Hukum Telat Ganti Hutang Puasa

 

بسم الله والحمد لله والصلاة والسلام على نبينا محمد وعلى أله وصحبه أما بعد

Pertama : Waktu mengganti hutang puasa

Waktu wajib untuk mengganti hutang puasa ramadlan dimulai dari bulan setelahnya secara langsung yaitu syawwal sampai ke bulan sya’ban, dan jika ramdlan berikutnya telah datang maka waktu untuk mengganti puasa sebelumnya terhitung telah habis. Sehingga jika seorang melewati waktu ini namun belum melakukan qadla’ di dalamnya maka dia terhitung telah melalaikan kewajiban pada waktu yang telah ditetapkan pada semestinya kecuali jika ada halangan syar’i.

Dan hal ini telah disepakati oleh mayoritas ulama – kecuali Madzhab Al-Hanafiyyah,-  berdasarkan dengan dalil ketetapan Nabi ﷺ yang disampaikan oleh ‘Aisyah Radliyallahu ‘Anha, beliau berkata:

كان يكون علي الصوم من رمضان فما أستطيع أن أقضي إلا في شعبان

“Saya masih mempunyai kewajiban puasa ramadlan dan saya tidak bisa mengqadla’nya kecuali pada bulan sya’ban.” (Muttafaq ‘Alih)

Al-Hafizh Ibnu Hajar – rahimahullah – menjelaskan;

ويؤخذ من حرصها على ذلك في شعبان أنه لا يجوز تأخير القضاء حتى يدخل رمضان آخر

“Dan diambil (hukum) dari bentuk keseriusannya (Ummulmukminin ‘Aisyah) atas hal tersebut (mengqadla’ puasa) pada bulan sya’ban bahwa sesungguhnya tidak boleh mengakhirkan qadla’ sampai ramadlan lainnya tiba.” (Fathulbari 5/351 cet. Dar Thayyibah).

Kedua : Hukum Telat Qadla’ Karena Kelalaian

Jika seorang tidak melakukan qadla’ puasanya tanpa ada kendala dan halangan yang syar’i sampai akhirnya ramadlan datang lagi, apakah ia terhitung berdosa, dan apakah ia harus membayar denda atau Fidyah atas keteledorannya?

Dalam keadaan seperti ini, yakni seorang tidak mengqadla’ pada waktunya tanpa ada udzur atau halangan yang syar’i, semata hanya karena malas dan menunda-nunda, maka menurut Jumhur (mayoritas) ulama, ia diharuskan mengqadla’ puasanya nanti setelah ramadlan yang telah datang tersebut ia selesaikan dan kemudian membayar fidyah (tebusan) dengan memberi makan orang miskin sebanyak jumlah hari yang ia tidak berpuasa di dalamnya ketika sebelum ramadlan tiba.

Imam al-Syafi’i – rahimahullah – berkata:

وإن فرط وهو يمكنه أن يصوم حتى يأتى رمضان آخر صام الرمضان الذي جاء عليه وقضاهن وكفر عن كل يوم بمد حنطة

“Dan jika ia lalai dan memungkinkan baginya berpuasa sampai ramadlan lainnya datang, ia (tetap wajib) berpuasa ramadlan yang datang atasnya, dan ia (wajib) mengqadla’ puasanya dan membayar kaffarah dari setiap hari dengan satu Mudd gandum.” (Al-Umm 3/260. cet. Darulwafa’ tahun 1422 H. )

Imam al-Nawawi – rahimahullah–  berkata:

فلو أخر القضاء الي رمضان آخر بلا عذر اثم ولزمه صوم رمضان الحاضر ويلزمه بعد ذلك قضاء رمضان الفائت ويلزمه بمجرد دخول رمضان الثاني عن كل يوم من الفائت مد من طعام مع القضاء لما ذكره المصنف نص عليه الشافعي واتفق عليه الاصحاب الا المزني فقال لا تجب الفدية

“Jika ia mengakhirkan qadla’ sampai ramadlan lainnya dengan tanpa ‘udzur, ia berdosa dan ia harus berpuasa ramdlan yang telah datang tersebut, dan wajib baginya setelah itu melakukan qadla’ ramadlan yang luput, dan wajib baginya – dengan sekedar masuknya ramadlan yang kedua – membayar satu mud makanan dan qadla’ dari masing-masing hari yang luput tersebut, berdasarkan dengan apa yang telah disebutkan al-Mushannif  (penulis kitab al-Muhaddzab) , Imam al-Syafi’i telah menyebutkan secara nash masalah ini, dan semua Al-Ashab dalam madzhab al-Syafi’i telah sepakat atasnya kecuali al-Muzani, beliau berpendapat tidak wajib membayar fidyah.” (Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab 7/453. Darulkutub Al-‘Ilmiyyah).

Imam An-Nawawiy – rahimahullah – juga menyebutkan bahwa pendapat ini juga adalah pendapat dari beberapa ulama Salaf , beliau berkata;

قد ذكرنا ان مذهبنا انه يلزمه صوم رمضان الحاضر ثم يقضى الاول ويلزمه عن كل يوم فدية وهى مد من طعام وبهذا قال ابن عباس وابو هريرة وعطاء بن أبي رباح والقاسم بن محمد والزهرى والاوزاعي ومالك والثوري واحمد واسحق

“Dan telah kami sebutkan bahwa madzhab kami adalah ia wajib berpuasa ramadan yang tiba saat itu, kemudian ia mengqadla’ hutang puasa yang pertama (sebelumnya) dan mengharuskannya membayar fidyah dari setiap hari yang ia belum qadla’ pada waktunya, yaitu satu mud makanan, dan inilah pendapat Ibnu ‘Abbas, Abu Hurairah, ‘Atha’ bin Abi Rabah, dan Al-Qasim bin Muhammad, Azzuhri, al-Auza’i, Malik, al-Tsauri, dan Ahmad, dan Ishaq.” (Majmu’ Syarh al-Muhadzzab 7/454. Darulkutub Al-‘Ilmiyyah).

Beberapa Atsar dari shahabat dalam masalah ini telah diisyaratkan oleh Imam al-Bukhariy dalam Shahihnya, dan telah dijelaskan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Fathulbariy (5/349-351 ) dan di antara Atsar tersebut adalah ucapan Abu Hurairah Radliyallahu ‘Anhu;

Dalam Sunan Addaruquthni disebutkan ;

عن مجاهد عن أبى هريرة فيمن فرط فى قضاء رمضان حتى أدركه رمضان آخر قال يصوم هذا مع الناس ويصوم الذى فرط فيه ويطعم لكل يوم مسكينا. إسناد صحيح موقوف

“Dari Mujahid dari Abu Hurairah masalah orang yang lalai mengqadla’ puasa ramadlan sampai ramadlan lain berikutnya tiba, Beliau (Abu Hurairah) berkata: “Ia (wajib) puasa bersama orang-orang, dan mempuasakan puasa yang telah ia lalaikan dan memberi makan orang miskin dari setiap harinya”. Dan Imam Addaraquthniy berkata; Sanad Mauquf  yang Shahih. (Sunan Addaruquthniy No. 2344. Jilid 3/179).

Masalah ini juga dinilai telah disepakati oleh enam tokoh ulama dari kalangan Shahabat dan tidak ditemukan ada pendapat berbeda dari shahabat lain yang menyelisihinya.

Imam Ibnu ‘Abdilbarr – rahimahullah – berkata:

وذكر يحيى بن أكثم أنه وجب في هذه المسألة الإطعام عن ستة من الصحابة لم يعلم لهم منهم مخالفا

“Dan Yahya Ibnu Aktsam telah menyebutkan bahwa (hukum) wajib memberi makan dalam masalah ini berasal dari enam Shahabat Nabi yang tidak diketahui ada dari mereka (para shahabat lainnya) yang menyelisihi mereka (yang berjumlah enam).” (Al-Istidzkar 10/225 Tahqiq  Abdulmu’thi Qal’aji. Ini juga disebutkan Alhafizh Ibnu Hajar dalam Fathulbari 5/349).

komite tetap fatwa dan riset ilmiah (Lajnah Daimah) Saudi Arabia pun sejalan dengan pendapat ini seperti yang nampak dalam fatwa mereka pada ( No. 5081 / jilid 10, vol 2, Hal: 364 cet.Darul Ashimah)

الأيام التي أفطرتها من شهر رمضان 1399هـ ولم تصمها حتى الآن يجب عليك قضاؤها وإطعام مسكين عن كل يوم أفطرته؛ لأنك أخرت القضاء حتى أدركك رمضان آخر وأنت مستطيع

 “Hai-hari yang kamu tidak puasakan pada bulan ramadlan tahun 1399 H. Dan sampai sekarang kamu belum melakukan puasa gantinya, wajib atasmu melakukan qadla’nya dan memberi makan orang miskin dari masing-masing hari yang tidak kamu puasakan tersebut, karena kamu telah mengakhirkan qadla’ sampai ramadlan berikutnya mendatangimu dan kamu dalam keadaan mampu”.

Meskipun ada khilaf dalam masalah ini, namun inilah pendapat yang Rajih, bahwa jika seorang menunda qadla’ hutang puasanya sampai ramadlan berikutnya tiba dan dia belum juga mengqadla’ maka ia berdosa atas kelalaian tersebut dan ia tetap wajib melakukan qadla’ tersebut nanti setelah ramadlan yang datang tersebut, dan wajib membayar fidyah, yaitu memberi makan orang miskin sebanyak jumlah hari hutang puasa yang ia tunda qadla’nya tersebut. Kami menilainya Rajih karena adanya pendapat dari para Salaf dan tidak ada yang menyelisihi pendapat mereka dari kalangan shahabat lainnya.

Wallahu A’lam.

Musa Abu ‘Affaf.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.