Ingin Rumah Di Surga?

Teduh.Or.Id – Pada dasarnya setiap pahala dari amal ibadah seorang muslim dilipat gandakan oleh Allah ‘Azza Wajalla menjadi sepuluh kali lipat kebaikan, Allah berfirman :

مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا وَمَنْ جَاءَ بِالسَّيِّئَةِ فَلَا يُجْزَى إِلَّا مِثْلَهَا وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ

Artinya: Siapa saja yang mendatangkan kebaikan maka baginya sepuluh kebaikan yang serupa dengannya dan siapa saja yang mendatangkan keburukan maka tiadalah ia dibalas kecuali dengan semisalnya dan mereka tiadalah dizalimi. (QS: Al-An’am 160)

Dan Kadang juga kebaikan tersebut dilipat gandakan sampai menjadi tujuh ratus pahala kebaikan dan bahkan sampai pada jumlah yang tidak terhitung. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

فمن هم بحسنة فلم يعملها كتبها الله له عنده حسنة كاملة فإن هو هم بها فعملها كتبها الله له عنده عشر حسنات إلى سبعمائة ضعف إلى أضعاف كثيرة

Artinya: “Maka siapa saja yang berkeinginan (melakukan) kebaikan namun ia tidak lakukan, Allah mencatat kebaikan itu baginya di sisi-Nya sebagai satu kebaikan yang sempurna, dan jika ia berkeinginan (melakukan)nya lalu ia kerjakan, Allah mencatat kebaikan itu baginya di sisi Allah menjadi sepuluh kebaikan, (bahkan) sampai tujuh ratus kali lipat sampai berlipat-lipat yang banyak.” (HR: Bukhary dan Muslim/ al-Lu’lu’u Wal Marjan 31-32/ cet. Darul Hadits-Kaero)

Imam an-Nawawy Rahimahullah berkata:

وأما قوله صلى الله عليه و سلم إلى سبعمائة ضعف إلى أضعاف كثيرة ففيه تصريح بالمذهب الصحيح المختار عند العلماء أن التضعيف لا يقف على سبعمائة ضعف وحكى أبو الحسن أقضى القضاة الماوردى عن بعض العلماء أن التضعيف لا يتجاوز سبعمائة ضعف وهو غلط لهذا الحديث

“Dan adapun Sabdanya Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang berbunyi : “Sampai menjadi tujuh ratus lipat hingga kelipatan yang banyak.” Maka di dalamnya ada pernyataan terkait dengan pendapat yang benar lagi terpilih di sisi Ulama, bahwa pengelipatan pahala tidak hanya terhenti sampai tujuh ratus lipat, dan Abul Hasan al-Mawardy telah menceritakan pendapat Ulama (lainnya) bahwa pengelipatan pahala tidak sampai melewati tujuh ratus kelipatan, dan pendapat ini salah berdasarkan hadist ini.” (al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Hajjaj 2/331/ Cet. Darul Ma’rifah – Bairut)

Jumlah kelipatan pahala kebaikan yang tanpa batas angka ini juga disebutkan di dalam al-Qur’an :

مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

Artinya: “Perumpamaan orang-orang yang menginfakkan harta-harta mereka di jalan Allah seperti umpama biji yang menumbuhkan tujuh Sanabil di dalam setiap sumbul tersebut terdapat seratus biji, dan Allah melipatgandakan (pahala) bagi siapa saja yang Allah kehendaki dan Allah Maha luas lagi maha mengetahui.” (QS: al-baqarah 261)

Amal-Amal Berpahala Rumah Di Surga

Namun selain kelipatan pahala kebaikan menjadi sepuluh kali lipat, dan tujuh ratus kali lipat, dan bahkan dengan tanpa batasan angka, ternyata ada beberapa amal ibadah yang ganjaran pahalanya – dijelaskan dengan lebih detil selain dari pahala yang tersebut di atas –  yaitu berupa rumah di surga. Apa saja amal ibadah tersebut !, berikut ulasannya :

Membangun Masjid

Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda :

عن عثمان بن عفان قال : وإنى سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول من بنى مسجدا لله تعالى قال بكير حسبت أنه قال يبتغى به وجه الله  بنى الله له بيتا فى الجنة

Dari Utsman bin ‘Affan Radliyallahu Anhu beliau berkata: Dan sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda : “Siapa saja yang membangun masjid demi Allah, – Bukair (seorang yang mendengar hadits ini dari Utsman bin Affan) berkata: “Aku mengira kalau ia berkata : Mengharapkan dengannya wajah Allah – Maka Allah membangunkan baginya rumah di surga.” (HR: Muslim)

Shalat Sunnah Dua Belas Rakaat

Mendirikan Shalat Sunnah sebanyak dua belas raka’at setiap hari, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda :

عن أم حبيبة رضي الله عنها قالت سمعت رسول الله عليه وسلم يقول : من صلى اثنتى عشرة ركعة فى يوم وليلة بنى له بهن بيت فى الجنة. قالت أم حبيبة فما تركتهن منذ سمعتهن من رسول الله صلى الله عليه وسلم

Dari Ummu Habibah Isteri Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, beliau pernah berkata: “Aku pernah mendengarkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Siapa saja yang shalat dua belas rakaat dalam sehari semalam dibangunkan untuknya karena shalat tersebut rumah di dalam surga.” Ummu Habibah berkata: Maka tidak pernah meninggalkannya semenjak aku mendengarnya dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.” (HR: Muslim)

Shalat dua belas rakaat dalam hadits ini maksudnya ialah shalat Tathawwu’ atau shalat sunnah Rawatib yang telah dirincikan dalam satu riwayat hadits :

عن عائشة قالت : قال رسول الله صلى الله عليه و سلم من ثابر على ثنتي عشرة ركعة من السنة بنى الله له بيتا في الجنة أربع ركعات قبل الظهر وركعتين بعدها وركعتين بعد المغربن وركعتين بعد العشاء وركعتين قبل الفجر

Dari ‘Aisyah Radliyallahu ‘Anha beliau berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah bersabda: Siapa saja yang merutinkan atas dua belas rakaat Sunnah, Allah bangunkan untuknya rumah di dalam surga yaitu empat rakaat sebelum zhuhur dan dua rakaat setelahnya, dan dua rakaat setelah Maghrib dan dua rakaat setelah Isya dan dua rakaat sebelum subuh.” (HR: Tirmidzi)

Dan hadits ini sekaligus menjadi dalil dan jawaban atas pertanyaan yang menyebutkan apakah disyaratkan dalam pelaksanaan dua belas rakaat tersebut harus secara berkesinambungan sehingga barulah akan sah disebut mendapatkan rumah di surga? Ataukah pengamalannya cukup hanya dalam waktu sehari semalam saja ?

Terdapat dua pendapat Ulama dalam masalah ini namun yang lebih mendekati adalah pendapat yang sesuai dengan hadits di atas, yaitu disyaratkan pelaksanaannya secara berkesinambungan, bukan hanya satu hari saja lalu esoknya tidak dikerjakan.

Syaikh Shalih al-Munajjid dalam islamqa.info [Klik untuk membacanya] yang beliau asuh, setelah memaparkan pendapat Syaikh Shalih ibnu Utsaimin dan Syaikh bin Baz Rahimahumullah Jami’an, beliau akhirnya menguatkan pendapat tersebut, beliau berkata:

ولعل هذا القول هو الأقرب : يعني : أن هذا الوعد خاص بمن واظب على ذلك ؛ إعمالا للقيد  الذي ورد في روايات صحيحة فالمطلق يحمل على المقيد ، وزيادة القيد هنا مقبولة ، لا وجه لإهمالها .

“Dan barangkali pendapat inilah yang lebih dekat (dengan yang benar) : yakni: sesungguhnya janji pahala ini khusus dengan siapa saja yang merutinkan perbuatan itu, sebagai bentuk pengamalan dari Qaid yang telah ada dalam beberapa riwayat yang shahih, maka (riwayat hadits) yang al-Mutlaq dibawa ke (hadits) yang al-Muqayyad, dan tambahan Qaid (penyederhana makna dari umumnya lafaz) di sini dapat diterima, tidak ada bentuk (alasan) untuk mengabaikannya. Wallahu A’lam.”

Membaca Surat al-Ikhlash

Membangun rumah di surga hanya dengan membaca surat al-Ikhlash sebagaimana hal ini disebutkan dalam sebuah hadits, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah bersabda:

من قرأ قل هو الله أحد عشر مرات بنى الله له بيتا في الجنة

“Siapa saja membaca Qul Huwallahu Ahad sepuluh kali, Allah bangunkan untuknya rumah di dalam surga.”

Hadits ini terdapat dalam al-Jami’ush Shaghir Karya Imam as-Suyuthy dan di nilai Shahih oleh al-Muhaddits al-Albany. Hadits ini juga beliau sebutkan dalam kitabnya as-Silsilah al-Ahaditsush Shahihah No. 589/ 2/ 136 namun dengan menggunakan lafaz Qashran yang berarti rumah mewah sebagai ganti dari kata Baitan.

Selain membaca surat al-Ikhlash, membaca surat Hamim ad-Dukhan juga menjadi penyebab mendapatkan pahala rumah di surga, akan tetapi hadits yang mejelaskan hal ini dinilai lemah (Dla’if ) berikut redaksinya:

 عن أبي أمامة قال : قال رسول الله صلى الله عليه و سلم :  من قرأ حم الدخان في ليلة الجمعة أو يوم الجمعة بنى الله له بيتا في الجنة.  رواه الطبراني في الكبير وفيه فضال بن جبير وهو ضعيف جدا

 Dari Abi Umamah beliau berkata: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah bersabda: “Siapa saja yang membaca Hamim ad-Dukhan pada malam jum’at atau hari jum’at, Allah bangunkan untuknya rumah disurga. (al-Haitsamy berkata) Hadits ini diriwayatkan oleh ath-Thabrany dalam Mu’jamul Kabir dan dalam Sanadnya terdapat seorang periwayat bernama Fadlol bin Jubair dan dia Dla’if Jiddan (Lemah sekali). (al-Haitsamy dalam Majma’uz Zawa’id Wamanba’ul Fawa’id)

Demikian, Semoga bermanfaat.

Bersambung: Rumah di Surga (Bag.II)