Hukum Shalawatan Diiringi Tarian dan Joget

Teduh.Or.Id – Sebagian orang memandang boleh membaca shalawat sambil menari, mereka beralasan hal ini tidak pernah dilarang Nabi ﷺ , dan mereka bersandar dengan hadits:

عن أنس قال: كانت الحبشة يزفنون بين يدي رسول الله صلى الله عليه وسلم ويرقصون ويقولون: محمد عبد صالح، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ” ما يقولون؟ ” قالوا: يقولون: محمد عبد صالح

Dari Anas beliau berkata: sekelompok orang al-Habasyah mereka Yazfinun di hadapan Rasulillah ﷺ dan menari sembari mereka berkata (dengan bahasa mereka): “Muhammad Hamba Yang Shalih”, maka Rasulullah ﷺ bersabda: “Apa yang mereka katakan?”, mereka (para penerjemah bahasa) menjawab : “Mereka berkata: Muhammad hamba yang shalih“.

Ringkasan Takhrij Hadits

Hadits ini dikeluarkan Imam Ahmad dalam al-Musnad No. 12540 dan tim Muhaqqiq atas Musnad Ahmad yang diketuai Syaikh Syua’ib al-Arnauth menghukumi sanadnya Shahih di atas Syarth Muslim. (20/17)

Mereka berkata:

إسناده صحيح على شرط مسلم. وأخرجه ابن حبان (5870) من طريق هدبة بن خالد، عن حماد بن سلمة، بهذا الإسناد. وانظر ما سيأتي برقم (12649) . وفي الباب عن عائشة، سيأتي 6/56. قوله: “يزفنون”، قال السندي: كيضرب، أي: يرقصون بالسلاح

Sanadnya Shahih di atas Syarath Muslim. Dan dikeluarkan oleh Ibnu Hibban (5870) melalui jalur periwayatan Hudbah bin Khalid, dari Hammad bin Salamah, dengan Sanad yang ada dalam hadits ini. Dan adapun kalimat di dalamnya yang berbunyi Yazfinun, al-Sindiy berkata : Seperti kata Yadlribu (memukul), atau yang maknanya : Menari dengan senjata”.[1]

Tarian yang dilakukan oleh kaum al-Habasyah dalam hadits ini adalah suatu gerakan permainan dengan senjata yang mereka bawa sebagai bentuk sambutan atas datangnya Nabi ﷺ ke Madinah, mereka bersuka cita atas itu, hal ini sebagaimana yang disebutkan dalam Hadits lainnya:

عن أنس قال:  لما قدم رسول الله صلى الله عليه وسلم المدينة لعبت الحبشة لقدومه بحرابهم فرحا بذلك

Dari Anas beliau berkata: “Ketika Nabi ﷺ tiba di Madinah, kaum al-Habasyah memainkan senjata mereka sebagai bentuk suka cita mereka dengan (kedatangan) itu”.

Ringkasan Takhrij Hadits

Hadits Riwayat Ahmad No. 12649 (20/91) dan para Muhaqqiqnya menjelaskan:

إسناده صحيح على شرط الشيخين. وأخرجه الضياء في “المختارة” (1781) من طريق عبد الله بن أحمد بن حنبل، عن أبيه، بهذا الإسناد. وهو في “مصنف عبد الرزاق” (19723) ، ومن طريقه أخرجه عبد بن حميد (1239) ، وأبو داود (4923) ، وأبو يعلي (3459) ، والبغوي (3768) ، والضياء (1780) و (1782) . وانظر ما سلف برقم (12540

“Hadits ini Sanadnya Shahih di atas Syarath al-Syaikhain. Dan telah dikeluarkan oleh al-Dliya’ dalam al-Mukhtarah (1781) melalui jalan riwayat Abdullah bin Ahmad bin Hanbal, dari Bapaknya, dengan Sanad ini. Dan hadits ini terdapat dalam Mushannaf Abdurrazzaq (19723) dan melalui jalurnya Abdurrazzaq ini Abdu bin Humaid mengeluarkan periwayatannya (1239) , dan dikeluarkan Abu Dawud (4923), dan Abu Ya’la (3459), dan al-Baghawiy (3768), dan al-Dliya’ (1780 dan 1782)”[2]

Hemat penulis, permainan yang dilakukan oleh kaum Habasyah di hari ini lebih tepat disamakan dengan peragaan atraksi senjata, bukan tarian ala penyanyi seperti pada saat ini. Wallahu A’lam.

Menurut Muhammad ‘Azhim Abadiy rahimahullah senjata yang  digunakan Habasyah dalam tarian tersebut adalah alat perang berupa panah yang kecil[3].

Permainan ini juga pernah dilakukan kaum Habasyah pada moment lain, tepatnya di hari ‘ied sebagaimana disebutkan dalam riwayat:

عن عائشة،  أن الحبشة كانوا يلعبون عند رسول الله صلى الله عليه وسلم في يوم عيد، قالت: فاطلعت من فوق عاتقه، فطأطأ لي رسول الله صلى الله عليه وسلم منكبيه، فجعلت أنظر إليهم من فوق عاتقه حتى شبعت، ثم انصرفت

Dari ‘Aisyah Radliyallahu ‘Anha beliau berkata: “Sesungguhnya kaum Habasyah, mereka bermain di sisi Nabi ﷺ pada hari ‘ied, beliau berkata: “Lalu aku melihat mereka dari atas pundaknya Nabi, Rasulullah ﷺ merendahkan pundaknya untukku, maka aku pun melihat mereka dari atas pundaknya Nabi sampai aku merasa kenyang (puas), kemudian aku pun pergi”.

Hadits riwayat Ahmad No. 24296 (40/338) dan juga No. 24533 (41/80) dan dikeluarkan Bukhari dan Muslim dengan redaksi (Matn) yang berbeda.

Menjelaskan kandungan fiqh hadits ini, Imam Al-Nawawiy rahimahullah berkata;

فيه جواز اللعب بالسلاح ونحوه من آلات الحرب في المسجد ، ويلتحق به ما في معناه من الأسباب المعينة على الجهاد

“Dalamnya (hadits ini) boleh permainan dengan senjata dan semisalnya dari alat-alat perang di dalam masjid, dan dihubungkan kepadanya apa-apa yang ada dalam maknanya dari sebab-sebab yang membantu jihad.”[4]

Penjelasan Imam Annawwiy Rahimahullah ini memperjelas maksud yang ingin dicapai dari permainan kaum Habasyah tersebut, yaitu sebagai bentuk latihan untuk meningkatkan kemampuan dalam menggunakan senjata yang sangat dibutuhkan di medan jihad, bukan sekedar gerakan tarian permainan yang tak memiliki tujuan syar’i.

Al-Hafzih Ibnu Hajar Rahimahullah berkata:

واللعب بالحراب ليس لعبا مجردا، بل فيه تدريب الشجعان على مواقع الحروب والاستعداد للعدو، وقال المهلب: المسجد موضوع لأمر جماعة المسلمين، فما كان من الأعمال يجمع منفعة الدين وأهله، جاز فيه. وفي الحديث جواز النظر إلى اللهو المباح

“Dan permainan dengan senjata bukanlah sekedar permainan begitu saja, akan tetapi di dalamnya ada nilai latihan keberanian dalam beberapa keadaan perang, dan persiapan melawan musuh, al-Muhallab berkata: “Masjid dibangun demi kepentingan urusan segenap kaum muslimin, maka perkara yang termasuk ke dalam amalan-amalan yang menggabungkan manfaat Agama dan pemeluknya, maka boleh dilakukan di dalamnya. Dan dalam hadits ini menunjukkan bolehnya menonton permainan yang hukumnya Mubah,”[5]

Shalawatan disertai gerakan menari dan joget

Sebagian orang menjadikan hadits Habasyah di atas sebagai dalil bolehnya shalawatan disertai dengan gerakan atau tarian, maka hal itu kurang tepat dalam hemat kami, karena beberapa alasan :

Pertama: Hadits Habasyah dengan gabungan semua riwayatnya menjelaskan bahwa jenis permainan atau tarian yang mereka lakukan adalah gerakan penggunaan senjata, atau atraksi pertunjukan gerakan memainkan senjata, bukan tarian dan gerakan joget yang menyerupai perempuan dan orang-orang banci seperti yang kerap dilakukan sebagian orang,

Imam An-Nawawi Rahimahullah berkata:

والرقص ليس بحرام قال الحليمي لكن الرقص الذي فيه تثن وتكسر يشبه أفعال المخنثين حرام على الرجال والنساء

“Dan Menari tidak haram. Al-Hulaimiy berkata : ” akan tetapi tarian yang di dalamnya (gerakan) gemulai dan Takassur (patah lenggak-lenggok) yang serupa dengan gerakan-gerakan orang banci maka haram atas kaum lelaki atau pun perempuan”. [6]

Disebutkan dalam enseklopedi Fiqh yang kesimpulannya :

الرقص مكروه عند الجمهور ، واختار الشافعية إباحته وقيدوها “بِمَا إِذَا لَمْ يَكُنْ فِيهِ تَكَسُّرٌ كَفِعْل الْمُخَنَّثِينَ ؛ وَإِلاَّ حَرُمَ عَلَى الرِّجَال وَالنِّسَاءِ

Raqsh (atau menari) hukumnya Makruh di sisi mayoritas ulama, al-Syafi’iyyah mereka memilih kebolehannya dan namun mereka mensyaratkannya dengan : apabila di dalamnya tidak terdapat Takassur (gerakan patah lenggak-lenggok kemayu) seperti perbuatan orang-orang banci, jika tidak maka diharamkan atas kaum pria dan wanita”.[7]

Kedua: Ucapan kaum Habasyah “Muhammad Hamba Yang Saleh” tidak sama dengan membaca Shalawat kepada Nabi ﷺ , ucapan itu hanya ungkapan pujian. Dari itu tidak ada satu pun ulama dari salaf dan khalaf yang mengatakanya sebagai shalawat, sehingga – hemat penulis – tentu tidak tepat diqiyaskan ke membaca shalawat sambil berjoget ria.

Dan sekiranya sah dikategorikan sebagai shalawat maka tetap hadits Habasyah tidak kuat dijadikan hujjah, sebab shalawat adalah bagian dari dzikir secara umum yang bernilai sebagai ibadah, dan sejak kapankah ibadah itu pelaksanaannya dilakukan dengan cara menari dan berjoget!?

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah berkata:

أن اتخاذ الرقص ذكرا أو عبادة ، بدعة ومعصية ، لم يأمر الله به ، ولا رسوله ، ولا أحد من الأئمة ، أو السلف

“Sesungguhnya menjadikan tarian sebagai dzikir atau ibadah adalah Bid’ah dan Maksiat, Allah tidak pernah memerintahkan dengannya, dan tidak pula Rasul-Nya, dan tidak juga dari satu orang pun dari para Imam-Imam, atau dari Salaf”.[8]

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وأصحابه وأزواحه وسلم تسلميا

Wallahu A’lam.


[1] Musnad Ahmad Cetakan al-Risalah (20/17) yang hadits-haditsnya dianalisa oleh sebuah tim yang diketuai Syaikh Syu’aib al-Arnauth

[2] Musnad Ahmad Cetakan al-Risalah (20/91) yang hadits-haditsnya dianalisa oleh sebuah tim yang diketuai Syaikh Syu’aib al-Arnauth

[3]Aunulma’bud (9/2201) al-Syamilah

[4] Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Hajjaj (6/184)

[5] Fathulbari (1/549)

[6] Raudlah al-Thalibin (11/229) Al-Syamilah

[7] Al-Muasu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah (23/10)

[8] Dinukil dalam al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah (23/10)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.