Inikah Dua Hikmah Berkurban

Teduh.Or.Id – Berkorban untuk satu tujuan dan cinta adalah cerita yang tak pernah lekang dibahas dan dinikmati, dalam banyak versi manusia telah banyak berkorban demi meraih apa yang mereka cita-citakan dan cintai.

Setiap pengorbanan memiliki makna tersendiri yang berbeda beda bagi setiap diri yang berkorban, ada orang yang berkorban karena semata ingin kekayaan yang lebih banyak, dan ada juga orang yang berkorban demi meraih jabatan yang lebih tinggi.

Pengorbanan demi pengorbanan acap kali yang menjadi korbannya adalah perintah Agama, dan terkadang juga mengorbankan kehormatan diri orang lain atau bahkan nyawa. Tentu pengorbanan seperti ini hanya membuahkan dosa dan kadang luka di hati orang lain.

Perintah Berqurban

Menyembelih hewan kurban adalah salah satu bentuk pengorbanan, namun pengorbanan ini bersifat religi yang telah ditetapkan sebagai salah satu bentuk syiar Islam. Allah berfirman :

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

“Maka Shalatlah untuk Rabb-mu dan menyembelihlah.” (QS: al-Kautsar 2)

Tafsir kalimat an-Nahar pada Ayat tersebut telah termaktub beberapa penafsiran atas maknanya namun semuanya dinilai sebagai tafsiran yang Gharib (asing) oleh Imam Ibnu Katsir Rahimahullah dan lalu beliau menentapkan penafsiran yang Shahih atasnya beliau berkata:

والصحيح القول الأول. أن المراد بالنحر ذبح المناسك ولهذا كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يصلي العيد ثم ينحر نسكه ويقول: “من صلى صلاتنا ونسك نسكنا فقد أصاب النسك. ومن نسك قبل الصلاة فلا نسك له”

“Dan yang benar adalah pendapat yang pertama, bahwa yang dimaksud dengan an-Nahr ialah sembelihan peribadatan, dan oleh sebab itulah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam selepas Shalat ‘Id beliau kemudian menyembelih hewan kurbannya dan beliau bersabda: “Siapa saja yang shalat dengan shalat kami, dan menyembelih dengan penyembelihan kami, maka sembelihan (kurban)nya telah benar, namun siapa saja yang menyembelih sebelum shalat (‘Id) maka sembelihan (kurban)nya tidak terhitung untuknya.” [1]

Dengan demikian, Ayat dan Hadits di atas adalah dalil yang sangat jelas dalam memerintahkan untuk berkurban, dan jalannya adalah dengan menyembelih hewan kurban.

Hikmah Berkurban

Hikmah berkurban dapat disimpulkan pada dua sisi, yang pertama pada sisi hubungan seorang hamba kepada Allah dan dalam hal ini adalah meraih ketaqwaan. Sedangkan yang kedua adalah sisi manfaat secara fisik yang menguntungkan manusia.

Hikmah yang pertama yang mengerucut pada ketaqwaan seorang hamba kepada Allah adalah hikmah yang paling tinggi, sebab ketaqwaan adalah hikmah yang selalu ada pada tiap-tiap ibadah yang mesti diraih oleh seorang hamba di dalamnya, hal ini menunjukkan dan memperlihatkan betapa tingginya nilai ketaqwaan. Allah berfirman:

لَن يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلا دِمَاؤُهَا وَلَكِن يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنكُمْ كَذَلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِينَ

“Daging-dagingnya (unta itu) tidak akan pernah sampai manfaatnya kepada Allah dan tidak juga darah-darahnya, namun tetapi yang sampai kepadaNya adalah ketakwaan dari kalian, seperti demikianlah Allah telah menundukkannya (hewan kurban itu) untuk kalian, agar kalian bertakbir kepada Allah atas apa-apa yang telah Allah tunjukkan kepada kalian dan kabar-gembirakanlah orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS: al-Hajj. 37)

Hikmah kedua yang menguntungkan manusia itu sendiri, atau dapat dinikmati oleh manusia di dunia adalah memakan daging hewan kurban tersebut, dan ini sangat jelas disebutkan dalam al-Qur’an :

وَالْبُدْنَ جَعَلْنَاهَا لَكُمْ مِنْ شَعَائِرِ اللَّهِ لَكُمْ فِيهَا خَيْرٌ فَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهَا صَوَافَّ فَإِذَا وَجَبَتْ جُنُوبُهَا فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْقَانِعَ وَالْمُعْتَرَّ كَذَلِكَ سَخَّرْنَاهَا لَكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Dan kami telah menjadikan unta untuk kalian sebagai bagian dari syi’ar Allah, ada kebaikan padanya (unta) untuk kalian, maka ingatlah kalian nama Allah pada saat menyembelihnya, dan apabila badannya telah rebah (mati) maka makanlah darinya dan kalian berikanlah makan orang yang memintanya atau pun yang tidak memintanya, seperti itulah kami telah menundukkannya (unta) untuk kalian semoga kalian mensyukuri.” (QS: al-Hajj 36)

Tentu ada hikmah hikmah lain selain dari yang tersebut di atas, namun itulah dua hikmah yang paling jelas dan nyata yang dapat menuntun kita untuk mengagungkan Syair-Syiar Allah. Wallalahu A’lam dan semoga bermanfaat.


[1] Tafsir Ibnu Katsir  4/ 726/ Cet. Mu’assasah ar-Rayyan.