Ibadah Khusus Wanita Haid Di Bulan Puasa

Perbedaan kaum hawa dengan kaum pria bukan hanya terletak pada perbedaan fisik, namun juga perbedaan ini meliputi beberapa perkara yang terkait dengan Syari’at Islam. misalnya seperti kewajiban shalat dan berpuasa. kaum hawa tidak diperbolehkan shalat ketika haid namun begitu mereka tidak wajib menggantinya di hari lain setelah dia suci dari haid. begitu juga mereka tidak diperbolehkan berpuasa ketika haid, namun mereka diwajibkan untuk menggantinya nanti pada masa sucinya. dan hal ini sangat berbeda dengan kaum pria tentunya.

Dan bukan hanya perkara shalat dan puasa, bahkan perbedaan antara kaum hawa dan kaum pria juga nampak terjadi dalam urusan warisan dan persaksian.

Semua itu sejatinya telah ditetapkan dalam Syariat Islam, lebih detilnya mari simak dialog Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dengan beberapa orang wanita berikut ini :

ما رأيت من ناقصات عقل ودين أذهب للب الرجل الحازم من إحداكن قلن وما نقصان ديننا وعقلنا يا رسول الله قال أليس شهادة المرأة مثل نصف شهادة الرجل قلن بلى قال فذلك من نقصان عقلها أليس إذا حاضت لم تصل ولم تصم قلن بلى قال فذلك من نقصان دينها

Nabi bersabda: “Aku tidak mengetahui makhluk yang kurang akal dan agama yang lebih dapat menghilangkan kecerdasan seorang lelaki yang teguh (stabil) selain dari kalian. para wanita itu pun berkata: “Lalu apakah kekurangan agama kami dan akal kami wahai Rasulallah?” Nabi pun bersabda: “Bukankah kesaksian seorang wanita hanya seperti setengah persaksian lelaki!” mereka menjawab : “tentu (memang seperti itu)”. Nabi Bersabda: “maka itulah bagian dari kekurangan akalnya.” Nabi melanjutkan : “Bukankah apabila dia haid ia tidak shalat dan tidak puasa!.” mereka menjawab : “tentu”, Nabi bersabda: “maka itulah bagian dari kekuragan agamanya.” 

Hadits ini kemudian menjadi dasar atas berdirinya Ijma’ Ulama bahwa wanita tidak wajib shalat saat haid dan tidak wajib menggantinya pada saat suci, dan wanita tidak wajib puasa ramadhan saat haid namun wajib menggantinya nanti pada saat suci. [2]

Karena merasa rugi tidak sempat beribadah di bulan ramadhan karena haid yang datang, akhirnya sebagian wanita bertanya, apakah ada ibadah tertentu yang boleh mereka lakukan pada bulan ramadhan untuk memanfaatkan moment mulia tersebut?

Pertanyaan ini seharusnya telah pernah ditanyakan oleh para wanita pada zaman Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, karena merekalah wanita-wanita Shahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang tentunya lebih taat dan lebih haus dengan ibadah dari pada wanita-wanita pada zaman ini, namun walau pun demikian ternyata pertanyaan seperti itu tidak pernah tercatat ada dari mereka, yang artinya bahwa tidak ada ibadah khusus yang telah ditentukan oleh Rasulullah atas wanita haid selama berada di bulan ramadhan atau malam-malam krusial ramadhan yakni sepuluh terakhirnya.

Semua Ibadah seperti berdzikir dan berdoa, dan amal baik seperti bersedekah, berbakti terhadap suami, berbakti kepada orang tua, dan ibadah-ibadah lainnya yang tidak diharamkan atas wanita haid, boleh dikerjakan dan diamalkan. akan tetapi hal ini pun tidak hanya ditekankan khusus pada saat ramadhan saja, namun anjurannya pun juga berlaku diluar ramadhan atas setiap wanita yang haid.

Adapun pertanyaan Ummul Mukminin Aisyah Radhiyallahu ‘Anha yang meminta diajarkan oleh Nabi satu amalan tertentu pada malam Lailatul Qadr tidak menunjukkan adanya ketentuan khusus untuk wanita yang haid, akan tetapi menjadi sebuah anjuran umum kepada seluruh ummatnya.

عن عائشة قالت : قلت يا رسول الله أرأيت إن علمت أي ليلة ليلة القدر ما أقول فيها ؟ قال قولي اللهم إنك عفو كريم تحب العفو فاعف عني

“Dari Aisyah Radhiyallahu ‘Anha beliau berkata: “Aku pernah bertanya kepada Rasulillah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bagaimanakah menurutmu apabila aku mengetahui suatu malam adalah malam Lailatul Qadr, apa yang akan ucapkan (baca) padanya? Beliau bersabda: “Ucapkanlah ; Sesungguhnya engkau adalah Maha Pengampun lagi Maha Mulia yang menyukai pengampunan, Ampunilah aku.” [3]

Wallahu A’lam.

Musa Abu Affaf

_____________________________________

#Penulis adalah alumni al-Jami’atul Islamiyyah Madinah Fakultas Hadits. ‘Afallahu ‘Anhu

[1] Hadits Riwayat Imam Muslim./ Kitabul Iman/ Bab Bayanu Naqshil Iman.

[2] Imam Ibnul Mundzir. (318 H.) Al-Ijma’ No. 85 – 86 . Hal. 47-48 Maktabah al-Furqan. Kuwait. vesri Pdf.

[3] Hadits Riwayat Imam Tirmidzi / Kitabud-da’awat/ Bab Jami’ud Da’awat ‘Anin Nabiy/ Imam Tirmidzi menilainya Hasan Shahih.