Ibnu Umar Pernah Umrah Untuk Nabi ?

Spread the love

Atsar atau hikayat Ibnu Umar Radliyallahu ‘Anhuma pernah melakukan umrah untuk Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dijadikan sebagai sandaran dalil atas bolehnya menghadiahkan pahala ibadah kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, sebagaimana disebutkan dalam beberapa kitab Fiqh Madzhab Asy-Syafi’iyyah yang berbunyi :

واختاره السبكي واحتج بأن ابن عمر رضي الله تعالى عنهما كان يعتمر عن النبي صلى الله عليه وسلم عمرة بعد موته من غير وصية

“Dan Assubkiy telah memilihnya dan dia berdalil dengan riwayat bahwa sesungguhnya Ibnu Umar Radliyallahu ‘Anhuma pernah melakukan Umrah untuk Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam setelah Nabi wafat tanpa ada wasiat (dari Nabi) untuk melakukannya”

Kutipan ini disebutkan dalam beberapa kitab Fiqh Madzhab Asy-Syafi’iyyah seperti :

  1. Minhajuthhalibin Wa ‘Umdatul Muftin (1/286)
  2. Hasyiyah I’anatuth-thalibin (3/260)
  3. Hawasyi Asy-Syarwaniy Wal ‘Abbadiy (7/76)

Sebatas penelusuran yang kami lakukan terhadap Atsar ini, kami tidak berhasil mendapatkan kejelasan Sanadnya, dan sebagai penguat dari apa yang kami sebutkan, islamweb.net fatwa No. 141559 juga menetapkab hal yang sama, bahwa Atsar tersebut tidak Tsabit (tidak valid), hanya saja sebagian Ulama menyebutkannya begitu saja tanpa Sanad.

Dan telah diketahui, bahwa suatu Atsar tidak dapat dijadikan dalil jika tidak memiliki Sanad, dan bahkan tidak tepat perbuatan tersebut disandarkan kepada Ibnu Umar Radliyallahu ‘Anhuma jika Sanadnya lemah, lalu bagaimana kalau tanpa Sanad sama sekali.

Dan dalam kesempatan ini juga dinukilkan bahwa Madzhab Imam Asy-Syafi’i sendiri secara utuh tidak membolehkan berqurban untuk orang lain tanpa  izin darinya, dan tidak boleh juga untuk orang yang sudah mati kecuali apabila dia telah berwasiat sebelumnya agar dikurbankan untuk dirinya.

Mengomentari pendapat Al-‘Allamah Tajuddin Assubkiy Rahimahullah , dan lainnya, yang membolehkan bacaan Al-Qur’an untuk Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, Imam Annawawiy Rahimahullah berkata:

 ولكن هؤلاء أئمة مجتهدون فإن مذهب الشافعي أن التضحية عن الغير بغير إذنه لا تجوز كما صرح به المصنف في باب الأضحية، وعبارته هناك: ولا تضحية عن الغير بغير إذنه، ولا عن الميت إذا لم يوص بها

“Dan akan tetapi para Imam tersebut adalah para Mujtahid (dalam Madzhab) dan sesungguhnya Madzhab Imam Asy-Syafi’i sendiri tidak membolehkan berkurban untuk orang lain tanpa dengan izinnya sebagaimana ini telah dijelaskan oleh penyusun kitab dalam Bab Al-Udlhiyyah, dan redaksinya di sana berbunyi : “Dan tidak ada kurban untuk orang lain tanpa izinnya, dan tidak ada untuk mayit apabila dia tidak berwasiat”. (Minhajuthhalibin 1/286)

Maka dari hal ini dapat disimpulkan bahwa membaca Al-Fatihah untuk dihadiahkan pahalanya ke Nabi juga tidak boleh dilakukan jika tanpa izin dan wasiat dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, membaca Al-Fatihah dan ‘Umrah dalam hal ini tidak berbeda, oleh karena itulah Imam An-Nawawiy, Al-Hafizh Ibnu Hajar Rahimahullah Jami’an menilainya bahwa menghadiahkan Al-Fatihah untuk Nabi tidak memiliki dasar dari Salaf, dan bahkan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah menilainya Bid’ah seperti yang telah kami paparkan dalam tulisan sebelumnya.[1]

Lombok 20 Sya’ban 1439 H.

Musa Abu ‘Affaf, BA.


[1]  Tulisan kami sebelumnya dapat diakses melalui link berikut : https://www.teduh.or.id/hukum-hadiah-al-fatihah-ke-nabi/