Hukum Shalat Jamaah Kedua Di Masjid Resmi (Madzhab al-Syafi’iyyah)

Mendirikan shalat jama’ah kedua – di masjid resmi yang bukan masjid umum pinggir jalan – setelah shalat jama’ah resmi yang pertama dilaksanakan di masjid tersebut, hukumnya Makruh, karena hal itu dapat mengakibatkan perpecahan di antara kaum muslimin,

Al-‘Allamah Al-Mawardi al-Syafi’i – rahimahullah – berkata;


فصل : وإذا أقيمت الصلاة جماعة في مسجد ، ثم دخله قوم لم يدركوا الجماعة فأرادوا أن يصلوا فيه تلك الصلاة جماعة كرهنا ذلك إذا كان للمسجد مؤذن ثابت وإمام منتدب قد رسم لصلاة الجمعة فيه ، لأن ذلك يؤدي إلى اختلاف ، وتفريق الجماعة ، وتشتت الكلمة ، فأما إذا كان المسجد بظهر طريق تصلي فيه المارة ، والمجتازون فلا يأمن أن يصلي فيه صلاة الجماعة مرارا ، لأن العادة جارية به ، والله تعالى أعلم

“Apabila shalat jama’ah di masjid telah dilaksanakan kemudian sekelompok orang memasukinya walhal mereka tidak mendapatkan shalat jamaah tersebut, maka kemudian mereka berkehendak melaksaakan shalat yang sama tersebut dengan berjamaah di masjid itu, kami menghukumi itu Makruh apabila masjid itu memiliki muadzin yang tetap, dan imam resmi untuk mendirikan shalat jum’at di dalamnya.

Karena hal itu akan mengakibatkan kepada perselisihan dan pemecah belah kebersamaan dan tercerai-berainya kalimat (persatuan).

Maka adapun bila masjid itu adalah masjid yang terletak jelas di pinggir jalan di mana orang-orang yang melintas dan orang lewat shalat di situ, maka tidak bisa terhindarkan (tidak makruh) shalat jamaah dilakukan di situ secara berkali-kali, karena hukum adat kebiasaan menjadi berlaku dengannya. Wallahu A’lam.”  (Al-Hawiy Lil Mawardi 2/303)

Jadi kesimpulan yang dapat dipetik dari penjelasan Al-Mawardiy rahimahullah adalah ;

  • Masjid resmi dengan petugas ibadah yang resmi = maka shalat jamaah kedua hukumnya makruh.

Dan Makruh disini menurut Imam Al-Mawardi adalah makruh yang terbentuk atau terhasil oleh sebab lain, bukan disebabkan oleh mendirikan shalat jamaah kedua itu sendiri, melainkan karena hal lain, yaitu dampak menimbulkan perpecahan di antara kaum muslimin. dari itulah kemudian hukumnya berbeda dengan masjid yang diduga kuat dampak tersebut tidak akan terjadi di dalamnya, seperti perpecahan dan sengketa bila shalat jamaah kedua dilakukan berulang-ulang.

Dari itu, lihatlah sebab terjadinya hukum makruh ini pada setiap masjid, jika ada maka hukum makruh berlaku padanya, jika tidak maka tidak berlaku hukum makruh itu walau pun masjid tersebut adalah masjid resmi. Wallahu A’lam.

  • Masjid pinggir jalan atau masjid yang lalu lalang orang di situ tidak bisa dihindari = maka shalat jamaah kedua di sini tidak makruh dengan sebab yang telah disebutkan di atas.

Musa Abu ‘Affaf.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.