Inilah Habib, Guru Syaikh Ibnu Baz

 

Dakwah Salafiyyah adalah dakwah yang mengajak kaum muslimin kembali kepada islam yang murni seperti generasi Salaf menjalankannya, di mana pokok inti dari dakwah ini ialah mengajak manusia meninggalkan kesyirikan, dan memadamkan Bid’ah.

Namun dalam perjalanannya, dakwah salafiyyah telah mendapatkan sambutan beragam, tak terkecuali sambutan penolakan dan bahkan kebencian, sehingga di antara mereka ada yang menggelari dakwah ini dengan “Tanduk Setan“, dan “Wahhabi”.

Di antara tokoh ulama dakwah salafiyyah adalah Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz (Wafat 1420 H.)  –Rahimahullah – beliau adalah seorang ulama karismatik dan tumbuh besar mewarisi pundi-pindi fikih Madzhab Al-Hanabilah, dan melanjutkan estapet dakwah tauhid yang disyiarkan sebelumnya oleh Syaikh Muhammad bin ‘Abdil Wahhab.

Syaikh Al-‘Allamah Abdulaziz bin Baz

Di antara ulama yang menjadi guru Syaikh Ibnu Baz adalah Syaikh Sa’d Waqqash Al-Bukhari[1] (Lahir 1309 H.) –Rahimahullah – beliau seorang ulama yang berasal dari Bukhari yang memiliki nasab sampai kepada cucunya Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yaitu Husain bin Ali bin Abi Thalib.

Syaikh (Habib) Sa’d Waqqash Al-Bukhari jika diingatkan bahwa beliau memiliki nasab yang mulia, – kalau di nusantara disebut Habib atau Habaib, atau Ahlulbait – beliau membaca sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang artinya : “Siapa saja yang amalannya lambat maka nasabnya tidak akan mempercepat” (Hr: Muslim).

Beliau termasuk dalam jajaran tokoh-tokoh ulama yang ikut serta dalam panggung Munazharah (Debat) antara Ulama Makkah dengan Ulama Najd yang terjadi di masa pemerintahan Raja Abdul ‘Aziz.

Kilas fakta sejarah ini mengajarkan kepada kita betapa Syaikh Ibnu Baz –Rahimahullah – yang merupakan tokoh ulama dakwah salafiyyah adalah seorang murid dari ulama bernasab mulia (Habaib).Sehingga dengan demikian maka pupuslah isu dan tuduhan segelintir orang yang mengatakan bahwa dakwah salafiyyah dan para ulamanya membenci Habaib.

 

[1] Dr. Abdullah bin Ahmad Al-Ghamidi, lihat biografi yang beliau tulis selengkapnya di sinihttp://saaid.net/Doat/gamdi/36.htm