Jangan Latah Berspekulasi

Membuat kesimpulan sendiri dan berspekulasi terhadap satu kasus peristiwa tertentu yang menyangkut masalah keummatan bisa dengan cepat dilakukan oleh siapa saja, lalu hal itu kemudian dapat dengan mudah disebar luaskan menjadi berita hangat melalui segala macam bentuk media seperti sosmed. Sementara pihak yang berwenang dan memiliki otoritas dalam hal itu, sama sekali belum mencapai kesimpulan apa pun dari kasus peristiwa tersebut.

Penomena ini, mengingatkan kita kembali kepada apa yang pernah terjadi pada zaman Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, saat orang-orang munafik selalu mendahului kesimpulan Beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dalam urusan yang terkait keummatan yang sejatinya adalah hak Nabi seutuhnya.

“Konon Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam jika mengutus Saraya (baca: Sarooyaa yakni perang atau pasukan jihad yang tidak dipimpin langsung oleh Nabi.) untuk menyelesaikan misi tertentu, dan apabila utusan ini memperoleh kemenangan atau mendapatkan kekalahan, maka orang-orang munafik dengan serta merta menyebarkan berita tersebut sebelum dibenarkan terlebih dulu oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, dengan cara ini mereka orang-orang munafik membuat lemah hati kaum mukminin.”

Demikian penjelasan Imam Al-Baghawy [ Wafat 510 H.] Rahimahullah ketika hendak menafsirkan firman Allah ini

وَإِذَا جَاءَهُمْ أَمْرٌ مِّنَ الْأَمْنِ أَوِ الْخَوْفِ أَذَاعُوا بِهِ ۖ وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَىٰ أُولِي الْأَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنبِطُونَهُ مِنْهُمْ ۗ وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ لَاتَّبَعْتُمُ الشَّيْطَانَ إِلَّا قَلِيلًا

Artinya: “Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan ulil Amri). kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikut syaitan, kecuali sebahagian kecil saja (di antaramu).” [QS: An-Nisa’ 83]

Imam Ibnu Katsir [Wafat 774. H] Rahimahullah dalam tafsirnya mengungkapkan faidah dari Ayat ini, beliau berkata:

إنكار على من يبادر إلى الأمور قبل تحققها، فيخبر بها ويفشيها وينشرها، وقد لا يكون لها صحة

“(Firman Ini) adalah pengingkaran atas siapa saja yang cepat (menyimpulkan) perkara apa saja sebelum ada kepastiannya, kemudian setelah itu ia memberitakannya, membocorkannya dan menyebarkannya, sedangkan bisa jadi perkara tersebut tidak benar.”

Syaikh Assa’dy [Wafat 1376 H.] Rahimahullah dalam tafsirnya beliau menjelaskan:

“Dan dalam (Firman Allah) ini terdapat dalil Kaidah Adabiyyah (Tatakrama Kesopanan) yaitu, sesungguhnya apabila telah terjadi kasus dalam satu urusan tertentu, maka seharusnya itu diserahkan penanganannya kepada pakarnya, dan agar dikembalikan kepada yang berwenang. Dan janganlah mendahului mereka, sebab (mengembalikan urusan tersebut kepada yang pakar dan pihak berwenang) lebih dekat dengan kebenaran, dan lebih berpeluang selamat dari kesalahan. Dan di dalam (firman) Nya  ini juga terdapat larangan dari tergesa gesa dan terburu-buru menyebarkan satu peristiwa begitu ia mendengarnya, dan ada perintah agar berpikir dan memperhatikan terlebih dulu sebelum berbicara, apakah (berbicara) itu mashlahat?, maka barulah seorang melakukannya, ataukah tidak (ada mashlahat)? Maka hendaknya ia diam dari membicarakannya.”

Demikian, maka semestinya setiap muslim apabila melihat kejadian besar yang menyangkut perkara apa pun, terlebih perkara yang menyangkut kemashlahatan masyarakat luas kaum muslimin, agar menahan diri dari membuat spekulasi sendiri. berserahlah dan tunggulah hasil investigasi resmi pihak berwenang sembari menyematkan baik sangka, kesabaran, dan mendoakan kebaikan untuk mereka. jika tidak maka lebih baik diam sehingga terhindar dari menyerupai tingkah laku orang orang munafik. dan beralihlah menyibukkan diri dengan hal hal yang berguna untuk diri, keluarga dan orang lain. Ingatlah pesan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam seperti yang diriwayatkan Imam Muslim dalam Shahihnya: “Cukuplah bentuk dusta seorang dengan memberitakan setiap apa saja yang telah ia dengar.”

Abu Affaf.