Inikah Hikmah Islam Diturunkan Di Jazirah Arab !?

Sentimen ras dan bangsa dapat tumbuh dari sekam rasa sebagai satu ras yang paling unggul di antara semua ras manusia yang telah ada. Dan kerap kali sifat ini menjadi begitu nampak dalam wujud fanatik terhadap rasnya sendiri dan memandang enteng terhadap yang lainnya.

Yahudi atau Ahli Kitab sangat erat dihubungkan dengan tindak tanduk semacam ini, bahkan salah satu sebab mereka tidak beriman dengan Nubuwwah (kenabian) yang dianugerahkan atas Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam disebabkan oleh sentimen atau hasad yang mereka pendam. Pikirkanlah bagaimana Allah menceritakan hal ini;

ود كثير من أهل الكتاب لو يردونكم من بعد إيمانكم كفارا حسدا من عند أنفسهم من بعد ما تبين لهم الحق

“Banyak dari Ahli Kitab berhasrat andai saja mereka mengembalikan (memurtadkan) kalian setelah kalian beriman menjadi kafir, karena rasa hasad dari diri mereka sendiri setelah kebenaran itu menjadi jelas bagi mereka” (QS : Al-Baqarah. 109)

Imam Ibnu Katsir dalam Tafsirnya menyebutkan riwayat dari beberapa Ulama Tafsir terkemuka seperti Abu al-‘Aliyah, ar-Rabi’, Qatadah dan as-Suddy. Para Imam Tafsir ini menyatakan hal yang senada atas Tafsir Ayat di atas; “Ketika Yahudi dan Nashrani (Ahlul Kitab) mengetahui kebenaran tentang Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dalam kitab suci Taurat dan Injil, mereka kemudian mengingkarinya dan tidak mau beriman dengannya disebabkan rasa permusuhan dan kedengkian mereka. Kedengkian ini berawal karena sosok Nabi tersebut ternyata bukan dari ras dan golongan mereka.”

Sentimen tersebut rupanya masih membara sampai detik ini terhadap Syari’at Islam dan pembawanya. Dengan perbedaan zaman dan kondisi ternyata tidak merubah sedikit pun akar sentimen itu, hanya cara dan bentuk luapannya saja yang berbeda.

Saat-saat ini propaganda anti Arab masih dilancarkan, tujuannya tidak lain demi merobohkan iman kaum muslimin agar tidak menjadi panatik dengan Agamanya. Jika menjadikan kaum muslimin menjadi Murtad adalah satu usaha yang berat, – walau pun usaha itu pasti terus mereka usahakan – maka setidaknya mereka kini berusaha mendangkalkan keimanan mereka dengan mencoba mengelitik sisi kearabiannya Islam dalam hal asal dan wilayah kemunculannya, yang sesungguhnya hal ini juga telah diupayakan oleh pendahulu mereka.

Sehingga akhirnya sampailah ke telinga kita ungkapan-ungkapan yang timpang dilesatkan kepada Bangsa Arab. Seperti misalnya; “Jilbab itu hanya relevan untuk penghuni padang pasir”, atau celetukan; “Bahasa Arab bukan budaya bangsa kita”, “Jenggot itu budaya Arab”, “Nikah dini itu budaya Arab”, dan banyak lainnya.

Allah ‘Azza Wajalla berhak menentukan kenabian itu dari bangsa mana saja yang Dia kehendaki. Juga Allah berhak menurunkannya di Jazirah Arab atau yang lainnya. Dan tidak ada yang memiliki hak untuk mengatur kehendak-Nya dalam urusan tersebut. Namun dibalik setiap ketentuan Allah tersebut, selalu ada hikmah dan tujuan tertentu – yang hanya Allah saja yang dapat mengetahuinya secara pasti dan rinci.- yang dapat kita petik dan jadikan sebagai jawaban sehat, seperti hikmah-hikmah berikut ini:

1. Jazirah Arab saat itu adalah wilayah yang bebas dan merdeka, tidak dikuasai oleh kekuasaan adidaya saat itu seperti Emperor Persia dan kekaisaran Romawi atau lainnya.

2. Penduduk Jazirah Arab kala itu tidak berada dalam satu keyakinan Agama yang sama. Walau pun Wastaniyyah (penyembahan berhala) terjadi secara merata di berbagi daerah, namun ritual ibadah dan keyakinan mereka tidaklah sama. Ada yang menyembah Malaikat, menyembah bintang, dan ada pula yang menyembah patung berhala. Di antara mereka ada juga yang beragama Yahudi dan Nasrani, dan hanya sedikit saja dari mereka yang masih berpegang dengan al-Hanafiyyah (Agama Ibrahim).

3. Kekuatan sosial masyarakat di jazirah Arab kala itu sangat dipengaruhi oleh peran penting beberapa keluarga tertentu atau Kabilah tertentu, dan bukan oleh satu pemerintahan khusus yang terorganisir. Dan keadaan ini sangat membantu dakwah Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dalam berdakwah. Itu terlihat nampak jelas dengan keberadaan Bani Hasyim dari Kabilah Quraysy yang memiliki kehormatan dan kekuatan tampil membela dan melindungi Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

4. Bangsa Arab yang hidup pada saat itu adalah orang-orang yang jauh dari gaya hidup perkotaan, terutama Makkah. Mereka hidup dengan cara yang natural sehingga pola pikiran mereka tidak banyak diwarnai dan dirancui oleh pengaruh luar yang bersifat liar dan bebas.

5. Jazirah Arab terletak di wilayah pertengahan dunia. Posisi ini sangat menguntungkan sekali untuk penyebaran Islam ke berbagai penjuru bumi.

6. Keunggulan Bahasa Arab. Bangsa Arab saat itu sudah memiliki satu bahasa yang sangat kuat dan cepat menyebar. Walau pun diwilayah lain ada bahasa persatuan, namun pada sebagian masyarakat di wilayah tersebut memiliki bahasa daerah yang berbeda dengan bahasa resminya. Persatuan bahasa yang dimiliki oleh Jazirah Arab adalah satu keunggulan yang sangat luar biasa untuk mempermudah tersebar dan diterimanya ajaran Islam.

7. Makkah memiliki keunggulan sebagai tempat yang selalu dikunjungi oleh banyak manusia dari berbagai daerah dengan tujuan yang bermacam-macam. Ada yang datang untuk berhaji, berniaga, dan ada pula yang datang untuk menghadiri pentas seni berbahasa seperti sastra dan Sya’ir.

8. Menurut Ibnu Khaldun, Penduduk Jazirah Arab adalah manusia manusia unggul secara fisik, warna kulit, budi pekerti dan keagamaan. Bahkan sejak dulu kenabian lebih banyak muncul dari Bangsa Arab.

Hikmah-hikmah ini adalah faktor yang bisa dinalar, sehingga layak dalam sudut pandang manusia, Allah menjadikan Jazirah Arab sebagai wilayah yang tepat untuk diturunkannya Islam. Dan ketika berbicara tentang hikmah, maka hikmah yang di atas sebenarnya hanya analisa yang sifatnya Ijtihad yang diharapkan sesuai dengan hikmah yang Allah rahasiakan dibalik pilihan Jazirah Arab sebagai wilayah kelahirannya Islam di akhir zaman. Wallahu A’lam.

Sumber Pustaka:
– Imam Ibnu katsir. Tafsirul Qur’anil ‘Azhim. http://quran.ksu.edu.sa
– Prof. Dr. Zaid bin Abdil Karim az-Zabd. Fiqhus-Sirah. Darut Tadmuriyyah. Riyadh. Saudi Arabia.

Musa Abu ‘Affaf