Ini Tentang Mualaf

Teduh.Or.Id – Mualaf dalam kamus besar Bahasa Indonesia berarti orang yang baru masuk islam. Penyebutan ini dengan jelas dapat kita ketahui jika sebenarnya ia diserap dari Bahasa Arab yaitu dari kata Al-Mua’llafah Qulubuhum yang berarti : orang yang  perlu disatukan hatinya.

Dan pada dasarnya kata Al-Mu’allafah itu sendiri adalah satu istilah yang bersumber dari Al-Qur’an, Allah ‘Azza Wajalla berfirman:

 إنما الصدقات للفقراء والمساكين والعاملين عليها والمؤلفة قلوبهم وفي الرقاب والغارمين وفي سبيل الله وابن السبيل فريضة من الله والله عليم حكيم

Artinya: “Sesungguhnya sedekah-sedekah (zakat) itu hanyalah untuk orang-orang faqir dan miskin, dan orang-orang yang bekerja (mengurus) di atasnya, dan Mu’allafah Qulubuhum, dan untuk (memerdekakan) budak-budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah, dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai satu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” [QS: at-Taubah 60]

Dalam fikih akan kita jumpai banyak pendapat yang diutarakan oleh para Ulama tentang makna mendalam dari Al-Mu’allafah Qulubuhum, demikian juga tentunya dalam kitab-kitab tafsir terkemuka.

Imam Asy-Syafi’i Rahimahullah berkata:

والمؤلفة قلوبهم من دخل في الإسلام

“Dan Al-Mua’llafah Qulubuhum adalah siapa saja yang masuk ke dalam Islam.” [Al-Umm 2/72 versi Al-Maktabah Asy-Syamilah salinan cetakan Darul Ma’rifah]

Menurut Syaikh Shalih Ibnu ‘Utsaimin Rahimahullah, yang dimaksud dengan Al-Mu’allafah Qulubuhum adalah

الذين يعطون لتأليف قلوبهم

“Orang-orang yang diberikan (zakat) demi menyatukan hati mereka.” [Asy-Syarhul Mumti’ 6/226]

Imam Azzuhri menyebutkan bahwa Al-Mua’llafah adalah mereka yang masuk islam walau pun kaya:

هو من أسلم من يهودي أو نصراني قلت : وإن كان غنيا قال : وإن كان غنيا

 “Dia adalah siapa saja yang memeluk islam dari golongan Yahudi atau Nasrani, Ma’qil bertanya kepadanya : “dan walau pun dia kaya?” Imam Az-Zuhry berkata: “ia walau pun dia kaya” [Al-Mushannaf Ibnu Abi Syaibah 7/ 70 No. 10867 Cet. Syarikah Darul Qiblah dan Muassasah ‘Ulumul ur’an.]

Dari ragam penafsiran yang datang dari para Ulama terhadap Al-Mu’allafah, Imam Al-Qurthubi Rahimahullah mengambil satu simpulan darinya dan beliau berkata :

وهذه الأقوال متقاربة والقصد بجميعها الإعطاء لمن لا يتمكن إسلامه حقيقة إلا بالعطاء، فكأنه ضرب من الجهاد

 “Dan pendapat-pendapat ini saling berdekatan dan tujuan yang dimaksudkan dari keseluruhannya adalah pemberian yang diperuntukkan bagi siapa saja yang tidak menetap (goyah) keislamannya pada hakikatnya kecuali dengan pemberian, maka seolah seperti bagian dari Jihad.” [Al-Jami’ul li-Ahkamil Qur’an 10/ 262 Cet. Mu’assah Ar-Risalah]

Dengan demikian, kata mualaf  dalam perbendaharaan bahasa Indonesia sudah sangat tepat diletakkan pada tempatnya, dan ini sekaligus menunjukkan bagaimana kuatnya bahasa Arab turut membentuk dan mewarnai bahasa kita. Dan ada pun bahasan rinci tentang pengelompokan mualaf dapat ditelaah dalam kitab-kitab Fikih.