Hukum Tidur Setelah Subuh

Dalam beberapa Atsar disebutkan bahwa tidur setelah subuh dilarang, akan tetapi hadits-hadits tersebut lemah sehingga tidak dapat dijadikan sandaran hukum, di antaranya hadits dalam Al-Jami’ush-Shaghir dari Ibnu ‘Abbas – radliyallahu ‘anhuma – disebutkan

إذا صليتم الفجر فلا تناموا عن طلب أرزاقكم

“Apabila kalian telah shalat subuh maka kalian jangan tidur mencari rizki-rizki kalian”. (Al-Jam’ish-Shagir dan hadits ini Dla’if menurut Al-Albani)

Dalam Silsilah Al-Ahadits Al-Dla’ifah , Al-Albani rahimahullah menyebutkan;

 لا تناموا عن طلب أرزاقكم فيما بين صلاة الفجر إلى طلوع الشمس.

“Jangan kalian tidur mencari rejeki kalian pada waktu antara shalat subuh sampai terbitnya matahari” (hadits Dla’if. No.6991).

Dalam Musnad Imam Ahmad disebutkan bahwa Nabi – shallallahu ‘alaihi wasallam – pernah bersabda;

الصبحة تمنع الرزق

“Tidur setelah subuh mencegah rejeki”.

Imam Ibnul Jauzi – rahimahullah – menyebutkan dalam kitabnya Al-‘Ilal Al-Mutanahiyah  bahwa hadits ini tidak Shahih, (2/696, hadits No.1162) , bahkan dalam sanadnya ada periwayat hadits yang dinilai pendusta (Kaddzab) dari itu beliau mencantumkan hadits ini dalam kitab Al-Maudlu’at, (3/68), namun Al-Hafizh Ibnu Hajar – rahimahullah – menilainya tidak sampai kepada hadits Maudlu’ (hadits palsu) seperti yang beliau jelaskan dalam kitab Al-Qaulul Musaddad (1/90) Hadits yang ke-9.

Al-Albani juga menilai hadits ini sangat lemah (Dla’if Jiddan) lihat Silsilah Al-Ahadits Dla’ifah (7/19 no.3019), demikian juga Ahmad Syakir, beliau menilainya sangat lemah (Dla’if Jiddan) lihat Al-Musnad dengan Tahqiq beliau sendiri , (1/350 No. 530), Syu’aib Al-Arnauth beserta timnya menghukumi hadits ini Dla’if yang serupa dengan hadits palsu, (Al-Musnad 1/547, no.530.)

Meskipun hadits-hadits larangan tidur setelah subuh di atas tidak ada satu pun yang shahih sebagai suatu sabda dari Nabi – shallallahu ‘alaihi wasallam – , namun terdapat hadits yang Shahih yang mengisyaratkan agar seorang tidak bermalas-malas setelah subuh karena waktu tersebut adalah waktu yang didoakan keberkahan oleh Nabi – shallallahu ‘alaihi wasallam- , Nabi bersabda;

اللهم بارك لأمتى فى بكورها

“Ya Allah berkatilah ummatmu diwaktu pagi mereka”.

Al-Hafizh Ibnu Hajar –rahimahullah – dalam Fathulbari berkata:

وإنما خص البكور بالبركة لكونه وقت النشاط

“Sesungguhnya waktu pagi disebutkan dengan keberkahan secara khusus karena ia adalah waktu untuk giat beraktivitas.” (6/114)

Sebagian salaf membenci tidur setelah subuh, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf (5/222 No.25442) dengan sanad yang shahih dari ‘Urwah bin al-Zubair beliau berkata;

كان الزبير ينهى بنيه عن التصبح ( وهو النّوم  في الصّباح ) قال عروة : إني لأسمع أن الرجل يتصبح فأزهد فيه

al-Zubair dulu pernah melarang anak-anaknya dari Attshabbuh yaitu tidur diwaktu pagi, dan ‘Urwah berkata; “Sesungguhnya jika aku mendengar seorang tidur pada waktu pagi maka aku akan menjauhkan diri darinya”.

Imam Ibnu Muflih Al-Hanbali dalam Al-‘Aadabusy-syar’iyyah berkata ;

وعن بعض التابعين أن الأرض تعج من نوم العالم بعد صلاة الفجر

“Dan dari sebagian ulama generasi Tabi’in menyebutkan; sesungguhnya bumi ini berteriak kencang karena orang alim tidur setelah shalat subuh”. (3/289).

Syiakh Ibnu ‘Utsaimin – rahimahullah – dalam Syarh Riyadlusshalihin berkata;

لكن وللأسف أكثرُنا اليوم ينامون في أول النهار ولا يستيقظون إلا في الضحى فيفوت عليهم أول النهار الذي فيه بركة. اهـ

“Akan tetapi disayangkan kebanyakan kita pada hari ini tidur di awal hari dan tidak bangun kecuali pada waktu dluha, maka mereka luput atas mereka awal hari yang terdapat di dalamnya keberkahan”. (Syarh hadits 957)

Nukilan-nukilan di atas nampaknya sudah cukup untuk membuat kita sadar kalau tidur setelah subuh jika tanpa ada alasan yang tepat adalah satu gaya hidup yang tidak baik, dan hal ini disetujui oleh akal dan juga oleh budaya kita, namun jika dengan sebab yang boleh, maka hukum tidur kembali kepada hukum asalnya yaitu boleh.

Syaikh Ibnu ‘Utsaimin – rahimahullah – berkata;

الأفضل للإنسان بعد صلاة الفجر أن ينشغل بالذكر؛ من قراءة، أو تسبيح، أو تهليل، أو تحميد، أو غير ذلك مما يقرب لله سبحانه وتعالى؛ لقول الله تعالى: ﴿فسبح بحمد ربك قبل طلوع الشمس وقبل الغروب﴾. ولكن لو غلبه النوم ونام، فإنه لا حرج عليه في ذلك، والذي ينبغي للإنسان أن ينام حيث يحتاج إلى النوم؛ لأن لنفسه عليه حقاً ما لم يكن النوم مانعاً له من أداء واجب عليه فلا

“Yang lebih utama bagi seorang setelah shalat subuh ialah menyibukkan diri dengan dzikir, yang meliputi membaca Al-Qur’an, Tasbih, Tahlil, Tahmid, atau yang lain dari hal itu dari amalan-amalan yang dapat mendekatkan kepada Allah, karena firman Allah (yang terjemahnya); “Maka bertasbihlah dengan memuji Rabbmu sebelum matahari terbit dan sebelum tenggelam”. Akan tetapi apabila ia dikalahkan oleh kantuk sehingga ia pun tidur, maka tidak ada masalah atasnya dalam hal itu, dan yang seyogyanya untuk seorang agar ia tidur kapan ia membutuhkan tidur, karena dirinya punya hak, selama tidur itu tidak menjadi pencegah untuk melaksanakan kewajiban, jika tidak maka ia jangan tidur.”  (Fatawa Nur ‘Aladdarb/ Kaset No.260)

Dan adakalanya tidur lebih didahulukan dari pada ibadah jika ibadah tersebut menjadi terganggu karena kantuk, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda;

إذا نعس أحدكم وهو يصلي فليرقد حتى يذهب عنه النوم فإن أحدكم إذا صلى وهو ناعس لا يدري لعله يذهب يستغفر فيسب نفسه

“Apabila seorang dari kalian mengantuk dan ia sedang shalat maka hendaklah ia tidur sampai kantuknya pergi, maka sesungguhnya seorang dari kalian apabila shalat dalam keadaan mengantuk ia tidak menyadari barangkali ia ingin meminta ampun (istighfar) malah yang ia ucapkan adalah mencaci dirinya sendiri (mendoakan kejelakan untuk dirinya).” (Muttafaq ‘Alaih).

Hadits ini dapat menjadi asal pengambilan sikap, bahwa jika seorang sangat mengantuk karena malamnya ia ibadah dan sahur sehingga ketika akan tilawah atau dzikir setelah subuh ia tak mampu menahan kantuknya bahkan dzikir dan tilawahnya menjadi tidak terkontrol maka boleh ia hentikan lalu tidur.

Maka dapat disimpulkan bahwa tidur setelah subuh tidak haram, karena tidak ada dalil yang menunjukkan hal itu, paling jauh hukumnya hanyalah sebatas menyelisihi yang utama, karena tidak patut secara adab yang diisyaratkan dalam hadits agar seorang giat diwaktu pagi karena waktu tersebut adalah waktu yang diberkahi. Dan boleh hukumnya tidur setelah subuh jika dalam keadaan mendesak dan  butuh. Wallahu A’lam.

Musa Abu ‘Affaf.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.