Apakah Engkau Bersedih Ketika Ilmu Diangkat?

Teduh.Or.Id – Dicabutnya ilmu syar’i merupakan salah satu pertanda dekatnya hari kiamat. Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,

يتقارب الزمان ويقبض العلم

Zaman saling berdekatan dan Ilmu digenggam.” (HR: Muslim dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu)

Hadits lain yang menerangkan diangkatnya Ilmu sebagai tanda hari kiamat adalah sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam:

إن من أشراط الساعة أن يرفع العلم

Sesungguhnya di antara tanda-tanda kiamat diangkatnya Ilmu.” (HR: Bukhari. Kitab al-Ilmu. Bab Raf’il Ilmi Wa Dzuhuril Jahl.)

Diangkatnya Ilmu bukan dengan cara dibangkrutkannya percetakan-percetakan buku dan kitab, atau dengan matinya listrik dan koneksi internet – sebab listrik dan internet adalah satu kesatuan saat ini yang menjadi wasilah termudah dan tercepat untuk megakses ilmu dan hal penting lainnya – namun dengan cara yang telah ditentukan Allah ‘Azza Wa Jalla sendiri.

إن الله لا يقبض العلم انتزاعا، ينتزعه من العباد ولكن يقبض العلم بقبض العلماء حتى إذا لم يبق عالما، اتخذ الناس رءوسا جهالا، فسئلوا، فأفتوا بغير علم، فضلوا وأضلوا

Sesungguhnya Allah tidak akan menggeggam ilmu (dalam bentuk) pencabutan, (di mana Allah) mencabutnya dari manusia, akan tetapi Allah menggenggam Ilmu dengan menggenggam Ulama, sampai apabila telah tidak tersisa lagi orang Alim, orang-orang menjadikan para pemimpin yang bodoh, maka mereka pun ditanya, lantas mereka berfatwa dengan tanpa ilmu, mereka telah sesat dan telah menyesatkan orang lain.” ( HR: Bukhari Muslim. al-Lu’lu’ Wal Marjan Fiimat Tafaqa ‘Alaihisy Syaihan.)

Al-Hafidz Ibnu Hajar al-‘Asqalaniy rahimahullah mejelaskan bahwa hadits ini disabdakan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam saat berada dalam kesempatan Haji Wada’. Hal ini sebagaimana yang telah dijelaskan oleh riwayat dari Imam Ahmad dan ath-Thabraniy dari Hadits Abu Umamah. Beliau berkata; “Ketika Haji Wada’ Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Ambillah ilmu sebelum ia digenggam atau diangkat, lalu seorang dari suku Arab berkata: “Bagaimana ia diangkat?.” Maka beliau menjawab: “Perhatikanlah, Sesungguhnya lenyapnya ilmu adalah lenyapnya para pembawanya (beliau ucapkan itu) tiga kali.”

Al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah juga meyebutkan pendapat Ibnul Munir, “bahwa terhapusnya ilmu dari dada para ulama bisa terjadi dalam kekuasaan Allah, akan tetapi hadits ini menunjukkan atas ketiadaan terjadinya hal itu.”  (Fathul Bariy. Jilid ke-1. Hal. 342. Cet. Dar Thayyibah. Riyadh. Saudi Arabia)

Jadi, menggenggam nyawa ulama adalah cara Allah menghapus ilmu, walau pun pada dasarnya Allah mampu menghapusnya secara langsung dari dada para ulama semasa mereka masih hidup.

Maka kedukaan sangat pantas dan layak dihadirkan ketika ada Ulama yang wafat, sebab itulah tanda yang sangat nyata dari terangkatnya ilmu. Dan di situ ada satu ungkapan yang begitu populer dalam hal ini:

موت العالم ثلمة في الإسلام لا تسد ما اختلف الليل و النهار

“Kematian orang yang Alim adalah kekosongan dalam Islam yang tidak bisa diisi selama pergantian malam dan siang”

Ungkapan ini ada yang menyandarkannya ke Hasan Al-Bashriy, ada juga yang menyandarkannya kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, akan tetapi ungkapan ini ternyata tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenaranya dari Nabi atau Hasan Al-Bashriy dan bahkan Syaikh al-Albaniy dalam Dha’if Jami’ish-Shaghir menetapkannya sebagai hadits Maudhu’ atau Palsu. (Pembaca yang menguasai bahasa Arab bisa membaca Takhrij Hadits tersebut di sini.)

Namun bersedih saja tentunya belum ideal sebagai tindakan atas wafatnya Ulama, sebab pesan sebenarnya dari hadits tersebut adalah agar kaum muslimin semakin giat dan gemar menuntut ilmu itu sendiri. Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-‘Asqalany berkata:

Dalam hadits ini terdapat anjuran untuk menjaga ilmu dan peringatan dari mengedepankan orang bodoh. Di dalamnya juga ada penjelasan bahwa sesungguhnya urusan Fatwa adalah bentuk tampuk kepemimpinan seutuhnya. Dan celaan atas siapa saja yang mengajukan diri terhadapnya (urusa fatwa) dengan tanpa ilmu.”  (Fathul Bariy. Jilid ke-1. Hal. 343. Cet. Dar Thayyibah. Riyadh. Saudi Arabia)

وصل الله على نبينا محمد وعلى أله وأصحابه أجمعين