Hukum Tidur Tanpa Wudlu’

 

Alhamdulillah Washallallahu ‘Ala Rasulillah

Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

إذا أتيت إلى فراشك فتوضأ وضوءك للصلاة  

“Apabila engkau hendak mendatangi ranjangmu (akan tidur) maka berwuldu’lah akan wudlu’mu untuk shalat” (Hadits Riwayat Bukhariy 247 dan Muslim 2710)

Al-Hafizh Ibnu Hajar Rahimahullah berkata:

ظاهره استحباب تجديد الوضوء لكل من أراد النوم ، ولو كان على طهارة ، ويُحتمل أن يكون مخصوصاً بمن كان محدثاً

“Makna harfiyahnya (hadits ini) menunjukkan disunnahkannya memperbarui wudlu’ untuk setiap orang yang mau tidur, walau pun ia masih dalam keadaan suci (masih ada wudlu’nya tidak berhadats. Pen.) dan mengandung kemungkinan maknanya dikhususkan untuk orang yang dalam keadaan berhadats.”[1]

Imam Annawawiy rahimahullah berkata:

فإن كان متوضأ كفاه ذلك الوضوء ، لأن المقصود النوم على طهارة مخافة أن يموت في ليلته وليكون أصدق لرؤياه وأبعد من تلعّب الشيطان به في منامه وترويعه إياه

“Maka jika seorang dalam keadaan ada wudlu’ maka wudlu’ tersebut sudah cukup baginya, karena sebenarnya yang dimaksudkan adalah tidur dalam keadaan suci, (tanpa hadats) karena takut ia mati pada malamnya, dan agar mimpinya menjadi lebih terpercaya serta lebih terjauh dari permainan setan di dalam tidurnya dan menakuti dirinya dengan mimpinya”.[2]

Dari itu Makruh hukumnya tidur tanpa berwudlu’ atau tidak dalam keadaan suci di atas wudlu’, demikian menurut Madzhab Al-Syafi’iyyah, Imam Annawawiy rahimahullah berkata:

ويكره للجنب أن ينام حتى يتوضأ

“Dan Makruh bagi orang yang Junub (mengandung hadats besar) tidur sampai ia berwudlu’.”[3]

 

Musa Abu ‘Affaf, BA.


[1] Fathulbariy (1/358)

[2] Al-Minhaj Syarh Muslim bin Hajjaj (17/32)

[3] Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzzab 2/178)

Comments

comments