Hukuman Mati Dalam Tinjauan Syar’i

Teduh.Or.Id – Hukuman mati, sebagian kita mungkin merasa biasa saja ketika mendengar kalimat tersebut diucapkan, sebagian yang lain meresponnya dengan semangat yang berapi-api, tapi sebagian yang lain justru menyikapinya dengan sinis atau bahkan antipati karena setumpuk syubhat yang masih menggelayut di benaknya. Sebagai umat muslim tentunya kita memiliki panduan yang jelas berkaitan dengan perkara yang besar seperti ini baik di dalam Al-Quran maupun As-Sunnah. Lantas bagaimanakah Syariat Islam memandang hukuman mati ini?

Islam sebagai agama yang beridentitaskan rahmatan lil ‘aalamin ingin menjaga setiap pemeluknya dari segala hal yang membahayakan, entah itu di dunia terlebih di akhirat, salah satu bentuk penjagaan tersebut adalah disyariatkannya berbagai bentuk hukuman yang diberlakukan kepada setiap pelaku kejahatan termasuk di antaranya adalah hukuman mati. Sekilas tampak terjadi kontradiksi antara identitas Islam yang telah kami sebutkan di atas dengan hukuman ini namun Allah Yang Maha Mengetahui segala sesuatu dengan penuh kebijaksanaanNya menjelaskan bahwa hukuman tersebut justru amat sesuai dengan keistimewaan yang telah Dia berikan bagi agama ini, Allah berfirman, yang artinya,

“Dan dalam qishaash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, Hai orang-orang yang berakal, supaya kamu bertakwa.” [QS Al-Baqarah: 179]

Yaitu terhentinya niatan seseorang yang hendak membunuh untuk melaksanakan niatannya itu maka dengan ini terjagalah dua kehidupan sekaligus, kehidupan seorang yang hendak dibunuh dan kehidupan orang yang hendak membunuh tersebut karena secara tidak langsung ia telah selamat dari hukuman qishaas yang sedianya akan diberlakukan kepada dirinya jika ia benar-benar melaksanakan niatannya tersebut. (Tafsir Al-Baghawi, Halaman 192)

Beberapa bentuk dosa yang membawa pelakunya pada hukuman mati

Dalam sebuah hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menyebutkan setidaknya ada tiga dosa yang membawa pelakunya pada hukuman mati, beliau bersabda, yang artinya, “Tidaklah halal darah seorang muslim kecuali dengan adanya satu dari tiga perkara: tsayyib yang berzina, membunuh jiwa, dan orang yang meninggalkan agamanya memisahkan diri dari jama’ah (kaum muslimin)” Dikeluarkan oleh Imam Bukhari 6484 dan Imam Muslim 1676.

Tsayyib yang disebutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah seseorang yang pernah melakukan hubungan intim di dalam pernikahan yang sah secara agama.

Termasuk dalam perkara ini adalah perbuatan homoseksual, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya, “Siapa saja yang kalian dapati melakukan perbuatan kaum Nabi Luth (homoseksual) maka bunuhlah kedua pelakunya!” Dikeluarkan oleh Imam Ahmad 300, Imam Abu Daud 1456, Imam At-Tirmidzi 1456, Ibnu Majah 2561.

Tentunya, hukuman mati pada pelaku dosa-dosa di atas bisa dilaksanakan jika sudah terpenuhi semua persyaratannya dan tidak ada satu pun hal yang menghalanginya, hanya pemerintah yang berkuasa yang berhak untuk melaksanakan hukuman semacam ini, bukan individu-individu kaum muslimin secara bebas, Syeikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin berkata: “Seandainya kita mengatakan bahwa siapa saja boleh melaksanakan (mengeksekusi) hukuman semacam ini maka pasti akan terjadi kekacauan dan keburukan yang tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala.” Syarh Al-Arbain An-Nawawiyyah.

Sekali lagi, hukum semacam ini pastilah akan menuai pro dan kontra di tengah-tengah manusia karena memandang hukuman semacam ini tidak manusiawi dan lain sebagainya, namun kita sebagai seorang muslim yang beriman kepada semua ketentuan Allah hendaknya memandang permasalahan semacam ini dengan jiwa keimanan bukan dengan perasaan, logika, atau bahkan hawa nafsu tanpa mau merujuk kepada penjelasan-penjelasan Allah dan RasulNya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, yang artinya,

“Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, Maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus dali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat..”

Allah juga berfirman, yang artinya, “Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapak dan kaum kerabatmu, jika ia kaya ataupun miskin, Maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran..” [QS An-Nisa 135]

Kita juga harus percaya bahwa di balik hukum yang Allah tetapkan pasti ada maslahat besar yang Allah Subhanahu wa Ta’ala inginkan, Allah berfirman, yang artinya, ”..Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” [QS Al-Baqarah 216].

Wallahu a’lam bish shawab.

Ditulis oleh: Muhammad Rizqi

Sumber gambar:

http://higherperspective.com/wp-content/uploads/2014/10/behind-bars.jpg

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.