Ini Yang Perlu Anda Ketahui Tentang Tahdzier

Spread the love

Menurut Ibnu Manzhur Rahimahullah kata Tahdzier adalah sinonim untuk kata Takhwief,[1]  Takhwief sendiri maknanya adalah menakut-nakuti. Maka Tahdzier maknanya tidak jauh berbeda dengan Takhwief.

Lebih sederhananya, Tahdzier maksudnya adalah menakuti atau memperingatkan orang lain agar tidak mendekati atau tidak mengikuti sesuatu yang dinilai dapat membahayakannya. Dan pada dasarnya Tahdzier merupakan satu hal yang positif pada tempat semestinya, oleh karena itu kata ini terdapat dalam Al-Qur’an dan Hadits.

Misalnya seperti berfirman Allah Ta’ala :

  لا يتخذ المؤمنون الكافرين أولياء من دون المؤمنين ومن يفعل ذلك فليس من الله في شيء إلا أن تتقوا منهم تقاة ويحذركم الله نفسه وإلى الله المصير

Artinya: “Dan janganlah orang-orang beriman itu menjadikan orang-orang kafir sebagai Auliya’ dengan meninggalkan kaum beriman, dan siapa saja yang melakukan itu maka lepaslah ia dari pertolongan Allah kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka, dan Allah memperingatkan kamu terhadap diriNya, dan hanya kepada Allah kembalimu.” [Ali ‘Imran 28]

Dalam Ayat lainnya Allahu Ta’ala juga berfirman :

يوم تجد كل نفس ما عملت من خير محضرا وما عملت من سوء تود لو أن بينها وبينه أمدا بعيدا ويحذركم الله نفسه والله رءوف بالعباد

Artinya: “Pada hari setiap jiwa akan mendapati segala kebajikan dihadapkan (dimukanya) begitu (juga) kejahatan yang telah dilakukannya, ia ingin kalau kiranya antara ia dengan hari itu ada masa yang jauh,  dan Allah memperingatkan kamu terhadap diriNya, dan Allah sangat Penyayang kepada hamba-hamba-Nya. [Ali ‘Imran 30]

Dan juga dalam hadits, salah satunya adalah Sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam saat menafsirkan Al-Qur’an Surat Ali-‘Imran Ayat ke-7, beliau bersabda:

إذا رأيتم الذين يتبعون ما تشابه منه فأولئك الذين سمى الله فاحذروهم

 Artinya: “Apabila kalian melihat orang-orang yang mengikuti Ayat yang Mutasyabih darinya (Al-Qur’an) maka merekalah orang-orang yang telah disebutkan (dimaksudkan) oleh Allah (dalam Ayat ini) maka waspadalah kalian dari mereka.” [HR: Muslim 6946]

Kata Tahdzier  juga sering digunakan oleh Ulama, karena memang bentuk aplikatif kalimat ini adalah menerangkan kepada khalayak muslim kekeliruan atau penyimpangan, atau satu bid’ah yang telah menyebar ke tengah masyarakat melalui tulisan atau pun ucapan. Dan pada hakikatnya Tahdzier tersebut termasuk ke dalam cakupan nasehat untuk kaum muslimin agar mereka tidak terjerumus ke dalam hal-hal yang menyelisihi Al-Qur’an dan Assunnah, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

الدين النصيحة  قلنا لمن قال لله ولكتابه ولرسوله ولأئمة المسلمين وعامتهم

 Artinya: “Agama itu adalah nasehat, kami berkata: “untuk siapa?” Nabi bersabda: “Untuk Allah, dan untuk kitabNya, dan untuk RasulNya, dan untuk para pemimpin kaum muslimin dan segenapnya.” [HR. Bukhary dan Muslim]

Hadits inilah yang menjadi salah satu pijakan utama dianjurkannya melakukan Tahdzier terhadap bid’ah dan perkara-perkara yang menyelisihi kebenaran, dan bahkan hal ini dihukumi sebagai satu kewajiban. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah berkata:

ومثل أئمة البدع من أهل المقالات المخالفة للكتاب والسنة أو العبادات المخالفة للكتاب والسنة فإن بيان حالهم وتحذير الأمة منهم واجب باتفاق المسلمين حتى قيل لأحمد بن حنبل : الرجل يصوم ويصلي ويعتكف أحب إليك أو يتكلم في أهل البدع ؟ فقال : إذا صام وصلى واعتكف فإنما هو لنفسه وإذا تكلم في أهل البدع فإنما هو للمسلمين هذا أفضل

 “Dan semisal para pemuka kebid’ah-an yang memiliki ucapan-ucapan yang menyelisihi Al-Qur’an dan As-Sunnah atau ibadah-ibadah yang menyelisihi Al-Qur’an dan As-Sunnah maka menjelaskan keadaan mereka dan menakuti (Mentahdzier) ummat dari mereka adalah kewajiban dengan kesepakatan ulama Islam, (bahkan) sampai pernah ada yang berkata kepada Imam Ahmad bin Hanbal: “Seorang  berpuasa dan shalat dan melakukan i’tikaf  lebih kamu sukai ataukah ia membicarakan Ahli Bid’ah? Beliau menjawab: “Apabila dia berpuasa dan shalat dan i’tikaf, maka sesungguhnya itu hanya untuk dirinya sendiri saja, namun apabila dia membicarakan Ahli Bid’ah maka sesungguhnya itu untuk kaum muslimin, (tentu) ini lebih utama.” [2]

Namun kadang kerancuan kerap muncul sehingga Tahdzier kerap dimaknakan oleh sebagian oknum dengan makna vonis sesat dan vonis Bid’ah atas orang atau pihak yang di-Tahdzier, Hal ini tentu tidak tepat, dan sangat rentan menimbulkan fitnah di antara ummat. Oleh sebab itu maka penulis mencoba nukilkan perbedaan antara Tahdzier, Tajrieh dan Tabdie’ sehingga dapat dibedakan satu dengan yang lainnya, dan sehingga tidak mengakibatkan ‘kejut jantung’ saat mendengar kata Tahdzier ditujukan kepada seseorang yang dikaguminya.

Menurut Syaikh Doktor Muhammad Umar Bazmul Hafizhahullah – Dosen di Universitas Ummul Quro Saudi Arabia- bahwa sebuah Tahdzier bukan serta merta melazimkan pihak yang di-tahdzier tersebut lantas menjadi seorang Mubtadi‘ atau keluar dari golongan Ahlussunnah, keterangan ini beliau sampaikan dalam sebuah jawaban, dan berikut penulis hadirkan point pentingnya:

“Disebutkan di dalam pertanyaan kata Tajrieh, dan Tabdi’ dan Tahdzier. Dan Tajrieh berasal dari kata Al-Jarh dan maknanya ialah mensifati seseorang dengan tusukan (celaan) pada sisi ke-‘Adaalah-annya yang meliputi bidang keagamaan dan kekuatan daya serapnya, maka tidak semua Tajrieh (itu berarti) adalah Tabdie’, namun setiap Tabdie’ (tentu) adalah Al-Jarh.

Dan Tabdie’ adalah mensifati seorang tertentu dengan kebid’ah-an, dan ini (bisa terdiri dari) atas beberapa keadaan, : Kadang ucapan, atau perbuatan (orang tersebut) disifati sebagai satu bid’ah, dan ketika itu (orang tersebut dapat) dikatakan sebagai Pelaku Bid’ah dan apa yang ia lakukan adalah satu kebid’ah-an, dan apa yang berasal darinya adalah bid’ah.

Dan terkadang (orang tersebut) dirinya sendirilah yang disifati dengan bid’ah, maka ia (dapat) dikatakan sebagai Mubtadi’ (keluar dari golongan Ahlussunnah), dan hal itu dapat diterapkan ketika telah ditegakkan atasnya Hujjah namun (kemudian setelah itu) ia menentang dan mengikuti hawa nafsunya dan ia tidak mau kembali kepada yang Haq, maka dia termasuk ke dalam golongan pengikut hawa nafsu dan bid’ah.

Dan Tahdzier adalah Tahdzieran terhadap seseorang karena satu persoalan atau masalah, atau (karena) satu pola atau suatu pemikiran, namun (hal tersebut) tidak mengharuskan (orang tersebut) akan menjadi seorang Mubtadi’ yang Majruh.

Maka terkadang Tahdzier (boleh dilakukan) karena sebab kelembekannya seseorang atau karena kerasnya, atau di-Tahdzier karena ketergesa-gesaannya, atau yang semisal dengan hal itu. Dan kadang di-Tahdzier karena ia menyampaikan perkataannya dengan mutlak, karena banyaknya bentuk mutlak (keumuman) dalam ucapan dan statementnya. Dan kadang ia di-Tahdzier karena kebid’ahannya atau karena kesesatannya.” [3]

Demikian, maka hendaklah diingat, bahwa Tahdzier seperti yang disebutkan di atas merupakan bagian Manhaj Ulama  terdahulu sampai sekarang yang tidak boleh dilenyapkan dan diingkari keberadaannya, apalagi sampai merasa alergi dengannya.

Bekasi 29 Jumadal Akhir 1438 H. / 28 Maret 2017 M.

Musa Abu ‘Affaf, BA.

Alumnus Ma’had Darul Furqan Li Tahfizhil Qur’an dan Takhasshush Ponpes Al-Ishlahuddiny Kediri, Lobar-NTB. Pernah bermajelis di Rubath Al-Jufry yang diasuh oleh Habib Zain bin Sumaith, Alumnus Al-Jami’atul Islamiyyah Bil Madinatil Munawwarah Fakultas Hadits tahun 2010 M. Selain aktif di dunia pendidikan juga sekarang sebagai Konsultan Agama di Acara Khazanah Trans7.

———————————-

[1] Lisaanul Arab 2/ 809 Versi Al-Maktabatusy-Syamilah Salinan cetakan Darul-Ma’arif Mesir

[2] Al-Majmu’ul Fatawa 28/232 versi Al-Maktabatusy Syamilah salinan dari cetakan ke-3 Darul Wafa’

[3] Klik ini untuk membuka link sumber ucapan Syaikh Muhammad Umar Bazmul Hafizhahullah.