Jangan Libatkan Buah Hati, Saat Sedang Emosi

Teduh.Or.Id – Sejak memutuskan untuk menikah dengan sosok pilihan yang sudah diyakini, sejak saat itu pulalah seseorang harus membayangkan, bahwa ia harus meneguhkan keyakinannya kala merangkai bahtera rumah tangga. Sebab, menikah adalah ibadah paling panjang dan lama, menikah bukan ibadah yang dilakukan secara personal, menikah adalah kerja tim dalam satu bahtera yang saling menguatkan, mendukung, dan mewujudkan harapan-harapan rumah tangga sesuai dengan tujuan pernikahannya itu sendiri.

Dapat dipahami pula bahwa menikah adalah mencari “masalah”, atau justru menambah “masalah” dalam hidup seseorang. Jangankan saat berdua, saat sendiri pun kadang kita temui ada pertentangan dalam batin saat ingin melangkah atau memutuskan sesuatu yang itu menyangkut diri sendiri. Kini, setelah menikah, harus secara cermat bahwa segala keputusan bukan hanya disandarkan pada alasan pribadi, namun alasan kelompok. Kelompok ibadah yang sudah dibentuk, dipikirkan visinya, dibagi tugasnya, dan didukung bersama.

Sehingga, sebuah konflik adalah keniscayaan dalam berumah tangga. Tidak ada rumah tangga tanpa konflik, bahkan dalam sebuah rumah tangga kenabian sekalipun. Nabi-nabi sebelumnya pun memiliki konflik rumah tangga masing-masing, dan konflik dalam sebuah kelompok adalah sebuah cara mendewasakan, proses saling menghargai, medium untuk belajar bersama, dan tentu setiap kali muncul konflik, sekalipun memiliki akar masalah yang sama, kerap harus menggunakan pendekatan solusi berbeda. Disanalah uniknya berumah tangga. Sebuah proses bersatu yang butuh waktu, dan buah persatuan itu baru akan benar-benar terwujud setelah telapak kaki para anggota keluarga sudah melandas di surga.

Konflik Bisa Berasal dari Ayah atau Ibu 

Penyebab konflik dalam rumah tangga, tak jarang adalah sesuatu yang sederhana dan barangkali remeh. Bisa saja itu disebabkan karena sikap suami yang dingin terhadap istri, kurang peka, tidak sabar menghadapi anak, atau bahkan lupa. Yang terakhir ini nampaknya lazim dijumpai dalam diri setiap lelaki, dan lazim pula dijumpai bahwa kadang tak ada udzur dari wanita atas pasangannya. Adapun dari diri wanita atau istri dihadapan suaminya ialah, istri terlalu banyak bercakap, kurang perhatian, ceroboh atau mudah lalai pada hal yang sebenarnya itu adalah pengulangan kebiasaan sehari-hari, atau memang sedang dalam fase jelang datang bulan yang menyebabkan ketidakstabilan hormonnya.

Tanpa sadar, saat sudah dijumpai konflik, biduk rumah tangga seakan diterjang ombak, tergantung bagaimana seorang nahkoda mengendalikannya dan mengatasi ombak yang timbul-tenggelam tersebut. Saat demikian, kadang kita dibawa larut oleh emosi dengan melibatkan pihak-pihak yang seharusnya tidak perlu hadir dalam konflik tadi. Pihak tersebut ialah anak. Anak kadang menjadi medium emosi orangtua saat ayah dan ibu sedang dilanda emosi pribadi masing-masing.

Tak jarang sang ibu melibatkan anak agar melihat lebih dalam sisi negatif ayahnya, mengajak untuk bersama menyindir kesalahan si ayah, membawa pergi si anak dengan menumpahkan ceritanya kepada si anak tentang ayahnya, atau ujaran-ujaran lain yang mengarah kepada penghasutan untuk melihat buruk-buruk ayahnya dibandingkan dengan kebaikan-kebaikan sebelumnya. Ibarat hujan sehari menghapus panas sepekan. Banyak yang dilakukan saat panas, namun saat hujan hadir, tak jarang emosi untuk mencela tak tertahan.

Dari sisi ayah juga demikian, walau pelibatan anak tidak signifikan dibandingkan dengan ibu yang butuh pendukung dalam memenangkan emosinya. Jika pun ada, ayah justru cenderung mengajak si anak pergi, atau ayah yang baik biasanya justru akan lebih banyak menceritakan kebaikan si ibu kala marah dengan si ayah. Ayah akan berkata bahwa ibunya sebetulnya adalah pribadi baik, namun sesekali marah wajar, dan ayah tentu tahu itu, bahwa seorang wanita butuh marah. Sebab marah bagi wanita menyehatkan jiwanya. Disinilah letak manajemen emosi antara pria dan wanita. Sekalipun wanita lebih cepat tumbuh besar, tak serta merta menjadikan dirinya dewasa. Namun pria, kadang walaupun jiwa anak-anaknya kerap hadir, namun kedewasaannya dalam bersikap dapat melampaui batas usianya.

Hal yang Perlu Diperhatikan

Ada beberapa hal yang setidaknya dapat menjadi perhatian para ayah-bunda kala diterpa emosi dalam rumah tangga. Tentu tanpa menafikan nasihat-nasihat diniyyah, yang barang tentu kita sudah sangat paham ilmunya, semisal sabar, mengajak bicara baik-baik kala marah datang, mengingat kenikmatan yang telah Allah berikan dalam rumah tangga kita hingga hari ini, atau nasihat islami lainnya yang bukan saja kita sudah praktekkan, namun sudah kita sampaikan pula pada khalayak lain.

Pertama, pahamilah bahwa emosi itu hadir karena adanya pemantik. Bisa saja dari sisi istri maupun suami, keduanya mungkin saja penat atau jenuh menghadapi rutinitas sehari-hari. Maka selain bicara bersama dan bersikap aktif mendengarkan luapan emosi salah satu pihak.

Berlibur adalah pilihan. Suka atau tidak, istri, terlebih tipikal ibu rumah tangga yang menghabiskan lebih banyak waktu di rumah, tentu memiliki rasa penat dan jenuh. Itulah mengapa, cukup diajak jalan ke alun-alun saja sudah bahagia, apalagi diajak pergi ke pusat perbelanjaan sekalipun hanya membeli cilok atau pentol kojek yang sudah diidamkan bila tiba waktu suami gajian. Namun, kadang keinginan liburan atau keluar rumah tak tersampaikan dari sisi suami.

Sebab, suami lebih suka berada di rumah saat waktu libur tiba, atau sibuk dengan hobinya saat jelang akhir pekan yang semestinya untuk keluarga. Terlebih, suami adalah orang yang bekerja di lapangan, setiap hari dipenuhi dengan kemacetan jalan, keruwetan sikap atasan, hingga konflik horisontal antar sesama pegawai. Sehingga bagi suami, rumah adalah pilihan. Itulah mengapa, suami harus menurunkan egonya demi membahagiakan si istri.

Eskalasi kejenuhan istri lebih tinggi dibnadingkan dengan suami, suami bisa berteu dengan banyak lingkungan, adapun istri, ia hanya tahu moda transportasi jalan kaki, yang menghubungkan kasur, sumur, dan dapur. Ditambah dengan tingkah polah anak-anak keseharian. Maka, mari para suami, ajak istrimu untuk berlibur, sekalipun jalan ke alun-alun.

Kedua, salah satu faktor yang bisa menenangkan seorang suami adalah istri. Suami adalah sosok yang memiliki syahwat seksual dibandingkan dengan istri. Di tengah kejenuhan bekerja, kepenatan dengan atasan, dan gesekan dengan teman sejawatan dalam bekerja. Pelayanan istri di kamar adalah hiburan penting bagi suami. Itulah mengapa, jika hajat biologis seorang suami tidak terpenuhi, bisa banyak kerunyaman terjadi. Sebab, bagi para lelaki, urusan ranjang adalah hal yang esensi setelah kasih sayang pada anak dan kewajiban menafkahi rumah tangga.

Mari, para istri, layani suami dengan baik. Tampilah dengan penampilan terbaik yang bisa menghadirkan cinta pada suami. Jika sudah terpenuhi hajat suami yang satu ini, dengan tanpa mengecewakan salah satu diantaranya. Tentu sepanjang hari akan diisi dengan kebahagiaan. Walau di meja makan hanya terhidang sayur lodeh dan tempe goreng.

Ketiga, selesaikan masalah saat itu juga. Usaha untuk menyelesaikan masalah harus didorong oleh inisiatif kedua belah pihak. Jangan pernah membuat masalah semakin larut, dan usia konflik semakin lama. Karena disana akan memunculkan masalah baru yang susul-menyusul kemudian. Terlebih setan tidak pernah lelah untuk memisahkan hubungan suami istri yang sebelumnya saling mencintai untuk terus menyuntikkan benci dan emosi diantara mereka. Pahami bahwa, dibalik emosi yang tak selesai, ada setan yang terus mengintai. Jika sudah terjadi demikian, segera selesaikan dan jangan pernah libatkan anak.

Ketahuilah, bahwa ketergesaan melibatkan anak, adalah citra buruk bagi kurikulum pendidikan yang sudah dirancang dalam rumah tangga. Anak adalah anak, jangan dikenalkan dengan permasalahan orangtua. Sebab pola pikir mereka belum dewasa, sedikit saja masalah disuntikkan dalam pikiran mereka, maka akan panjang usianya bertahan dalam ingatan mereka yang masih luas penyimpanannya.

Keempat, jangan tergesa-gesa melibatkan pihak lain. Jika pun harus terlibat, pilihlah yang amanah, yang lebih dewasa usianya dibandingkan kita, dan berasal dari status kehidupan yang sama dengan kehidupan kita. Sebab jika menggunakan pihak lain, perbedaan status sosial dan ekonomi akan memiliki variasi pandangan yang berbeda dan tidak sesuai dengan harapan kita.

Terakhir, pahamilah bahwa emosi kadang bersifat hanya sesaat saja. Maka hadapilah dengan akhlak yang baik jika emosi itu hadir dalam bahtera rumah tangga kita. Sebab akhlak yang baik bersifat tahan lama dan bisa menjadi cerminan kebaikan dihadapan anak-anak kita dan istri kita. Suami memiliki posisi sentrl dalam mengendalikan laju bahtera rumah tangga.

Alangkah indah ucapan Abu Hamid Al Ghazali dalam Ihya’ Ulumiddin II:109, “Bukan termasuk akhlak yang baik kepada istri, yaitu hanya mencegah keburukan darinya. Namun, hendaknya ia bersabar dan menahan keburukan yang muncul darinya serta berlaku lemah lembut saat ia marah, sebagai bentuk teladan kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam. Dimana istri-istri beliau pernah membantah ucapan beliau. Bahkan, salah seorang dari mereka pernah mendiamkan beliau selama sehari semalam.”

Semoga kita bisa bersama dengan istri kita dan keluarga saat tiba waktu untuk masuk ke dalam surga, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

“Masuklah kamu ke dalam surga, kamu dan isteri-isteri kamu digembirakan. Diedarkan kepada mereka piring-piring dari emas, dan piala-piala dan di dalam surga itu terdapat segala apa yang diingini oleh hati dan sedap (dipandang) mata dan kamu kekal di dalamnya”.

(QS. Az-Zukhruf : 70 – 71)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.