Hukum Shalat Di Atas Area Sepiteng

Sepiteng, tentu saja maksudnya di sini adalah lubang galian tempat berkumpulnya limbah yang berasal dari wc atau kamar mandi. Sepiteng modern dalam bentuk yang kita ketahui saat ini – sebatas yang penulis ketahui – belum ada pada zaman Nabi – shallallahu ‘alaihi wasallam – atau generasi salaf, dari itu tidak disebutkan adanya larangan shalat di atas sepitang secara menohok dan khusus dalam hadits.

Namun di satu sisi memang terdapat larangan mendirikan shalat di beberapa area tertentu seperti misalnya Al-Hammam yaitu tempat mandi, dalam hadits disebutkan;

الأرض كلها مسجد إلا الحمام والمقبرة

“Bumi keseluruhannya adalah tempat shalat (masjid) kecuali Al-Hammam (tempat mandi) dan kuburan.” (Hadits Shahih diriwayat Abu Dawud dan Ibnu Hibban)

Dan fuqaha’ dalam empat madzhab berbeda pendapat atas hukum shalat di dalam kamar mandi, di mana madzhab Al-Malikiyyah, Al-Syafi’iyyah, dan satu riwayat dalam madzhab Al-Hanabilah , mereka menilai bahwa shalat di dalam kamar mandi hukumnya sah, selama dapat dipastikan secara jelas tidak ada najis disitu.

Dan hukum ini pun dihitung sama dengan bagian atasnya kamar mandi, dengan alasan bahwa ruang udara hukumnya mengikuti hukum pondasinya, maka dengan begitu hukumnya pun menjadi berlaku sama, dan secara penamaan dan sebutan, bagian atas kamar mandi adalah bagian yang sudah termasuk ke dalam nama kamar mandi itu sendiri. (Lihat Al-Mausu’atul Fiqhiyyah Alkuwaitiyyah 17/160-161)

lalu bagaimana dengan hukum shalat di atas sepiteng? Tidakkah ini sama hukumnya dengan masalah shalat di atas kamar mandi?

Shalat di atas jamban atau sepiteng sah, tentunya dengan syarat-syarat yang disebutkan sebelumnya yakni area tersebut suci dari najis, bagian atas sepiteng adalah area yang terpisah dan tidak menginduk ke sepiteng, dan yang dilihat adalah bagian yang nampak atau zhahir dari suatu area, bukan bagian bawahnya.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah – berkata;

 والدليل على أنها صحيحة: عموم قوله صلى الله عليه وسلم: جعلت لي الأرض مسجدا وطهورا ، وبناء على ذلك فإن الصلاة على البيارة والبلاعة لا بأس بها؛ لأنها أقل من سطح الحش، فإن سطح الحش قد يقول قائل: إنه داخل في اسم الحش؛ فلا تصح الصلاة فيه، أما سطح البيارة فليس تابعا لها، بل هو مستقل، وهذا هو الذي عليه عمل الناس، فإن البيارات أو أنابيب المجاري الوسخة تمر من الأحواش ويصلي الناس عليها

“Dan dalil atas sahnya shalat di atas Husy (jamban) adalah keumuman sabda Nabi – shallallahu ‘alaihi wasallam – yang berbunyi ; “Bumi telah dijadikan suci dan sebagai tempat shalat untukku.” , maka berdasar atas hal itu, maka sesungguhnya shalat di atas al-Bayyar, atau Al-Balla’ah, tidak mengapa, karena al-Bayyarah itu lebih ringan dari pada bagian atasnya al-Husy (jamban). Karena bagian atas Al-Husy orang masih bisa mengatakan; ‘sebenarnya ia termasuk ke dalam nama Al-Husy, maka shalat tidak sah di situ,’ maka ada pun bagian atasnya al-Bayyarah maka ia tidak mengikut dengan dasar Al-Bayyarah tersebut, akan tetapi ia adalah bagian yang tersendiri, dan inilah yang dilakukan oleh orang-orang, dan Al-Bayyarat atau tabung tempat mengalirnya kotoran yang mengalir dari Ahasy (jamban-jamban) namun orang-orang shalat di atasnya.” (al-Syarhul Mumti’ ‘Ala Zadil Mustaqni’  2/250 cet. Dar Ibnuljauzi)

Dalam fatwa lainnya beliau menegaskan;

والصلاة فوق سطح مجامع الفضلات النجسة لا بأس بها أيضاً لدخولها في عموم قوله صلى الله عليه وسلم: جُعلت لي الأرض مسجداً وطهوراً

“Dan shalat di bagian atas tempat kumpulan sisa-sisa najis (sepiteng) juga tidak masalah dengannya, karena hal itu termasuk ke dalam keumuman sabda nabi – shallallahu ‘alaihi wasallam – yang berbunyi ; “Bumi telah dijadikan suci dan sebagai tempat shalat untukku.”. (Fahd bin Nashir / Majmu’ Fatawa Wa Rasa’il Ibnu ‘Utsaimin 12/379 cet. Dar al-Tsurayya)

Syaikh Abdulaziz bin Baz rahimahullah pernah ditanyakan kepada beliau masalah ini, dan beliau berkata;

لا حرج في ذلك على الصحيح سطوح البيارات وأشباهها والحشوش والطرقات، كل صروحها يصلى فيها ولا حرج، ما دامت طاهرة من حيث الظاهر، أما ما تحتها فلا ينظر إليه، العبرة بالظاهر

“Tidak ada masalah dalam hal itu atas pendapat yang paling shahih, bagian atas sepiteng dan semisalnya, dan bagian atas jamban-jamban dan got-got, semua bagian atasnya boleh shalat di atasnya dan tidak ada masalah, selama bagian atas tersebut suci secara zhahir, adapun bagian yang ada di bawahnya maka tidak diperhitungkan, yang menjadi pertimbangan adalah zhahirnya.”[1]

Kesimpulannya adalah boleh seorang shalat di atas area yang di bawahnya terdapat sepiteng. Wallahu A’lam

Musa Abu ‘Affaf, BA. Waffaqahullah

—-

[1] Web Fatwa Syaik Bin Baz

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.