Inikah Ciri Haji Mabrur Dan Yang Tak Mabrur

Semua jamaah haji pada dasarnya berharap ibadah hajinya terhitung sebagai haji yang Mabrur di sisi Allah ‘Azza Wajalla, betapa tidak demikian, surga yang menjadi pahala dari haji Mabrur – betapa adalah satu tujuan yang sangat dirindu dan didambakan oleh setiap muslim – kini sebab-sebabnya seolah telah berada didepan mata. Akan rugilah jika kesempatan meraih surga menjadi sia-sia. Dalam hadits disebutkan :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: الْحَجَّةُ الْمَبْرُورَةُ: لَيْسَ لَهَا جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةُ

Artinya: “Dari Abu Hurairah beliau berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah bersabda: “Haji yang Mabrur tiadalah baginya pahala kecuali surga”. (HR: An-Nasa’i dan Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jamul Kabir dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘Anhu.)

Haji Mabrur juga adalah pemupus dosa-dosa, sehingga siapa saja yang mendapatkan haji Mabrur maka seolah ia kembali sebagaimana seorang bayi yang baru terlahir kembali, bayi tentunya lahir tanpa membawa salah dan dosa. Dalam Hadits disebutkan:

سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ  رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : سَمِعْتُ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ : مَنْ حَجَّ لِلَّهِ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ.

Artinya: “Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu beliau bertutur: ‘Aku pernah mendengar Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: Siapa saja yang berhaji karena Allah (lalu kemudian ia) tidak melakukan Rafats (baca: berbicara atau berbuat tidak senonoh menjurus ke arah nafsu birahi) dan tidak berbuat kefasikan, ia akan kembali seperti hari dimana ibu melahirkannya”. (HR: Bukhari.)

Dan nampaknya hadits ini sekaligus sebagai penjelas yang nyata akan jalan dan cara meraih haji yang Mabrur, yaitu dengan menjauhi segala macam ucapan dan prilaku yang dapat mengurangi atau mencederai keutuhan ibadah haji itu sendiri, terlebih lebih jika sampai merusaknya karena mencampur adukkannya dengan maksiat. Al-Hafidz Ibnu Hajar Rahimahullah dalam Fathulbary menukil dari Imam Al-Qurthuby mengatakan:

وقال القرطبي الأقوال التي ذكرت في تفسيره متقاربة المعنى وهي أنه الحج الذي وفيت أحكامه ووقع موقعا لما طلب من المكلف على الوجه الأكمل والله أعلم

Artinya: “Dan berkata Al-Qurthuby: pendapat-pendapat yang telah disebutkan dalam hal tafsirnya (baca: haji Mabrur) satu dengan yang lainnya memiliki makna yang berdekatan, yaitu; sesungguhnya haji Mabrur ialah haji yang ditunaikan hukum-hukumnya dan pelaksanaannya terlaksana sesuai dengan apa yang diperintahkan atas seorang Mukallaf (baca: seorang yang telah mencukupi syarat-syarat menjadi seorang yang wajib menjalankan perintah Agama) dengan cara yang paling sempurna. Wallahu A’lam“.

Lalu apakah ada tanda atau ciri ciri seorang mendapat haji Mabrur? Untuk mengetahui jawabannya, marilah kita hayati hadits berikut ini yang disebutkan oleh Al-Mundziry Rahimahullah dalam kitabnya At-Targhib Wat Tarhib;

وعن جابر رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه و سلم قال الحج المبرور ليس له جزاء إلا الجنة  قيل وما بره قال إطعام الطعام وطيب الكلام

رواه أحمد والطبراني في الأوسط بإسناد حسن وابن خزيمة في صحيحه والبيهقي والحاكم مختصرا وقال صحيح الإسناد وفي رواية لأحمد والبيهقي إطعام الطعام وإفشاء السلام

Dari Jabir Radhiyallahu ‘Anhu, dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, Nabi bersabda: “Haji Mabrur tiadalah baginya pahala kecuali surga, (Nabi) ditanya: “dan apakah (bentuk) kemabrurannya?” Nabi menjawab: ‘memberi makan dan ucapan yang baik’. (Imam Al-Mundzry berkata) Hadits ini diriwayatkan oleh Ath-Thabrany dalam Al-Austah dengan Sanad (baca: rantai periwayatan) yang Hasan, dan oleh Ibnu Khuzaimah dalam Shahihnya, dan oleh Albaihaqy, dan oleh Al-Hakim secara ringkas dan ia (Al-hakim) berkata: Sanadnya Shahih. Dan dalam riwayat lainnya dari Ahmad dan Al-Baihaqy (terdapat redaksi lain yang berbunyi) ‘memberi makan dan menebarkan salam. Selesai.

Adapun Al-Hafidz Ibnu Hajar Rahimahullah beliau menilai hadits ini Dha’if, dalam Fathulbary beliau berkata:

وفي إسناده ضعف فلو ثبت لكان هو المتعين دون غيره

Artinya: “dan di dalam Sanadnya terdapat kelemahan, jika seandainya hadits ini valid maka dialah yang wajib (menjadi rujukan ciri-ciri haji Mabrur) tanpa selainnya”. (Fathulbari Jilid/4.Hal. 389./Cet. Daruth-Thayyibah)

Demikian juga halnya dengan Syaikh Syu’aib Al-Arna’uth dalam penelitiannya untuk Al-Musnad karya Imam Ahmad, beliau menilainya Dha’if, sebagaimana pembaca yang melek Bahasa Arab dapat mengeceknya di sini. Dan Imam Ash-Shan’any dalam kitab Subulussalam menilai hadits ini valid, Sedangkan Syaikh Al-Bany Rahimahullah dalam karyanya Shahih At-Targhib Wat-Tarhib memutuskan hadits ini sebagai hadits yang Shahih Lighairih.

Apabila diputuskan bahwa hadits tersebut valid atau Shahih, atau dengan kata lain sah dijadikan sebagai Hujjah atau dalil, maka ciri-ciri haji Mabrur berdasarkan dengan hadits tersebut adalah seorang yang telah berhaji menjadi – pertama – orang yang dermawan, yaitu dengan memberi makan bagi yang membutuhkannya, – kedua – menjadi orang terpuji akhlaknya, dalam hal ini ialah karena ia mampu selalu bertutur kata yang baik dan senantiasa menebarkan salam. dan kebalikan dari dua ciri ini bisa jadi adalah ciri-ciri haji yang tidak Mabrur.

Dan andaikata hadits tersebut tidak valid atau Dha’if alias tidak kuat dijadikan sebagai dalil atau hujjah, namun maknanya tidaklah jauh dari apa yang disebutkan oleh Imam Hasan Al-Bashry.

Imam Ibnu ‘Abdil Barr dalam karyanya yang berjudul Al-Istidzkar, beliau menyebutkan bahwa Hasan Al-Bashry pernah ditanya ciri-ciri haji Mabrur dan beliau menjawab:

أن يرجع زاهدا في الدنيا راغبا في الآخرة

Artinya: “Ia kembali dalam keadaan menjadi seorang yang Zuhud di dunia ini, dan menjadi orang yang cendrung kepada akhirat”

Musa Abu Affaf