Imam Al-Syafi’i Membenci Kubur Ditinggikan dan Diagungkan

 

Meninggikan kubur merupakan suatu yang sering kita jumpai dan temukan terjadi di tengah-tengah masyarakat kita, padahal kebanyakan dari mereka mengaku mengikuti Madzhab Asy-Syafi’iyyah termasuk dalam urusan meninggikan kubur.

Dan ternyata hal itu bertolak belakang atau jauh panggang dari api, sebab ternyata Madzhab Imam Asy-Syafi’i tidak menyetujui kuburan ditinggikan.

Imam Asy-Syafi’i Rahimahullah berkata:

أكره أن يرفع القبر إلا بقدر ما نعرف أنه قبر لكي لا يوطأ ولا يجلس عليه

“Aku benci kubur ditinggikan kecuali seukuran kita dapat mengetahui bahwa tempat tersebut adalah kubur, agar tidak ditempati dan tidak diduduki.”[1]

Imam An-Nawawi Rahimahullah yang merupakan Imam Mujtahid dalam Madzhab Asy-Syafi’i berkata:

ويرفع القبر شبرا فقط

“Dan kubur ditinggikan hanya sejengkal saja”[2]

Dan Al-Khathib Asy-Syarbini menjelaskan:

( ويرفع ) ندبا ( القبر شبرا ) تقريبا ليعرف فيزار ويحترم ولأن قبره صلى الله عليه وسلم رفع نحو شبر رواه ابن حبان في صحيحه  ( فقط ) فلا يزاد على تراب القبر لئلا يعظم شخصه

“Dan Sunnah kubur ditinggikan kira-kira sejengkal saja untuk diketahui letaknya agar bisa diziarahi dan dihormati, dan karena kuburnya Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam ditinggikan seukuran sejengal, (ini) diriwayatkan Ibnu Hibban dalam Shahihnya,  maka tidak ditambah di atas tanah kubur supaya orangnya tidak diagungkan”[3]

Imam Asy-Syafi’i Rahimahullah berkata:

وأكره أن يعظم مخلوق حتى يجعل قبره مسجدا مخافة الفتنة عليه وعلى من بعده من الناس

“Dan aku benci seorang makhluk diagungkan sampai kuburannya kemudian dijadikan tempat shalat (Masjid) karena khawatir menjadi fitnah terhadapnya dan atas orang-orang setelahnya”[4]

Amirulmukminin Ali bin Abi Thalib Radliyallahu ‘Anhu berkata kepada seorang muridnya:

ألا أبعثك على ما بعثنى عليه رسول الله -صلى الله عليه وسلم- أن لا تدع تمثالا إلا طمسته ولا قبرا مشرفا إلا سويته

“Aku mengutusmu di atas apa yang telah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengutus diriku: “Jangan kamu biarkan berhala kecuali kamu hancurkan, dan tidaklah kamu menemukan kubur ditinggikan kecuali engkau ratakan dengan tanah”.[5]

Imam An-Nawawi Rahimahullah berkata:

فيه أن السنة أن القبر لا يرفع على الأرض رفعا كثيرا ولا يسنم بل يرفع نحو شبر ويسطح وهذا مذهب الشافعى ومن وافقه

“Dalam Hadits ini sesungguhnya yang Sunnah bahwa kubur tidak ditinggikan di atas bumi dengan tinggi yang megah (banyak) dan tidak juga di-Yusannam, akan tetapi (boleh) ditinggikan seukuran sejengkal dan di-Yusthah, dan inilah Madzhab Imam Asy-Syafi’i Rahimahullah dan Ulama yang menyepakatinya.”[6]

Contoh bentuk kuburan yang di Yusannam

Yusannam artinya dibuat gundukan dengan ukuran sejengkal namun bagian atasnya membentuk pola mengerucut seperti piramida, ini bertujuan agar gundukan tidak ditempati hewan dan diinjak-injak dan Yusthah artinya dibuat di atasnya pola datar tanpa kerucut.[7]

Musa Abu ‘Affaf, BA.


[1] Sunan Attirmidzi (1/249. No. 1049) Cet. Maktabatul-Ma’arif – Riyadl.

[2] Mughnil Muhtaj (1/525) Cet. Darulmakrifah

[3] Mughnil Muhtaj (1/525) Cet. Darulmakrifah

[4] Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim (7/38)

[5] HR: Muslim dan Attirmidzi

[6] Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim (7/36)

[7] https://ar.islamway.net/fatwa/

Comments

comments