhana, dengan cara sebagaimana senyum kita merenda di tengah keluarga seiring sejuta makna. Jika bahagia itu semudah menjulrkan tangan lalu membentangkan harapan diantara orang dicinta, buat apa lelah kemudia mencari bahagia pada sesuatu yang jika kita pikir kemudian bersifat fana.

Hari ini, biarlah kerja tetap bekerja, karena itulah kebutuhan manusia. Namun jangan lupa bahwa ditengah kesibukan yang mungkin di dalamnya terdapat lelah, disekitarnya terdapat sesak dada, pulanglah dan habiskan akhir pekan bersama keluarga. Sekedar membelai rambut istri, bercanda kreatif dengan anak-anak tercinta, menghitung piring dan gelas tersisa di lemari dapur kita, hingga berceritera soal hal-hal yang membuat senyum simpul dan tertawa. Sudah berapakalikah yang demikian kita laksanakan sejak merajut mahligai rumah tangga? Jika masih dalam hitungan jari, bisa jadi bahagia kita ditengah kesibukan itu belum benar-benar nyata hadirnya.

Jadi, sesibuk apapun kita, selelah apapun bekerja mencari dunia, mengimbangi dengan akhirat di sela-sela kemampuan yang ada. Tetaplah untuk semangat dan jangan lupa untuk bahagia. Jangan sampai apa yang kita impikan tempo lalu soal kekayaan, apa yang kita impikan masa silam soal banyaknya limpahan pekerjaan dengan jabatan menyilaukan, benar-benar membuat kita lupa setelah kaya untuk apa, setelah berkuasa mau apa, dan setelah segalanya tercapai malah yang ada bingung soal bagaimana caranya untuk bahagia.