Hukum Zakat Fitrah Janin Dalam Kandungan

Menurut pendapat mayoritas ulama madzhab yang empat, Janin dalam kandungan ibu tidak wajib dikeluarkan zakat fithrahnya, bahkan diceritakan ada Ijma’ atas hal itu.[1]

Ibnulmundzir – rahimahullah – berkata;

أجمعوا على أنْ لا زكاةَ على الجنينِ في بطن أمِّه، وانفرد ابن حنبل، فكان يحبُّه ولا يُوجِبُه

“Ulama telah bersepakat atas tidak ada kewajiban zakat fithrah atas janin dalam perut ibunya, dan Imam Ibnu Hambal menyendiri (dari kesepakatan itu) sehingga Beliau menilainya Sunnah namun tidak mewajibkannya.” (Al-Ijma’ 47)

Imam Annawawi – rahimahullah – berkata:

لا تجب فطرة الجنين لاعلي أبيه ولا في ماله بلا خلاف عندنا ولو خرج بعضه قبل غروب الشمس وبعضه بعد غروبها ليلة الفطر لم تجب فطرته لانه في حكم الجنين ما لم يكمل خروجه منفصلا

“Dan tidak wajib zakat fithrah janin, tidak wajib ditanggung atas bapaknya, dan tidak juga wajib dalam hartanya, tanpa ada perbedaan di sisi kami, dan jika janin itu keluar sebagiannya sebelum matahari terbenam dan sebagiannya keluar setelah tenggelamnya pada malam idulfithri maka tidak wajib memfithrahkannya, karena ia termasuk ke dalam hukum janin selama ia belum sempurna keluarnya secara terpisah.” (Al-Majmu’ 6/139)

Meskipun pendapat yang kuat dalam Madzhab Al-Hanbali adalah tidak wajib membayar zakat fithrah dari janin, namun terdapat riwayat lain dari Imam Ahmad menghukuminya wajib, hal ini seperti yang disebutkan Ibnu Qudamah ;

عن أحمد، رواية أخرى أنَّها تجب عليه؛ لأنَّه آدميٌّ، تصحُّ الوصيةُ له، وبه، ويرث فيدخُلُ في عموم الأخبار، ويُقاس على المولودِ

“Ada riwayat lain dari Imam Ahmad bahwa wajib atasnya, karena ia termasuk manusia, sah menerima dan memberi wasiat dengannya, dan sah menerima warisan, maka ia masuk ke dalam umumnya hadits-hadits, dan sah diqiyaskan ke anak yang telah lahir.” (Al-Mughni 3/99)

Dan versi riwayat Imam Ahmad ini sesuai dengan pendapat Ibnu Hazm – rahimahullah– yang menghukuminya wajib, beliau berkata;

وأما الحمل فإن رسول الله صلى الله عليه وسلم أوجبها على كل صغير وكبير والجنين يقَع عليه اسمُ: صغير, فإذا أكمل مئةً وعشرينَ يومًا في بطن أمِّه قبل انصداعِ الفَجرِ مِن ليلةِ الفِطرِ، وجَب أن تؤدَّى عنه صَدَقةُ الفِطر

“Dan kata janin tepat atasnya nama Shaghir, maka apabila ia telah genap seratus dua puluh hari dalam perut ibunya sebelum fajar subuh terbit pada malam idulfithri, wajib ditunaikan darinya sedekah fithrah.” (Al-Muhalla 6/,132)

Akan tetapi pendapat Ibnu Hazm yang mewajibkan zakat fithrah dari janin tidak kuat dan telah dibantah oleh para ulama di antaranya oleh Imam Zainuddin Al-‘Iraqi dalam kitabnya Tharh Attatsrib, bahwa tidak wajib berzakat fithrah atas janin merupakan kesepakatan yang telah terbentuk sebelum Ibnu Hazm datang menyelisihinya, beliau berkata;

فلم يثبت فيه خلاف لأحد من أهل العلم بل قول أبي قلابة: ” كان يعجبهم ” ظاهر في عدم وجوبه، ومن تبرع بصدقة عن حمل رجاء حفظه وسلامته فليس عليه فيه بأس وقد نقل الاتفاق على عدم الوجوب قبل مخالفة ابن حزم

“Maka tidak ada ketetapan perbedaan pendapat di dalamnya dari salah seorang pun dari ulama, bahkan perkataan Abu Qilabah yang berbunyi; “Mereka dulu menyukai” jelas menerangkan tidak wajibnya, dan siapa saja yang mendermakan sedekah dari janin karena mengharap mendapat penjagaan dan keselamatan maka tidak ada keburukan atasnya, Dan kesepakatan telah dinukil atas tidak wajib sebelum terjadi penyelisihan dari Ibnu Hazm.” (Tharhut Tatsrib 4/61)

Meskipun tidak wajib, namun sebagian ulama menghukuminya Mustahab atau Sunnah, karena adanya Atsar dari salaf, di antaranya adalah Atsar  dari ‘Utsman bin ‘Affan – Radliyallahu ‘Anhu – sebagaimana yang dikeluarkan oleh Ibnu Hazm dan lainnya;

أن عثمان بن عفان كان يعطي صدقة الفطر عن الصغير والكبير والحمل

“sesungguhnya ‘Utsman bin ‘Affan memberikan sedekah fithr dari anak kecil dan dewasa dan janin.” (Al-Muhalla 6/,132)

dan Atsar dari Abu Qilabah, beliau berkata:

كان يعجبهم أن يعطوا زكاة الفطر عن الصغير والكبير حتى على الحبل في بطن أمه

“Mereka (para shahabat) menyukai penunaikan zakat fithr dari anak kecil dan orang dewasa sampai atas janin yang ada dalam perut ibunya.” (Al-Mushannaf Abdurrazzaq no.5788 3/319)

Dan inilah yang difatwakan oleh ulama Allajnah Addaimah Saudi Arabia, mereka menetapkan;

يستحب إخراجها عنه لفعل عثمان رضي الله عنه ولا تجب عليه لعدم الدليل على ذلك

“Disunnahkan mengeluarkan zakat darinya (janin) berdasarkan perbuatan ‘Utsman bin ‘Affan – radliyallahu ‘anhu – dan tidak wajib atasnya karena tidak ada dalil atas hal itu.” (fatwa No.1474.)

dan juga oleh al-Faqih Al-‘Utsaimin dalam Majmu’ Fatawa Wa Rasa’il (18/263). Maka dengan itu, siapa saja yang mau menfithrahkan janinnya maka tidak ada masalah, dan hal itu tidak wajib. Wallahu A’lam.

Musa Abu ‘Affaf

—————————–

[1] lihat dorar.net

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.