Hukum Shalat Jum’at Bagi Musafir

Sebagian besar Ulama menetapkan Shalat Jumat tidak wajib atas siapa saja yang musafir. Dasar hukum ini disandarkan kepada hadits ini

عن ابن عمر رضي الله عنهما عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: ليس للمسافر جمعة

Artinya: “Dari Ibnu Umar – Radhiyallahu ‘Anhuma – dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam beliau bersabda; ‘Tidak ada Jum’at bagi musafir’”. [Hr: Ath-Thabrany dalam Mu’jamul Ausath dan dinilai Shahih oleh Al-Bany dalam Shahih Jami’ush Shaghir]

Hukum tidak wajib ini juga yang terlihat jelas dari yang pernah dilakukan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dimana tidak terdapat nukilan dan keterangan bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah Shalat jum’at ketika masih dalam keadaan safar (baca; Musafir). Ibnu Qudamah Rahimahullah menyebutkan hal ini dalam kitab Al-Mughny; “Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam ketika musafir tidak pernah shalat jum’at di tengah perjalanannya, dan konon beliau pernah berada dalam Haji Wada’ di Arafah maka beliau kemudian Shalat Dzuhur dan Asar , beliau menggabung keduanya di Arafah dan tidak mendirikan shalat jum’at”. Selesai.

Demikian juga dengan Khulafaur Rasyidun (Abu Bakr, Umar, Utsman, dan Ali) mereka tidak mendirikan shalat jum’at ketika dalam keadaan musafir dalam rangka menunaikan ibadah haji atau yang lainnya, begitu juga halnya yang diamalkan oleh para Shahabat Nabi dan generasi setelahnya. [Ittihaafu Ahlil ‘Ashr Bi Masaa’ilil Jam’i Wal Qashr]

Hukum tidak wajib juga adalah Madzhab Imam Syafi’I, namun beliau memberikan perincian hukum pada sisi status musafirnya seseorang sebagai penentu wajib atau tidaknya ia menghadiri jum’at,

قال الشَّافِعِيُّ وَإِنْ كان مُسَافِرًا قد أَجْمَعَ مُقَامَ أَرْبَعٍ فَمِثْلُ الْمُقِيمِ وَإِنْ لم يَجْمَعْ مُقَامَ أَرْبَعٍ فَلَا يُحْرَجُ عِنْدِي بِالتَّخَلُّفِ عن الْجُمُعَةِ وَلَهُ أَنْ يَسِيرَ وَلَا يَحْضُرَ الْجُمُعَةَ

Berkata Imam Syafi’I; “dan jika seorang musafir yang telah memastikan Muqim selama empat (hari) maka statusnya sama seperti orang yang Muqim, dan apabila ia tidak bertekad memastikan Muqim selama empat (hari), maka tidak ada pemberatan menurut saya dengan tidak menghadiri jum’at dan boleh untuknya meneruskan perjalanan dan boleh tidak menghadiri jum’at”.

Imam Syafi’I Rahimahullah berpendapat bahwa status musafirnya seseorang akan berakhir setelah empat hari ia menetap di sebuah tempat, setelah empat hari maka statusnya tidak lagi sebagai seorang musafir, namun berubah menjadi Muqim.(baca; berdomisili sementara di suatu wilayah tertentu, Pen.) Sehingga semua hukum yang berkaitan dengan musafir pun secara otomatis tidak berlaku lagi. Inilah yang mendasari pendapat Imam Syafi’I yang kami nukilkan dari Al-Umm di atas. Bahwa seorang musafir yang telah menetap di satu wilayah lebih dari empat hari, maka ia tetap wajib mendirikan shalat jum’at, namun jika kurang dari empat hari, maka tidak wajib ia menghadiri shalat jum’at sebab statusnya sudah tidak lagi sebagai seorang yang Muqim.

Musa Abu Affaf.