Inilah Do’a Yang Mengejutkan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam

Pada umumnya orang-orang akan berdoa kepada Allah Yang Maha Pengabul agar dihindarkan dari perkara-perkara yang menyakitkan, bahkan setiap manusia dengan bahasa kemanusiaannya selalu berlari menghindari zona yang tidak nyaman.

Setiap muslim pendosa berharap akan ampunan dan berbesar hati agar dapat terhindar dari segala bentuk siksa, baik di dunia maupun di akhirat kelak, itu semua pada hakikatnya – jika ada dalam diri orang yang beriman – ialah tanda masih lekatnya iman dan takut dalam hatinya.

Akan tetapi pernahkah pembaca membayangkan seorang memohon kepada Allah Ta’la agar hukuman atas dosa-dosanya segera dilaksanakan saja di dunia sehingga kelak pada hari pembalasan ia menjadi betul betul terbebas darinya? Jika belum pernah, maka simaklah hadits berikut ini:

 

عَنْ أَنَسٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم عَادَ رَجُلاً مِنَ الْمُسْلِمِينَ قَدْ خَفَتَ فَصَارَ مِثْلَ الْفَرْخِ فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم هَلْ كُنْتَ تَدْعُو بِشَىْءٍ أَوْ تَسْأَلُهُ إِيَّاهُ قَالَ نَعَمْ كُنْتُ أَقُولُ اللَّهُمَّ مَا كُنْتَ مُعَاقِبِى بِهِ فِى الآخِرَةِ فَعَجِّلْهُ لِى فِى الدُّنْيَا. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم سُبْحَانَ اللَّهِ لاَ تُطِيقُهُ – أَوْ لاَ تَسْتَطِيعُهُ – أَفَلاَ قُلْتَ اللَّهُمَّ آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. قَالَ فَدَعَا اللَّهَ لَهُ فَشَفَاهُ.

Artinya: “Dari Anas sesungguhnya Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam pernah membesuk seorang dari kaum muslimin, (yang keadaannya) sungguh lemah sehingga seperti (lemahnya) anak burung. Setelah itu kemudian Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam berkata kepadanya: ‘apakah kamu pernah berdoa dengan sesuatu ?’ Ia menjawab : ‘iya, aku pernah berdoa: ‘Ya Allah dosa yang akan engkau hukum diriku dengannya kelak di Akhirat maka segerakanlah untukku di dunia.’ Maka Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: “Subhanallah kamu tidak akan sanggup, mengapa kamu tidak bedoa: ‘Ya Allah berikanlah kami di dunia kebaikan dan di akhirat kebaikan dan jagalah kami dari siksa Neraka?’. Anas berkata: kemudian Nabi berdoa untuknya sehingga ia sembuh.” ( HR: Muslim No. 6776 )

Betapa dahsyatnya kisah seorang Shahabat Nabi yang tidak disebutkan inisialnya dalam hadits ini, bahkan mungkin hanya beliau saja yang pernah berdoa dengan bentuk permohonan yang demikian berat dan menakutkan, sehingga sampai sampai Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam pun menjadi terkejut dengannya.

Mengutip dari penjelasan Imam An-Nawawi Rahimahullah dalam Syarh Shahih Muslim atas hadits ini, terdapat beberapa pelajaran yang bisa dipetik dan dijadikan teladan, di antaranya : “Hadits ini menjelaskan larangan berdoa dengan penyegeraan hukuman, dan di dalamnya terdapat petunjuk keutamaan berdoa dengan ‘Ya Allah berilah kami di dunia Hasanah dan di akhirat Hasanah‘ dan jagalah kami dari siksa neraka, bolehnya terkejut (keheranan) sembari mengucap Subhanallah, kesunnah-annya membesuk orang sakit dan mendoakannya, juga terdapat petunjuk bahwa Makruh hukumnya mengharapkan musibah. Sedangkan pendapat yang paling Adzhar (jelas) dalam tafsir untuk kata Hasanah di dunia adalah Ibadah dan Afiyah (terhindar dari celaka) dan Hasanah di akhirat ialah surga dan Maghfirah“.

Mendoa dengan keburukan atas diri sendiri sejatinya memang adalah perkara yang tercela, seandainya saja seorang berdoa dengan keburukan atas diri atau keluarganya seperti ia berdoa untuk kebaikan niscaya Allah akan kabulkan, namun Allah tidak menghendaki keburukan atas hambanya, Allah Ta’la berfirman:

وَلَوْ يُعَجِّلُ اللَّهُ لِلنَّاسِ الشَّرَّ اسْتِعْجَالَهُمْ بِالْخَيْرِ لَقُضِيَ إِلَيْهِمْ أَجَلُهُمْ

Artinya: “dan jika saja Allah menyegerakan keburukan kepada manusia (seperti halnya) mereka memohon penyegeraan kebaikan untuk mereka niscaya dikabulkan ketentuannya kepada mereka” (QS: Yunus – 11)

 “Allah Ta’la mengabarkan tentang Sifat lembut dan belas kasihNya kepada hamba bahwa ia tidak akan mengabulkan apabila mereka berdoa keburukan atas diri, harta dan anak-anak mereka selama doa itu mereka panjatkan dalam keadaan kalut dan marah, dan sesungguhnya Allah mengetahui kalau mereka tidak bermaksud demikian, oleh karenanya Allah tidak kabulkan semata karena belas kasih dan rahmatNya” demikian petikan singkat dari penafsiran Ibnu katsir atas Ayat ini.

Allah Ta’ala juga berfirman senada dengan Ayat di atas

وَيَدْعُ الْإِنْسَانُ بِالشَّرِّ دُعَاءَهُ بِالْخَيْرِ وَكَانَ الْإِنْسَانُ عَجُولًا

Artinya: “Dan manusia mendoa dengan keburukan (seperti halnya) ia berdoa dengan kebaikan dan manusia memang adanya tergesa gesa” (QS: Al-Isra’ – 11)

Bahwa yang menjadi pemicu sehingga manusia mendoa dengan keburukan ialah ketergesa-gesaan yang sudah barang tentu sifat tergesa gesa ini timbul dari kurangnya kesabaran dan keteguhan hati dalam menghadapi ujian hidup. Selamat berdoa.

Musa Abu Affaf