Hukum Si Masbuq Dijadikan Imam

Teduh.Or.Id – Ketika seorang Masbuq tengah menyelesaikan Rakaat yang masih tersisa, terkadang datang seorang tiba-tiba menepuk bahu atau pundaknya bermaksud menjadi makmumnya dan agar ia menjadi Imam, Bagaimanakah penjelasan para ulama terkait hal ini?

Bismillah Walhamdulillah ,

Ulama berbeda pendapat dalam hal ini menjadi dua pendapat:

Pertama : Sah hukumnya menjadikan Masbuq sebagai Imam, dan ini adalah pendapat dari Madzhab al-Syafi’iyyah, dan pendapat yang paling dibenarkan dalam Madzhab al-Hanabilah, dan merupakan pilihan dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah.

Pendapat kedua : Tidak sah Masbuq menjadi Imam, dan ini adalah pendapat dari Madzhab al-Hanafiyyah dan Al-Malikiyyah.

(Rincian dalil masing-masing dari kedua pendapat ini tidak kami sebutkan demi mempersingkat, namun bagi yang ingin menelaahnya dipersilahkan membuka link yang telah kami sediakan[1])

Dari kedua pendapat tersebut, Ulama kontemporer pun berbeda pendapat dalam menentukan sikap, ada yang memilih pendapat pertama dan ada pula yg menguatkan pendapat kedua.

Syaikh Ibnu Baz Rahimahullah adalah di antara Ulama besar yang membolehkan Masbuq menjadi Imam[2] sembari menunjuk bahwa yang lebih utama (Afdlal) adalah tidak menjadikannya sebagai Imam, demikian juga dengan Syaikh Ibnu ‘Utsaimin Rahimahullah dimana beliau berkata:

 الأقرب أنه صحيح لكنه خلاف الأولى، وهو إلى البدعة أقرب منه إلى السنة؛ لأن الصحابة رضي الله عنهم ما كانوا يفعلون هذا

“Hukum yang lebih dekat kepada kebenaran adalah boleh si Masbuq menjadi Imam akan tetapi hal itu Khilaful Aula, dan lebih dekat kepada Bid’ah dari pada ke Sunnah, karena para Shahabat Radliyallahu ‘Anhum tidak pernah mereka melakukan hal ini”.

Sedangkan Syaikh Jibrin rahimahullah memilih pendapat yang tidak menganggap sah, demikian juga halnya dengan al-Faqih Syaikh Muhammad Mukhtar al-Syinqithiy.

Syaikh Jibrin Rahimahullah beliau berkata:

المختار عندي أن لا تتخذه إماماً وأن تتركه على انفراده وتصلي وحدك أو مع جماعة أخرى ، وذلك أنه دخل مع الإمام الأول بنية مأموم ثم قام ليصلي ما فاته منفرداً بنية الانفراد ثم هو في نفس الصلاة ممنوع من الكلام ومن مخاطبته ليقلب نفسه إماماً لأن ذلك يشوش عليه

“Yang menjadi pilihan saya, jangan Anda jadikan (si masbuq) sebagai Imam, dan biarkanlah ia lanjutkan shalatnya sendiri, dan Anda silahkan shalat sendiri, atau berjamaah dengan kelompok yang belum berjamaah, karena orang yang Masbuq itu telah masuk ke dalam shalat bersama Imam yang pertama dengan niat sebagai makmum, kemudian ia berdiri untuk shalat melengkapi rakaat yang ia luput secara mandiri dengan niat bersendiri, kamudian ia juga ditengah shalatya dilarang berbicara, dan (orang lain pun) dilarang mengajak dia agar membalik niatnya menjadi Imam, dan sebenarnya hal itu adalah gangguan atas dirinya”.[3]

Demikian, dan selain itu, seorang yang masbuq pada umumnya kadang tidak diketahui status kelayakannya menjadi Imam, sedangkan dalam Qaul Jadid dalam Madzhab al-Syafi’iyyah tidak membenarkan seorang yang pandai baca al-Qur’an bermakmum dengan seorang yang banyak kesalahan fatal dalam membaca al-Qur’an wabilkhususnya surat al-Fatihah.[4] Dan pendapat yang menjadi Madzhab dalam al-Hanabilah ialah tidak sah menjadikan orang fasiq menjadi Imam.[5]

Hal ini menurut kami dapat menjadi penguat untuk tidak mengatakan sah si masbuq dijadikan imam secara Mutlak. Dan dapat menjadi tambahan alasan selain dari yang dipaparkan Syaikh Jibrin Rahimahullah untuk tidak berimam kepada orang yang Masbuq, dan berpegang dengan anjuran meninggalkan apa yang meragukan ketika si Masbuq tidak diketahui keadaannya, antara apakah dia Fasiq ataukah dia tidak bisa membaca al-fatihah dengan bacaan yang dianggap benar.

Apabila suara keras membaca Al-Qur’an saja tidak dibenarkan jika mengganggu orang yang shalat, maka apalagi membuatnya kerepotan karena harus menjadi Imam ditengah-tengah ia sedang shalat, dan sebagian fuqaha berkata:  “Al-Masyghul Laa Yushghal” yang maksudnya bahwa orang yang sedang sibuk sebaiknya jangan dibuat sibuk dengan urusan yang lain. Wallahu A’lam.


 

[1] https://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=201098

[2]  Fatwa Syaikh Bin Baz

[3] Penjelasan ini kami ringkas dari sebuah artikel ilmiyyah berbahasa Arab yang diterbitkan dalam sebuah forum diskusi daring, selengkapnya bisa ditelaah melalui : https://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=201098

[4] Minhajuth-Thalibin (48)

[5] Al-Inshaf (2/178)