Hukum Shalat Di Masjid Yang Ada Kuburannya

Mencari masjid yang tidak ada kuburannya adalah satu penomena ditengah sebagian masyrakat. Adanya pendapat yang menyatakan tidak bolehnya mendirikan Shalat di masjid yang ada kuburannya secara mutlak, nampaknya adalah pendorong terkuat atas munculnya penomena ini.

Lalu bagaimanakah sebenarnya duduk perkaranya? Benarkah tidak boleh shalat di setiap masjid yang ada kuburan di depan atau bagian samping masjid?

Berikut ini kami ketengahkan satu fatwa yang telah kami alih bahasakan dari sebuah situs fatwa berbahasa Arab. dan semoga memberi manfaat untuk kita semua.

 Pertanyaan:

Kami adalah para pegawai di sebuah perusahaan yang terletak  di Shahra’ (sebuah gurun pasir). Dan kota yang paling dekat dengan perusahaan  tempat kami bekerja sejauh 3 km. Di situ ada satu masjid namun terdapat kuburan di depan kiblatnya. Apakah boleh sholat di masjid tersebut atau tidak? Mohon faidah (ilmu) kepada kami dan semoga Allah memberikan faidah kepada kalian.

Jawaban: Alhamdulillah.

Apabila masjid itu dibangun dengan tujuan untuk kuburan, maka tidak diperbolehkan atau tidak disyariatkan shalat di masjid tersebut. Karena hal ini merupakan jenis perbuatan yang dilakukan orang-orang Yahudi dan Nashrani yang telah mengagungkan kuburan dan membangun tempat-tempat untuk ibadah di atas kuburan.

Namun jika tidak demikian, yaitu tujuan masjid tersebut dibangun bukan karena hal di atas (dibangun dengan tujuan pengagungan terhadap kuburan tersebut. pen) maka tidak mengapa shalat di masjid tersebut.

Dalam hal ini sebagian ulama memberikan syarat, (sehingga boleh shalat di dalam masjid tersebut.pen), Syaratnya ialah (harus ada) antara tembok masjid dan kuburan berupa penghalang , pembatas, atau jarak yang memisahkan antara keduanya.

قال شيخ الإسلام ابن تيمية رحمه الله

وذكر الآمدي وغيره: أنه لا تجوز الصلاة فيه – أي المسجد الذي قبلته إلى القبر – حتى يكون بين الحائط وبين المقبرة حائل آخر, وذكر بعضهم هذا منصوص أحمد.

(المستدرك على مجموع الفتاوى ٣\٧٥ )

 

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata:

Al – Amidy dan yang lainnya menyebutkan, sebenarnya tidak boleh shalat di dalamnya – yakni masjid yang kiblatnya menghadap ke kuburan – sampai terdapat penghalang lain antara tembok masjid dengan kuburan. Dan sebagian ulama menyebutkan, (pendapat) ini merupakan pendapat yang telah dinaskahkan (Manshuh) dari Imam Ahmad. [Al-Mustadrok ‘Ala Majmu’ Al Fatawa: 3/75]

 

:وفي الدرر السنية في الأجوبة النجدية (٤\٢٦٥)

 وأجاب الشيخ محمد بن الشيخ عبد اللطيف بن عبد الرحمن والشيخ سليمان بن سحمان : مسجد الطائف الذي في شقه الشمالي قبر ابن عباس رضي الله عنهما : الصلاة في المسجد : إذا جُعل بين القبر وبين المسجد جدار يرفع يُخرج القبر عن مسمى المسجد : فلا تكره الصلاة فيه انتهى

 

Dan di dalam kitab Ad-Durarussaniyyah Fil Ajwibatin Najdiyyah (4/265):

“As-Syaikh Muhammad bin Syaikh Abdul Lathif bin Abdir Rahman dan Syaikh Sulaiman bin Sahman pernah menjawab (satu pertanyaan): “Masjid Tha’if yang terdapat padanya kuburan seorang Shahabat, yaitu Abdullah Ibnu Abbas Radhiyallahu’anhuma yang terletak di sisi timur masjid, Apabila terdapat pemisah antara kuburan dengan masjid  berupa sebuah tembok yang ditinggikan yang dapat mengeluarkan kuburan itu dari sebutan (sebagai) masjid, maka tidak dibenci shalat di dalamnya.” Selesai.

Sebagian ulama lainnya memberikan syarat, (yaitu) ditinggikannya tembok masjid sekira-kira  (sebatas ) kuburan tersebut tidak dapat dilihat dari arah orang-orang yang Shalat.

Berkata Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin –Semoga Allah merahmati beliau.- “Apabila ada seorang shalat di sebuah masjid yang di depannya terdapat sebuah kuburan, apabila di sana ada pembatas atau penghalang seperti tembok yang tinggi sehingga jamaah shalat tidak bisa melihat ke kuburan tersebut, maka hukum shalat di tempat ini diperbolehkan. Akan tetapi apabila langsung tanpa adanya tembok yang tinggi atau pembatas dan bisa dilihat oleh jamaah shalat, maka tidak diperbolehkan shalat di masjid ini sebagaimana Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “ Janganlah kalian shalat menghadap kuburan dan duduk di atas kuburan.” (HR. Muslim). Selesai.

Dari penjelasan di atas kita dapat menarik sebuah kesimpulan bahwa meninggikan tembok atau adanya pembatas antara masjid dan kuburan bukan merupakan sebuah keharusan, namun apabila hal itu ada maka lebih utama dan lebih baik. Oleh karena itu cukup pemisah antara masjid dengan kuburan sebuah tembok saja yang memisahkan keduanya.

Dan termasuk menjadi syarat juga dalam hal ini, yaitu masjid itu hendaknya dibangun bukan karena kuburan. Jika memang seperti ini adanya maka barulah shalat di masjid tersebut menjadi boleh.

 

Komite Tetap Fatwa Saudi Arabia pernah ditanya: “Di sebagian masjid masjid yang ada, dan lokasi yang telah disiapkan untuk shalat dua hari raya dan shalat Istisqa’, didirikan di atas kuburan, (gambarannya) sekira kira kuburan itu terletak di arah kiblat masjid, tidak ada yang memisahkan kuburan itu dengan masjid kecuali hanya (pembatas sepanjang) beberapa meter saja. Dan sebagian masjid lainnya menempel dengan kuburan, dan sebagian lokasi lainnya yang telah digunakan untuk shalat dua hari raya dan shalat Istisqa’ di kelilingi dengan tembok yang memisahkan lokasi tersebut dari kuburan, dan sebagian lagi tanpa tembok yang memisahkannya dari kuburan, bagaimanakah hukumnya?

Mereka menjawab: “Apabila masjid ini tidak dibangun dan – demikian pula dengan – lokasi yang digunakan untuk shalat  dua hari raya dan Istisqa’ yang berdekatan dengan kuburan, (tidak dibangun) dengan tujuan pemuliaan untuk orang yang dikuburkan di dalamnya, atau (tidak dibangun) karena keinginan mendapatkan tambahan pahala dan ganjaran karena shalat di tempat itu karena (letaknya yang) berdekatan dengan kuburan tersebut, maka membangun (masjid itu) dan menggunakannya untuk shalat dan bertaqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah menjadi boleh dilakukan di dalamnya, dan shalat di dalamnya pun dianjurkan, dan memakmurkannya dengan shalat dan dengan seluruh bentuk Taqarrub lainnya yang pada asal keadaan hukumnya memang agar dilakukan di dalam masjid, maka (semua itu) dianjurkan padanya secara Syar’i.

Dan kuburan yang dikelilingi dengan tembok yang memisahkannya dari masjid, maka itu sudah cukup bagi kalian sebagai pembiayaan (memisahkan antara masjid dan kuburan).

Dan kuburan yang belum di kelilingi dengan tembok; maka (hendaknya) dibuatkan tembok yang akan memisahkannya dari masjid dan lokasi shalat Ied dan Istisqa’. Dan apabila tidak mempersulit, (hendaknya) dibuatkan ruang kosong antara tembok masjid, lokasi shalat Ied dan Istisqa’ dengan tembok kuburan, hal ini lebih Ahwath (berhati-hati).

Adapun jika pembuatan masjid tersebut disekitar kuburan bertujuan karena mengagungkan kuburan itu; maka tidak boleh shalat di dalamnya, dan wajib merobohkannya, sebab pendiriannya atas pola seperti yang disebutkan adalah bagian dari penghantar kepada kesyirikan dengan penghuni kubur itu.

Dan sebenarnya telah Shahih (Haditsnya) dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bahwa beliau pernah bersabda: “Kalian jangan shalat menghadap kuburan dan janganlah kalian duduk di atasnya.”, dan telah Shahih juga dari Nabi, beliau pernah bersabda: “Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian mereka menjadikan kuburan para Nabi mereka dan (kuburan) orang –orang saleh di antara mereka sebagai masjid, maka kalian janganlah menjadikan kuburan sebagai masjid, karena sesungguhnya aku melarang kalian dari hal itu.” Kedua hadits ini telah diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahihnya, sedangkan hadits-hadits lainnya dalam (pembahasan) bab ini sudah tidak lagi samar.”

[Oleh Syaikh Abdul Aziz bin Baz, Syaikh Abdurrozaq Afifi, Syaikh Abdullah bin Ghodian, dan Syaikh Abdullah bin Qu’ud.

Majalah Al Buhuts 15/78/79]

 

Dari Fatwa ini maka menjadi jelas, bahwa shalat di masjid yang ada kuburannya tidaklah dilarang secara mutlak, namun menjadi boleh hukumnya selama syarat syaratnya terpenuhi, dan syarat yang paling utama dari yang telah disebutkan di dalam fatwa tersebut adalah; memastikan bahwa masjid itu tidak dibangun atas dasar tujuan demi memuliakan isi kuburan tersebut dan tidak juga karena motivasi membangunnya mencari keutamaan dengan membangun masjid di kuburan tersebut.

Oleh sebab itu, hendaklah berhati – hati menghukumi akan Haramnya mendirikan shalat di setiap masjid yang didapati ada kuburannya, sebab belum tentu masjid tersebut dibangun atas dasar tujuan yang telah disebutkan sebelumnya, terlebih kuburan tersebut pada umumnya telah terhalang oleh tembok masjid sehingga tidak nampak sama sekali dari pandangan orang orang yang shalat.

Alih Bahasa : Hanif [Mahasiswa LIPIA]

Penyunting : Abu Affaf